Five Days Or Die

Five Days Or Die
Chapter 23


__ADS_3

Ranti mengakhiri ceritanya dan memasang auto pilot, menuju time hole terdekat. Dia segera bergabung dengan yang lain, dia tengah pesawat itu. Pesawat itu cukup luas jika hanya untuk orang 7 disana.


“Ya! Beruntung sekali aku memiliki teman teman yang genius di saat seperti ini!” kata Dani, sambil tertawa. Dan mereka semua pun tertawa bersama.


***


“Sial! Aku tidak bisa bergerak! Zirah ini terlalu berat di atas! Aku harus menunggu lengan kiriku pulih. Tak kusangka mereka semua cukup pintar. Tapi yang terpenting, kini time key bersamaku. Aku bisa melanjutkan rencana ku tanpa adanya mereka!” Rickzan berteriak kesal, tapi dia mencoba menghibur dirinya sendiri.


“Sedikit lagi dan aku akan mewujudkannya!” katanya. Tak lama, lengan kirinya pulih beserta dengan baju zirahnya. Dia pun berdiri.


“Nah, begini lebih baik.” Rickzan berdiri, mengubah semua ciptaannya menjadi kecil, cukup kecil untuk dibawa masuk bersama time hole. Lebih mirip seperti mainan pesawat. Tetapi ukurannya sedikit lebih besar.


Dia segera mengangkatnya, menggunakan kemampuan kemagnetannya, dia mampu mengangkat semuanya tanpa kesulitan sedikit pun! Dia segera berjalan pelan di sekitar time hole.


Hari mulai gelap, tetapi itu semua tidak menyurutkan niat Rickzan untuk menyelesaikan rencanyanya. Dia mengitari time hole, dan menimang nimang kunci waktu palsu.


“Siapa sangka benda seperti ini akan menjadi sangat penting?” tanya Rickzan dengan tersenyum. Tetap tidak terlihat, karena dia menggunakan zirah dengan penutup wajah seperti samurai. Dia mengangkat time key itu tinggi tinggi.


“Aku lah yang akan menjadi penguasa dunia mulai dari sekarang! Teriaknya segera menncapkan time key ketempatnya. Seketika, retakan retakan biru yang indah terjadi. Nampaknya berhasil. Tapi, seketika itu semua berhenti, dan berubah hitungan mundur. Tepat di hitungan ke satu.


“APA!?” teriak Rickzan parau. Dan boom! Tempat itu meledak bagaikan terjadi perang dunia. Ledakannnya sampai terdengar hingga pesawat Ahmad dan kawan kawan.


“Apa itu?” tanya Dani yang langsung berdiri, mengecek keadaan.


“Sepertinya, dia sudah “booming” kawan kawan!” jawab Ahmad, yang berdiri, melihat asap hitam dengan petir biru yang menyambar nyambar.


“Sudah kuduga,” jawab Nadin sambil menyentuhkan kepalan tangannya pada kakaknya.


“Kan aku sudah bilang akan membalasmu, Rickzan!” kata Nadin lagi.


“Biarlah itu balasannya, jika kalian terlalu tamak dan sombong!” sahut Amy, memandang asap hitam yang membumbung tinggi ditengah sore yang indah itu. Di sisi lain, Arby tampak sedih.


“Kenapa denganmu?” tanya Amy.


“Walaupun dia musuh kita, dia tetap murid terbaikku. Dan jika dia melakukan kesalahan, maka yang patut disalahkan adalah aku, gurunya.” Arby menunduk.

__ADS_1


“Tak apa ayah! Kau masih punya murid terbaik, yang sebetulnya bisa mengalahkan kepintarannya! Sedangkan, itu kesalahannya karena memilih jalan yang salah,” kata Nadin menghibur ayahnya.


Mereka segera menuju tempat time hole lain yang terdekat, dimana akhirnya mereka bisa pulang, bertemu dengan orang dan tempat yang mereka sayangi.


***


“Dasar bocah sialan! Berani beraninya dia melakukan ini padaku. Jika ini time key palsu, maka dia masih membawa yang asli dan dia pasti membutuhkan pesawat itu untuk menuju kesana! Terkutuk kau Nadin! Terkutuk kau!” teriaknya ditengah hari yang semakin gelap. Dia segera membuka pesawat cadangannya, yang tidak ikut hancur dalam ledakan besar itu. Zirahnya rusak, menyisakan bagian bawah dan sebagian lengan kiri.


“Kau pikir bisa dengan mudah menghentikanku?” katanya dengan penuh amarah. Pesawat yang tadinya kecil, berubah membesar. Tapi tak sebesar pesawat yang dia buat selama ini.


“Kalian mau menembakku ha? Kuberi kau satu hal yang tidak dapat ditembus apapun!” Rickzan dengan penuh dendam, ingin segera membalasakannya pada mereka semua.


“Jika aku tinggal, maka kalian tinggal!” teriaknya menarik beberapa tuas.


