Five Days Or Die

Five Days Or Die
Chapter 18


__ADS_3

Pov: Nadin


“Semakin lama, dia semakin kejam saja,” ucapku sambil mengelus tanganku. Aku pingsan tadi. Entah berapa lama, tapi itu semua karenanya. Dan ternyata, dia lah yang telah merencanakan semuanya. Dia lah yang membawa kami semua ke dalam masalah ini. Aku khawatir dengan kakakku, sifatnya, dan teman temannya. Juga orang yang membantu kami waktu itu. Siapakah dia?


“Aku harus segera keluar dari sini.” Aku segera mengambil alat yang kubuat kemarin, dan memberikan informasi dan rencana selanjutnya. Benda itu adalah replika time key! Jadi kami bisa mengelabuhi Rickzan dengan benda itu. Selain itu, aku juga membawakan sebuah pesan, agar kak Ahmad tidak khawatir denganku.


Setelah berkata tentang rencana selanjutnya, aku segera melemparkan benda itu ke luar jendela, dan membiarkannya pergi. Aku telah memasang gps pada alat itu, maka alat itu akan pergi menuju gps kakak.


“Semoga cara ini berhasil.” Kataku sambil terduduk. Dia sekarang sudah semakin sering berbuat kejam. Bahkan hingga kini aku belum diberi makan. Memang ga ada akhlak itu orang. Kekejamannya memang sudah di upgrade.


“Aku kalau protes pasti dia akan menyetrumku. Gimana ya?” aku bingung.


“Apa yang kau rencanakan?” tiba tiba dia datang.


“Apapun itu takkan kuberi tahu!” aku salah ucap. Aku lupa remote nya masih berada di tangannya. Dan segera saja, aku kembali merasa lemas. Tubuhku sudah tidak ada tenaga lagi. Aku sudah tidak mampu berdiri hanya dengan 1 setruman.


“Please. Aku gak bisa nahan lagi.” Kataku, mencoba mencari sisi kemanusiaan darinya.


“Ha ha! Kini kau sudah tidak bisa apa apa ya? Otak cerdas kalau tubuh tidak bisa bergerak emang tidak berguna ya!” aku hanya diam.


“Baiklah, aku tidak menekannya lagi,” aku bersyukur.


“Tapi sepertinya tanganku licin,” dia menjatuhkan remote nya dengan posisi tombol merah itu berada di bawah. Posisinya yang dibawah membuat tombol itu tertekan, dan otomatis aku tersetrum lagi. Dasar orang ga ada akhlak emang. Dan kembali, aku pun terjatuh. Mungkin aku pingsan, atau mati.


“Apakah aku sudah mati?” tanyaku pelan. Kemudian, tempat berpindah ke tempat dimana ayah dan ibu pergi. Tempat dimana terakhir kalinya aku melihat mereka. Aku bahkan bisa melihat diriku yang masih bertanya tentang aku yang tidak boleh ikut mereka yang akan mnguji coba mesin waktu, yang belakangan kuketahui merupakan sabotase dari Rickzan.


“Maafkan aku, mereka tidak selamat.” Katakata yang pernah kudengar. Aku menoleh.


“Bagaimana caramu kembali?! Tidak! Ayahku, ibuku! Aku harus memastikannya! Tidak mungkin!” teriakku kala itu. Kulihat kembali wajah orang yang menghancurkan hidupku. Semua yang terjadi, itu karenanya. Dialah orang yang berani menghancurkan orang lain, demi mewujudkan mimpinya.


“Kapan kau akan mendapat karma?” kataku pelan, menyisir alam baka yang sepertinya lebih indah dari dugaanku. Sebelumnya, kukira alam baka itu gelap dan menakutkan. Tapi sepertinya aku sudah tidak menghiraukan itu sekarang.

__ADS_1


“Kakaak! Kakaak! Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?” ucapku. Tak kusangka, aku berjalan hingga momen itu, ketika kakakku datang, dan melihat semuanya. Aku tak kuasa menahan tangis.


“Mereka orang baik, Din! Mereka akan dapat tempat terbaik yang pernah ada,” kata kakakku, berusaha menenangkanku, dan berusaha tegar. Tapi sejak kecil, aku menyadari satu hal, bahwa kecelakaan itu ganjil, dan ayahku sudah menyadarinya. Sayang sekali, aku sedang tidak di tempat itu. Masih ku ingat jelas keadaan persis tragedi itu terjadi.


***


“Heh! Anak kecil jangan ikut masuk! Kamu itu belum boleh melihat teknologi tauu!” kata seorang penjaga. Aku melihatnya.


“Aku ini anaknya pak Arby, dan aku ingin melihat penemuan ayahku!” teriakku.


“Ohh, jadi kamu yang namanya Nadin ya? Ihh cantik banget! Ayo silahkan masuk! Nanti ketinggalan lo. Tapi, jangan masuk sampai ke dalam ya nak, yang di dalam hanya untuk jendral dan petinggi lain,” Kata katanya kini berubah menjadi manis.


