
Point of View: Ranti
Siap siap berangkat. Aku bersiap berangkat untuk kuliah. Aku mengambil jurusan teknologi rekayasa. Aku selalu semangat berangkat setiap pagi, walaupun jauh dari keluarga. Selain itu, di kampusku aku dikenal sebagai orang yang selalu ceria. Mau bagaimana lagi, memang beginilah aku. Selain itu, ada yang membuat semangatku lebih untuk berangkat.
“Berangkat lagi. Kampus lagi. Semoga bisa ketemu kak Ahmad. Huh! Semua sudah. Hari baru, aku datang!”
Sampai di kampus, aku segera membayar ojek yng mengantarku dari rumah. Aku bukanlah orang kaya yang bisa pergi hanya menggunakan jam teleportasi. Itu sebabnya aku memilih menggunakan ojek yang lumayan cepat. Dengan segera, aku menuju kantin, tempatku melakukan “ritual” ku. Tapi, di teras kampus aku melihat ada kak Ahmad yang sedang berlari. Ingin aku memanggilnya. Tapi namapaknya dia sedang terburu-buru. Aku melihatnya berlari ke arah ruang dosen. Sedangkan dari sisi lain aku melihat ibu kantin yang sedang berjalan kea rah yang berlawanan.
“Ahma…” teriakanku terpotong karena melihatnya sudah terlebih dahulu menabrak tembok. Kukira tadi dia akan menabrak bu kantin. Melihat itu, aku sedikit tertawa. Aku melihat banyak map yang terjatuh gara gara tabrakan itu. Tak urung aku segera bergerk untuk membantu. Namun kak Ahmad sudah berlari.
“Huh! Tadi seharusnya aku lebih cepat. Paling tidak bisa bertemu kak Ahmad. Atau mungkin bisa ngobrol. Tapi kalau ngobrol kelihatannya gak mungkin. Dia lagi buru buru tuhhh.” Pikiran bodohku mulai keluar.
Aku tertawa sedikit, dan segera melanjutkan ke kantin. Sebelum aku ke kantin, tiba tiba aku perlu ke kamar mandi.
"Haaah! Nganggu ritual aja dehh.” Kataku dalam hati. Segera aku pergi ke kamar mandi. Seperti biasa, online selalu kulakukan. Sesudah dari sana, aku berniat untuk segera pergi ke kantin. Di kantin, aku melihat kak Ahmad sedang duduk. Aku lihat wajahnya agak kesal.
“Wah pas banget. Baru aja dipikirin, dia udah ada.” Kataku pelan. Dia juga melihatku. Tak urung aku segera mendekatinya dan duduk di sebelahnya. Tanpa bertanya sebenarnya aku sudah tahu apa yang terjadi dengannya.
“Tugasmu sudah jadi?” Tanyaku padanya. Wajahnya sudah mulai santai. Mungkin kedatanganku menenangkannya. Weiizzz! Lagi lagi pikiran ini keluar! Makiku pada diriku sendiri dalam hati.
“Gimana ya, aku dilema. Mau maju susah mau mudur juga susah.”
__ADS_1
“Kenapa?” tanyaku mulai duduk di sebelahnya.
“Kepo.” aku bingung, kaget. Sepertinya aku pernah tahu orang yang memiliki gaya bicara seperti itu dan gaya seperti itu. Aku hanya menjawab asal.
“Ih aneh banget,” kataku asal.
“Ya memang aku menirunya dari adikku.” Katanya sambil mengulangi gayanya yang tadi. Aku tertawa. Aku melihat dosenku, Pak Rudi yahh sekaligus dosennya juga sihh, sedang berjalan. Aku tahu, Ahmad juga melihatnya. Dia segera pamit padaku.
“Yahhh. Padahal kan aku masih mau lebih lama dengan dia.” batinku. Aku hanya mengiyakan.
“Eh Ranti!” teriak Ahmad memanggilku ketika aku ingin melanjutkan ritualku. Bertemu kak Ahmad membuatku melupakannya. Aku ingin melangkah ketika tiba tiba kak Ahmad memanggilku.
“Oke. Jam berapa?” jawabku selesai melamun.
“Jam 10 pagi saja. Oke. Thanks, bye” dia segera berlari karena melihat Pak Rudi yang sudah lewat.
“Benarkah ini? Aku diajak sama kak Ahmad ke rumahnya? Heuhhh. Apakah ini mimpi?” tanyaku sambil mencubit tanganku. Sakit, berarti ini bukan mimpi. Ini kesempatanku.
Seketika aku menjadi ingat dengan gaya bicara dan gaya Ahmad. Aku berusaha mengingat ingat. Tetap aku tidak bisa mengingat apapun. Aku melupakannya dan segera membeli minum. Aku menganbil perangkat headset ku. Ketika aku mengambil, aku teringat sesuatu.
“Oh ya! Kan gaya itu gaya orang yang waktu itu.” Kataku setengah berteriak. Aku kembali mengingat kejadian kecil yang masih samar samar ku ingat. Saat itu, aku sedang berjalan dan tanpa sengaja aku menjatuhkan buku (yaa, sebenarnya batangan besi sihh), dan besi logam itu rusak. Padahal harga dari logam itu sangatlah mahal.
__ADS_1
Mungkin karena iba denganku, ada seorang cewek yang menghampiriku. Umurnya sekitar 13 tahun. Aku sangat yakin dia umur segitu karena aku melihat seragamnya sekilas. Dia menggunakan jaket warna biru gelap, dengan rambut panjang. Namun sayang, aku tidak melihat wajahnya dengan jelas.
Dia bekerja dengan sangat cepat, seperti sudah terbiasa memegang hal hal sepeerti ini. Jujur saja, aku sedikitnya merasa iri karena dia bisa melakukan hal itu dengan sangat cepat, padahal aku sendiri belum tentu bisa melakukannya.
Dia juga entah bagaimana membawa banyak sekali peralatan yang dia sembunyikan. Aku juga awalnya curiga, siapa dia. tapi menurutku, tidak baik untuk memiliki prasangka buruk pada orang yang menolongmu.
Dan dia bisa mengerjakan semua itu hanya dalam hitungan mnit, seperti itu bukanlah hal yang sulit baginya. Mungkin dia hanya menganggapnya cemilan kecil.
Setelah dia membantuku, dia mempromosikan sebuah link jika aku ingin memperbaiki sesuatu. Dari situ aku tahu dia sudah bekerja. Setelah itu aku bertanya siapa namanya, dan dia menjawabnya dengan jawaban “kepo” dan gaya yang dipergakan kak Ahmad.
Tapi sayangnya setelah itu, ada kilatan cahaya dan aku tidak bisa mengingat wajahnya. Sepertinya, cahaya dewa melindungi wajahnya dari ingatanku. Dan yang bisa kuingat darinya hanyalah cerita ini dan linknya saja.
Dan kak Ahmad bilang dia meniru gaya itu dari adiknya, Nadin. Aku sempat berfikir untuk menjebaknya mencoba bertemu dengannya, dan menangkapnya untuk memaksanya mengatakan namanya.
Tapi ketika memikirkan hal itu, rasanya seperti kriminal saja.
Tapi itu smua idak menutup rasa penasaranku. Aku setidaknya harus mengkonfirmasinya langsung dengan adik Ahmad, Nadin
Pict: Ranti
__ADS_1