
"Naah! Mari kita mulai, permainannya!" kalimat Nadin menandai mereka semua segera mengisi pos masing masing.
Ahmad dengan alat komunikasi di telinganya, dan Amy serta Arby yang siap membopong sebuah senjata plasma, yang siap melindungi tim pencari, Ranti, Dian, dan Dani. Mereka sudah bersiap, apapun yang akan terjadi hari ini, mereka akan berusaha sekuat tenaga.
Nadin beejalan sendirian, menuju arah Rickzan yang sedang membelakanginya. Rickzan samar samar mendengar suara derap kaki, segera berbalik menayap Nadin.
"Hou? Menarik!" sebuah seringai kembali muncul di wajah Rickzan. Sedangkan Nadin berusaha menenangkan diri dengan menarik nafas.
"Baiklah, kakek tua ga ada akhlak! Kau mencari ku, bukan?!" Nadin mengawali percakapan dengan ejekan menarik emosi Rickzan.
"Ha ha! Apa kau bermaksud memancingku? Tidak! Tidak akan berpengaruh! Karena memang apapun yang terjadi, aku akan memberimu hadiah secara khusus dariku. Jangan berkecil hati, Nadin!" Rickzan teetawa, menatap ke atas sambil menutup mulutnya dengab tangan kirinya
"Hi! Apa kau pedofil?! Aku anak SMP tahu! Aku juga datang kemari karena beberapa alasan," kata Nadin sedikit bergidik.
"Ahh, aku mengerti. Kau berusaha untuk mengulur waktu supaya teman temanmu dapat kembali, bukan? Apa ini? Apa kau berkorban diri?" tanya Rickzan dengan senyum mengejek.
Nadin sedikit tersenyum mendengar itu, tapi tidak segera menjawab. Dia sengaja membiarkan angin berhembus kuat lebih dahulu, karena dia tahu, waktu itu penting.
"Kau benar tapi hanya dapat nilai 50." Nadin berjalan perlahan maju menuju Rickzan. Ruckzan tak urung segera meningkatkan kewaspadaannya.
"Bukankah kekuatanmu berada pada zirah canggih itu? Dan zirah itu ditenagai dengan panas matahari. Dan aku bisa melawanmu dengan zirah yang rusak? Itu merupakan suatu hal yang menguntungkan bagiku, bukan?" kini Nadin berhenti.
Nadin memasang beberapa benda berbentuk kota di tangannya, yang seketika membuka dan membentuk sebuah lengan mecha yang menyelimuti tangan kanannya. Tak lupa, dia juga melapisi tangan kirinya dengan benda yang sama.
"Apa yang kau rencanakan?!" tatapan Rickzan berubah tajam. Nadin sedikit terkekeh.
Kedua lengan nadin sudah terbalut oleh pelindung buatan Nadin, dengan warna putih yang kontras dengan Nadin itu sendiri. Dia mengambil kacamata, dan memakainya. Seketika kacamata itu berubah, menutupi sebagian wajah dan kepalanya.
Dan untuk langkah terakhir, dia memindahkan tas selempangnya itu ke belakang, membiarkan secara sendirinya menyatu dengan lengan robotnya. Dan bisa dibilang, ini adalah zirah berkekuatan super milik Nadin, yang hanya bisa dipakai oleh Nadin seorang!
"Hei, Rickzan! Kau tidak dalam kondisi terbaikmu, bukan?" Nadin sekarang mengambil sebuah benda dari dalam tas nya.
"Ha ha! Sepertinya aku sudah mulai mengerti. Kau bisa membuat sendiri zirah sepertiku pada umurmu yang masih 12 tahun? Luar biasa! Dan memang benar, sekarang aku tidak berada dalam kondisi terbaikku!" Rickzan menyilangkan tangan di depan dadanya.
"Kalau begitu, bukankah sebaiknya kau sedikit khawatir? Aku yang sekarang bisa mengalahkan mu, bukan?" kata Nadin sambil mulai membentuk 2 buah hand gun yang cukup besar di kedua tangannya.
__ADS_1
"Aku tidak perlu serius untuk mengalahkanmu!" teriak Rickzan sambil menyiapkan machine gun yang siap membidik Nadin.
Nadin hanya diam, menatap Rickzan dengan tajam.
"Tenangkan dirimu, fokus! Kau harus fokis, Nadin!" Nadin berbisik pelan pada dirinya sendiri. Dia tahu, jika dia tidak mengerahkan seluruh kekuatannya, dia tidak akan menang.
"Ha ha ha! Menarik! Bagaimana peraturan mainnya?!" Rickzan terkekeh melihat Nadin.
Nadin nenarik nafas. Dia tahu, bahwa Rickzan juga sedang mengulur waktu. Dan Rickzan jiga tahu, akan berbahaya jika dia tidak mempersiapkan sesuatu yang akan terjadi, dia akan kalah. Tapi, kembali waktu yang menjadi penentu disini.
"Mudah saja! Jika teman temanku bisa mendapat time hole sebelum fajar, aku lah yang menang." Nadin tersenyum menggurat.