“Semuanya yang aku buat, kau hancurkan,”


“Semua rencanaku gagal ahhh!” katanya mengobrak abrik isi pesawatnya.


“Aku akan datang, menghancurkan kalian semua! Ha ha!” katanya sambil melaju dengan cepat. Dia membuka pemindai di pesawatnya, mencari pesawat yang dikendarai mantan gurunya itu. Kini, tidak ada lagi rencana di otak Rickzan, hanya balas dendam yang ingin dia lakukan.


***


Malam kelima, menjadi malam terakhir mereka untuk pulang, atau harus disini selamanya. Mereka semua lebih memilih yang kemungkinan yang pertama, dimana mereka pulang kembali ke zaman mereka, dan menjalani kehidupan seperti semula.


“Tak kusangka dia akan berakhir seperti itu,” kata Ahmad pada teman temannya.


“Siapa?” tanya Dani.


“Astaga! Rickzan! Siapa lagi?” Ahmad menepuk jidat.


“Oohh, kirain. Ya mau bagaimana lagi. Itulah hidup. Siapa yang kuat dia yang bertahan!” jawab Dani. Semuanya mengangguk.


“Dia sebenarnya hanya mencari jati dirinya. Tapi, rasa ingin balas dendam telah menutupi jati dirinya yang sebenarnya. Aku pernah bersamanya, dia memiliki ambisi yang tinggii, juga ego yang tinggi. Itulah kenapa dia bisa menjadi seperti sekarang. Selama ada perasaan balas dendam, maka perasaan itu akan membuat Rickzan-Rickzan selanjutnya.” jawab Arby sambil sedikit mengingat ingat.


“Seberapa jauh kita dari time hole?” taanya Nadin pada Ranti.

__ADS_1


“Kira kira, 2 jam lagi.” Ranti menjaab setelah melihat kemudi. Mode auto pilot ini berjalan dengan kecepatan standar, tidak terlalu cepat yang membuat pesawat itu tenang.


“Aku mau tidur dulu saja!” ucap Dani. Semua yang ada disana tertawa.


“Kamu dimanapun bisa tidur ya?” tanya Ahmad.


“Why not?” Dani segera tidur. Dan kini, keadaan menjadi sepi ketika Nadin menuju kokpit menanyakan akan beberapa hal kepada Ranti. Tinggal Ahmad dan kedua orang tuanya yang tersisa.


“Ahmad, dengarkan kami. Kami ingin menyerahkan rekaman ini. Kalau kalau terjadi hal hal yang tidak diinginkan, kami ingin kamu memberikannya pada Nadin setelah kalian kembali ke masa depan,” kata Amy, menyerahkan ipad yang terlihat sudah usang, tapi masih bisa dihidupkan.


“Apa maksud kalian? Aku ingin kalian memberikannya pada Nadin sendiri, bukan melauiku. Jadi, berikanlah setelah kita sampai di rumah!” kata Ahmad, mengembalikan ipad itu pada pemiliknya.


“Tapi Ahmad..”


“Ssstt! Rickzan sudah pergi, kita sudah tenang sekarang. Jadi, ibu tidak perlu khawatir ya!” kata Ahmad yakin. Kedua orang tuanya hanya diam.


Satu jam berlalu yang terasa seperti berabad abad bagi mereka semua. Dan juga, pesawat itu telah membawa mereka semua jauh dari tempat awal.


“Kurang berapa sih?” tanya Dani yang sudah bangun.


“Kau baru saja bangun tapi sudah menanyakan hal itu berulang kali tahuuu!” kata Ranti.


“Ya maklumin saja lahh. Aku kangen sama kamarku. Kasian dia sendirian disana. Membayangkannya sendirian disana. Ha ha!” kata Dani sambil sedikit bercanda.


“Kecepatan maksimal auto pilot memang seperti ini!”


“Kalau begitu, terbangkan manual!” kata Dani setengah berteriak.


“Capek tahuuuuu! Kamu aja sinii terbangin nih benda daripada tidur teruuus! Nerbangin benda ini butuh tenaga extra!” kata Ranti.


“Kalau tujuan kita bertahan hidup, lebih baik tidak usah.” Dani tertawa. Tapi sesaat kemudian, muncul sebuah peringatan. “Bahaya. Bahaya!” dan tiba tiba, ada yang menembak pesawat mereka.


“Apa?! Siapa?” tanya Ahmad kaget. Semua orang segera melongok ke belakang, kecuali Ranti yang segera menuju kokpit.


“Ha ha! Aku kembali dan akan menghancurkan kalian semua. Takutlah! Menangis lah! Hidung diganti hidung, mata diganti mata! Kalian sudah menghancurkan rencanaku, maka akulah yang akan menghancurkan kalian!” Rickzan, dengan mata berkilat kilat penuh amarah mulai menembaki pesawat Ahmad.

__ADS_1


__ADS_2