
“Sepertinya tadi Nadin mengotak atik program ini deh. Ah! Jangan berburuk sangka! Siapa tahu dia ingin ke gudang sebelah sana. Tapi, kenapa ya wajahnya tadi ketika kulihat sedikit gelisah, sepertinya dia takut. Tapi kenapa?” aku melamun.
Konsentrasiku buyar karena ini. Aku memutuskan untuk ke dalam kamar, menenangkan diri. Aku memutuskan untuk melanjutkannya besok karena mood-ku yang sudah mulai jelek.
Di kampus, aku berangkat agak terlambat. Aku harus segera mencari dosen pembimbingku. Kalau tidak, aku harus menunggu kelasnya selesai!
Aku berlari, dan ada ibu kantin tiba tiba muncul di depan mukaku. Aku dengan segera menghindar. Sayangnya, walau aku berhasil menghindari ibu kantin, aku tetap menabrak tiang di sampingku. Kepalaku terantuk, berkasku berterbangan.
Hadeuuhhh. Aku mengeluh perlahan. Ibu kantin dengan segera juga membantuku. Aku juga mengambili berkasku.
“Makasih bu!” kutingalkan dua kata sebelum aku berlari lagi. Kepalaku masih agak pusing setelah menabrak membuat aku berlari setengah terhuyung huyung.
Aku melihat ke ruang dosen. Tidak ada! Jangan jangan sudah ke kelas. Aku segera melihat jadwal dosenku. Benar saja, dia ada kelas jam segini! Segera aku berlari, maksud hati mengejarnya. Sayangnya, aku hanya berhasil melihatnya masuk ke dalam kelas sebelm akhirnya pintu itu menutup.
“Oh shit!” bentakku. Aku segera merapikan berkasku. Aku pergi ke kantin untuk menunggu. Ketika aku duduk, aku melihat Ranti lewat. Dia juga nampaknya melihatku. Di segera menghampiriku dan duduk di sampingku.
“Tugasmu sudah jadi?” Tanya Ranti, temanku dari jurusan yang sama, namun dia tidak mengikuti ujian sepertiku.
“Gimana ya, aku dilema. Mau maju susah mau mudur juga susah.”
“Kenapa?” tanyanya mulai duduk di sebelahku.
“Kepo.” Kataku meniru gaya adikku.
“Ih aneh banget,” katanya.
“Ya memamng aku menirunya dari adikku.” Kataku sambil mengulangi gayaku yang tadi. Aku tertawa. Aku melihat dosenku, Pak Rudi sedang berjalan. Aku tidak peduli dia mau kemana. Segera ku pamit, mengejar dosen pembibingku. Aku harus meminta tanda tangan untuk beberapa berkas untuk memantapkan penelitian. Lalu, aku ingat sesuatu.
“Eh Ranti!” teriakku memanggilnya karena dia sudah mulai menjauh.
“Lusa nanti krumahku untuk menguji coba mesin waktuku! Tolong ajak Dani ya,” kataku meminta padanya. Tapi anehnya, wajahnya berubah.
__ADS_1
“Oke. Jam berapa?”
“Jam 10 pagi saja. Oke. Thanks, bye” aku segera berlari karena melihat dosenku yang sudah lewat.
***
Pulang kuliah, aku segera mendekati mesin waktuku. Aku melihat adikku. Wajahnya tampak mencurigakan. Namun, belum saja kutanya dia tiba tiba berkata.
“Kak! Bahan bahannya kan ada yang sisa, jadi sisanya buat aku ya,” katanya. Aku hanya menganggguk. Tingkah lakunya akhir akhir ini sangat mencurigakan. Wajahnya berubah kembali menjadi tegang.
“Kamu itu mau buat apa? Kok minta bahan kakak?” kataku sambil menahan adikku untuk pergi. Seketika wajahnya menjadi kaku. Aku bisa tahu, ada sesuatu yang ditutup tutupi dariku.
“Ohh itu. Aku mau buat itu, apa namanya? Rumah rumahan untuk bonekaku.” Katanya.
“Kamu kan perempuan masa kamu buat sendiri?” tanyaku.
“Ohh, bisa kok.” Katanya dengan segera pergi menjauhiku. Sepertinya dia menjauhiku. Batinku. Memang berbeda sekali dia akhir akhr ini. Dia sekarang sering sekali di kamar. Bahkan ketika tadi makan malam di sangat terburu buru uuntuk segera masuk ke dalam kamar.aku jadi bingung, apa yang dia sembunyikan di dalam kamarnya. Aku berusaha untuk masuk kamarnya sesekali. Tetapi apapun yang kulakukan aku tetap tidak bisa masuk ke dalam kamarnya.