"Dan jika mereka gagal menemukan sampai fajar aku yang menang, kah?" Rickzan segera tahu maksud Nadin yang sebenarnya.
"Bodoh sekali! Menyerahkan nyawamu pada pertaruhan yang tidak jelas seperti ini? Itu menarik!" Rickzan kembali tersenyum.
"Yahh mau bagaimana lagi, bukan? Hanya percaya yang bisa kulakukan!" teriak Nadin yakin. Keadaan menjadi hening setelah itu, menandakan pertarungan yang akan segera dimulai.
"Kalau begitu, Nadin! Ayo kita bermain sebentar!"
Sementara itu, Ahmad dan yang lainnya...
"Sekitar 5 menit! Teriak Amy menjawab." ekspresi mereka segera berubah.
"Gawat! Berarti sisa waktu kita untuk mencari hanya 10 menit! Ayo semuanya! Aku akan memberitahukan tiitik dimana time hole berada, jadi cepatlah!" Ranti sedikit khawatir dwngan sisa waktu ini.
"Baiklah! Aku juga akan membantu!" Ahmad segera masuk menhadi tim pencari, sekalian memberi info pada Nadin.
"Ya! Yang disini serahkan saja pada kami! Kami pasti bisa menjalankan tigas dengan mudah! Santai saja!" Arby kini mengacingkan jempolnya ke arah mereka semua.
"Ayah?" Ahmad dengan mata berbinar memandangi mereka. Dia segera mengangguk dan mencari kembali time hole di gedung itu.
"Apakah kau yakin dengan ini, Arby?" Amy bertanya dengan gelisah, menatap Arby yang termenung, meratap ke bawah.
"Ya. Mungkin ini adalah takdir, dan aku juga tidak bisa mencampuri urusan mereka lebih lama lagi. Dab yang paling utama," Arby berhenti sebentar, lalu memgang bahu Amy.
__ADS_1
"Ini adalah masalahku, bukan masalah mereka!" kata Arby yakin.
***
"Kalai begitu, Nadin! Ayo kita bermain sebentar!" Rickzan menerjang maju, dengan cepat menghujam jatuh ke arah tempat Nadin berada. Dia tersenyun sedikit, ketika debu menutup pandangannya.
"Hilang?" Rickzan celingukan mencari Nadin, tapi hilangnya Nadin membuatnya menjadi khawatir.
"Dari atas?!" Rickzan segera menemgadahkan tangannya ke atas berusaha menahan serangany yang akan dilancsrkan Nadin.
"Heeyaaaah!" Nadin menembakkan kedua hand gun nya 5 kali berturut turut, dengan tubuhnya yang semakin turun.
Walaupun berbentuk hand gun, tapi kekuatannya bisa disamakan dengan tembakan senjata penghancur tank di zaman ini! Tapi, tangan Rickzan yang menerima itu semua seperti itu adalah hal yang wajar.
Nadin yang menyentuh tanah, segera mengambil peluru khusus dadi tas nya, dan menunggu monen yang tepat. Dia berlari, menendang tanah untuk segera melayang mengitari Rickzan, mengincar sisi lemahnya.
"Cepat sekali!" Rickzan sedikit menggumam ketika Nadin dengan cepat mengubah arah serangannya.
"Sekuat apapun kau, kau tidak akan bisa menghadapi sesuatu yang tidak kau duga! Teriak Nadin sambil terus melepaskan tembakan.
Satu demi satu, tembakan Nadin mengenai Rickzan, yang kewalahan menghadapi Nadin yang terus berpindah pindah.
"Aaah dasar kau! Kalau kau bermain jarak jauh, aku akan meladenimu!" Rickzan menghimpun kekuatannya di tangannya lalu memutar tubuhnya ke sekelilingnya. Itu adalah sapu bersih ke kawasan sekitar.
Semua puing hancur, bahkan tidak berbentuk lagi. Semua, bahkan batu batuan meleleh, atas serangan Rickzan. Dia tersenyum, ketika melihat sekelilingnya.
BOOM!! Tangan kiri Rickzan yang masih berlapis zirah itu meledak menyisakan separuh tubuhnya kebawah yang hanya terbungkus zirah, sedangkan separuh ke atas lainnya hanya terlihat kaos hitam yang sobek sobek tak karuan.
"Jangan jangan kau berpikir aku hanya bisa bergerak di bawah ya?!" Nadin menyeringai tajam, membuat senyum mengejek di wajahnya.
Dia sudah mebduga ini. Jadi, Nadin dengan yakin mengambil sebauh peluru ekstra tadi, dan membentuk sebuah meriam dengan menyatukan tangannya.
Nadin secara langsung membidik Rickzan, yang tidak akan mengira Nadin bisa melayang dengan mudah
Rickzan sekarang mengerri, bahwa Nadin bukanlah seorang anak biasa. Nadin adalag orang yang tidak bisa dianggap enteng, dan Rickzan tahu itu.
__ADS_1
Isi kepala Rickzan menjadi kusut, memikirkan lawannya. Kekesalannya terhadap Nadin memuncak, membuat dia bahkan kerepotan saat ini.
"Bajingan kau Nadiin!!!"