Aku mendengus kesal. Apakah tidak ada tempat untuk seorang anak di teknologi? Aku sedikit kesal. Tapi, tiba tiba aku tidak merasa kesal, aku kebelet ingin ke kamar mandi!


“Pak! Kamar mandi ada di sebelah mana ya pak?” Tanyaku.


“Ohh, adik lurus saja, nanti belok ke kanan. Di sana ada beberapa kamar kecil.” Ucapnya. Segera, aku berlari menuju tempat yang ditunjukkan oleh bapak satpam itu.


“Apa yang terjadi?” tanyku pelan sambil membersihkan pasir di tanganku. Lorong terang itu berubah menjadi berasap, tertutup debu yang jatuh.


“Keluar! Keluar! Cepat kalian semua keluar!” teriak seseorang. Aku mulai merasa ada yang tidak enak. Aku segera berjalan menuju tempat uji coba mesin waktu ayahku.


“Ahh!” aku tertabrak seseorang menggunakan pelindung diri. Kemudian, orang dengan pakaian yang sama, kembali menabrakku.


“Itu bukannya staff ayah? Kenapa mereka berlari keluar?” aku makin panik.


“Ayo semuanya! Keluar! Ajak siapapun yang selamat untuk segera keluar.” Aku mendengar kalimat itu lagi. Aku segera bangun, dan berlari menuju ruangan tempat ayahku menguji coba.


“Hei kamu mau kemana?!” teriak satpam yang tadi. Aku tidak menghiraukannya. Dia mengejarku, tapi ada segerombol orang didepan. Segera kutabrak mereka semua, tidak peduli apapun yang akan terjadi.


“Hei! Hati hati dong!” teriak salah seorang diantara mereka.

__ADS_1


“Hentikan anak itu!” teriak satpam yang mengejarku. Dan nyatanya, dia yang terhentikan oleh gerombolan orang orang itu. Aku pun sampai di depan pintu yang tertutup rapat. Aku berusaha membukanya. Terkunci.


Aku tidak kehabisan akal. Aku berusaha mendobrak pintu itu. Tapi tidak bisa. Aku semakin panik. Aku melemparkan apapun yang ada disana ke pintu itu,, berharap pintu itu terbuka.


Bagaikan gila aku mencoba menendang nendang hingga melempar beberapa vas bunga ke pintu yang masih kokoh itu. Aku segera mengambil kursi terdekat, dan menghujamkannya berkali kali ke pintu itu.


Nampak engselnya mulai lepas, dan akhirnya pintu itu tunduk padaku. Ketika ku buka, aku melihat sinar terang. Ruangan itu lenyap! Hingga bagian atap yang sebelumnya estetik, berubah menjadi langit. Aku menangis keras. Memukul mukul pintu yang tidak bersalah.


“Apa yang terjadi? Kenapa ini terjadi? Ayah, ibu!” teriakku keras. Tiba tiba, cahaya biru mengagetkanku. Aku segera melihatnya. Rickzan! Dia berhasil selamat? Kulihat baju pelindungnya yang sedikit rusak karena mesin waktu itu. Dia juga tampak ngos ngosan dan lelah. Aku segera bertanya.


“Kak Rickzan? Apa yang terjadi? Dimana ayah dan ibu?” tanyaku setengah berteriak.


“Mesin waktu gagal, dan meledak. Bersama dengan ruangan ini.” Dia tertunduk.


“Lalu, bagaiman dengan ayah dan ibu? Apa yang terjadi?” tanyaku bertambah keras. Dia tidak menjawabnya, dan malah tertunduk lesu.


“Jawab!” teriakku kini mulai marah dan panik.


“Maafkan aku, mereka tidak selamat.”


“Bagaimana caramu kembali?! Tidak! Ayahku, ibuku! Aku harus memastikannya! Tidak mungkin!” teriakku sambil menitikkan air mata. Rickzan berusaha menenangkanku, tapi tetap saja aku histeris. Aku merasa semua duniaku hilang dalam sehari, membuat mata dan tubuhku berat. Sempat kulihat satpam yang yadi mengejarku.


“Dek Nadin!” teriaknya sebelum akhirnya aku pun terjatuh dengan sendirinya, dan dunia tiba tiba menjadi gelap, seperti hidupku yang tiba tiba gelap.


***


Aku meneteskan air mata, mengenang itu. Tapi apapun itu, dendam ku pada Rickzan tidak akan terbalas. Aku berusaha untuk menerima kenyataan.


“Kakak, apa yang kau lakukan sekarang? Aku merindukanmu. Aku bahkan belum mengucapkan kata selamat tinggal padamu. Dan mereka semua. Bahkan dia juga belum kuberitahu tentang rahasia besarku.” Aku terduduk, di sebuah ruangan besar yang Nampak hitam kelam disitu. Hanya aku yang menjadi suber cahaya paling terang disana.


“Kenapa aku sendiri di sini? Apakah ini surga atau neraka?” tanyaku pelan

__ADS_1


__ADS_2