“Sudahlah. Aku tidak akan bisa. Lebih baik, aku mengecek yang lain biar besok ga ada kesalahan. Bisa jadi ini meledak dan aku bisa pergi entah kemana.” Kataku ingat dengan kenyataan. Aku mengecek sistemnya dari balik panel di sebelah alatku. Aku melihat semua sistemnya dan kembali lagi aku melihat kejanggalan. Aku ingin sekali menguji cobanya. Tapi aku takut. Akhirnya kuputuskan untuk mengujinya. Aku mengambil sebuah tang, aku masukkan ke alat itu. Dan dengan segera aku menyalakan tombol untuk menghidupkannya.
***
Waktu itu pukul 11 malam. Aku berpikir ibuku pasti akan marah. Namun mau bagaimana lagi. Tombol “on” sudah kuhidupkan. Sudah tidak bisa kubatalkan lagi. Namun seketika, entah itu kejaiban atau kesalahan terjadi. Seperti ada sesuatu yang menyelimuti tang itu, sepertinya kabut biru. Aku menganggapnya itu adalah tanda tandanya akan berpindah. Seketika tang itu menghilang. Aku, masih menganggapnya itu hal wajar.dan ketika kutekan tombol kembali, tombol itu masih berfungsi dengan baik. Setelah aku selesai, terdengr langkah kaki yang nampaknya sangat tergesa gesa dan dengan segera pintu gudang terbuka. Kulihat adikku, Nadin dengan wajah yang khawatir, datang dengan tergesa-gesa. Dia nampak panik.
“Kakak habis percobaan?” tanyanya dengan terengah-engah.
“Ya, memang kenapa?” tanyaku dengan keheranan.
“Hasilnya bagaimana? Ada yang terjadi tidak? Ada ledakan atau tidak? Sebelum pergi atau kembali ada kabut atau tidak? Terus apa yang terjadi?” tanyanya memberondongku dengan pertanyaan.
“Hey, hey, hey. Pelan pelan dong. Memang ada apa sih?” tanyaku.
__ADS_1
“Santai aja jangan tegan gitu wajahnya.” Mimik wajah adikku langsung berubah.
“Kakaaaak! Ini aku serius! Jadi ceritain bagaimana kejadiannya! Ini penting!” katanya. Aku kaget. Belum pernah dia sampai serius ini, “Ya, saat dia sedang belajar dia serius sihh,” tapi sampai seperti ini dia belum pernah dengar. Melihat mimk wajahnya yang bercampur aduk itu membuatku tertawa.
“Aduhh, adikku, jangan tegang gitu dong. Wajahmu seperti akan ada ledakan nuklir aja.” Kataku.
“Iya deh kak.” Katanya. Mungkin dia sudah mulai kesal dengan pertanyaannya yang tidak kunjung kujawab. Aku mengajaknya untuk duduk dan menceritakan semua tentang teleportasi tadi.
Adikku nampak sangat lega. Mulai ada senyum di wajahnya. Dia tersenyum, dan dari wajahnya aku tahu dia sangat membanggakan akan sesuatu hal.
“Ya udah deh kak, kalau gak ada apa apa. Nadin mau masuk dulu ya kak.” Katanya. Wajahnya sudah lebih santai sekarang.
“Oh ya! Kok kamu bisa tahu kakak lagi percobaan?” tanyaku. Adikku kaget. Dia langsung berbalik dan wajah anehnya kembali muncul.
“Ohh. Tadi aku lagi lewat kok ada suara suara gitu.”
“Terus?”
“Ya udah. He he he.” Katanya kembali dengan wajah yang aneh.” Aku membiarkannya pergi. Aku senang sekali penelitianku berhasil. Aku melompat kegirangan.
***
“Nulis cerita lagi,” kata Dani yang tiba tiba di sebelahku.
“Iya nih nglanjutin yang kemarin. Sekalian masukkin adikku ke cerita ini. Oh ya! Kamu sudah diberi tahu kan sama Ranti?” tanyaku.
“Soal apa? Ohh, soal kamu yang mau uji coba itu? Ya jelas sudah. Aku diberi tahu tadi malam. Percobaanmu nanti ya? Eh besok sih jam 10 kan?” katanya. Aku hanya mengangguk karena semua pertanyaannya sudah dia jawab sendiri.
“Besok ya jangan lupa lho.” Kataku sambil memberinya jabat tangan khusus kami. Setelah itu aku segera pergi dan melambaikan tanganku.
Pict: Dani
__ADS_1