Five Days Or Die

Five Days Or Die
Chapter 13


__ADS_3

Third Person PoV


Mereka pun akhirnya berangkat, meninggalkan kota kecil itu. Terus bergerak ke barat, menerjang jalanan yang umumnya masih berbatu. Ahmad menyetir mobil ini didepan, bersama Ranti, sedangkan Dani menjaga Dian di tengah, dan Nadin sendirian di belakang.


Nadin tidak merasa dirugikan karena ini. Justru dia merasa sangat beruntug, dia bisa menyempurnaan senjata yang sudah dia rakit seharian ini. Sedagkan Ranti, mulai penasaran akan sosok yang menyerang mereka kemarin.


“Eh Mad! Apa kamu kenal dengan orang yang menyerang kita kemarin?” tanyanya pada Ahmad. Ahmad sedikit mengehela nafas.


“Aku pernah melihatnya, namun aku lupa di mana. Tapi kalu melihat artikel dan catatan ayahku, dia adalah penjahat yang dihukum di penjara waktu, tetapi mengetahui kelemahan akan penjara ini. Awalnya aku juga tidak tahu, apa yang dimaksud dengan kunci waktu. Tapi kurasa, itulah yang dia incar.” Kata Ahmad panjang lebar.


“Apakah dia akan mengejar kita?” tanya Ranti lagi.


“Menurutku, dia pasti akan mengejar kita. Apapun yang terjadi, dia pasti sangat menginginkan “time key” tersebut. Dan melihat semua perlengkapannya, dia pasti sudah berhasil menciptakan beberapa inovasi yang sangat canggih, yang mampu mengalahkan apapun di masa ini. Kita sangat beruntung, karena kita bersama Nadin, dia yang menemukan kunci itu, dan dia pula yang menemukan jalan pulang kita.” Kata Ahmad. Kembali, dengan cerita. Ranti menoleh ke belakang, dan mendapati dua bersaudara tengah tidur, sedangkan Nadin sedang sibuk sendiri dengan barang barangnya, membuat teknologi teknlogi menakjubkan lainnya.


“Bagaimana menurutmu tentang Nadin?” tanya Ranti.


“Kamu sekarang malah mirip jadi wartawan ya? Aku yang menjadi narasumber.” Ahmad sedikit tertawa.


“Ha ha! Gak apa kan? Aku kan hanya meminta pendapatmu.” Kata Ranti mencoba mengalihkan pandangannya dari Ahmad.


“Hmm, Nadin ya. Aku tidak menyangka bahwa dia merupakan ahli teknologi. Bahkan menurutku dia lebih paham teknologi dibanding aku.” Kata Ahmad.


“Yaah, beberapa orang dewasa terlalu cepat. Tapi, apakah kamu tidak tahu selama ini? Apakah kamu tidak diberi tahu olehnya?” tanya Ranti lagi.


“Tidak. Mungkin memang aku sebagai kakak yang kurang perhatian pada adikku sendiri. Padahal hanya aku yang dia punya sekarang. Aku bukanlah kakak yang baik. Aku bukanlah orang yang bertanggung jawab.” Kata Ahmad. Sebenarnya, kini Ranti sangat mengantuk. Entah karena mendengarkan cerita Ahmad atau dia memang benar benar capek. Dia sampai sedikit menguap.


“Kamu ngantuk ya?” sahut Ahmad tiba tiba. Kalau Ahmad sendiri, dia tidak bisa tertidur karena jalan jalan yang berbatu membuatnya selalu terbangun ketika mengantuk.


“Eh iya nih. Hehe. Aku tidur aja dulu ya!” Ranti dengan segera membuat dirinya nyaman dengan kursi yang tidak terlalu nyaman tersebut. Tapi mau bagaimana lagi memang hanyaini yang mereka dapat. Mereka memang tidak bisa meminta lebih, atau mendapat lebih.


Ahmad menoleh ke belakang, melihat keadaan belakang, dimana temannya, Dani sedang tertidur pulas, dan adikknya yang sedang merakit senjata. Terdengar cukup sadis memang, tapi memang itu yang sedang Nadin lakukan.


Sebuah batu mengguncangkan mobil, yang membuat kepala Ranti terjatuh ke pundak Ahmad. Entah mengapa, ketika Ahmad berada di dekat Ranti, dia merasa tenang, dan merasa nyaman. Apakah dia menyukai Ranti? Entahlah.


Dia masih tidak bisa memikirkan itu sekarang. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah pulang. Keadaan menjadi sangat sepi ketika semua ornag tertidur, kecuali kakak beradik teknologi ini. Mungkin karena bosan dan takut mengantuk saat menyetir, Ahmad mengajak Nadin mengobrol.


“Din! Maafin kakak ya,” kata Ahmad mengawali percakapan.


“Tentang apa?” Nadin masih sibuk dengan ipad-ipad rakitannya.


“Tentang mesin waktu, tentang kamu, tentang yang terjadi sekarang ini, tentang segalanya. Kakak tidak pernah mendengarkanmu. Itulah yang membuat bencana cari awal cerita in dimulai.” Kata Ahmad jujur, mengatakan semuanya.

__ADS_1


“Oke lah kak. Setidaknya sekarang kita sama sama mengerti. Wait, what?! Tentang aku?” jawab Nadin sedikit kaget dengan beberapa kata yang diungkapkan Ahmad.


“Meman aku anak kecil apa? Harus dikhawatirin? Justru yang harus dikhawatirin kakak tuh!” lamun Nadin.


“Yaa, kamu kan tahu kakak memang nggak pintar dalam menyusun kata kata. Jadi tolong dimaklumi saja lahh.”


“Ohh, karena itu kakak sama kak Ranti belum jadian?”


“Apaan sih brisik deh! Lagi nyetir ini.”


“Tapi, apa yang lagi kamu bikin adikku?” tanya Ahmad, kembali untuk mengalihkan perhatian.


“Kata kata buat kak Ranti.” Jawab Nadin sedikit bercanda.


“Ah serah! Bodo Amat!”


“Iya iya kak. Aku lagi bikin senjata portable, yang kaya punya aku kak! Jadi semua bisa punya. Aku yakin dia pasti bakal balik lagi. Dia tidak ingin melepaskan ini begitu saja.” Jelas Nadin, kini mulai bisa serius.


“Apa barusan kamu bilang? Dia? kamu sudah tahu siapa?” tanya Ahmad mulai kepo.


“Jelas sudah.”


“Dia itu Rickzan, asisten ayah. Mungkin kakak sedikit asing dengan orang ini. Tapi bagiku, aku sering sekali bertemu dengannya, karena aku sering ikut ayah dalam beberapa proyeknya. Jadi aku sudah sering bertemu dengan dia. Selain itu dia adalah penjahat yang menyebabkan kebangkrutan gar tech dan membuat negara rugi milyaran triliun! Dan mungkin, dia adalah orang pertama yang diuji coba untuk proyek penjara waktu. Selain itu, dia juga mengetahui semua rahasia yang ada di penjara waktu.” Cerita Nadin dalam versi singkatnya.


“Sudah kuduga.” Jawab Ahmad singkat.


“Jadi kakak sudah tahu semua ini? Tanya Nadin.


“Sebelumnya kakak hanya mengira ngira, tapi kayaknya, memanginsting kakak selalu tepat deh.” Kata Ahmad yang dilanjutkan oleh suara berdebum keras.


Mereka berdua kaget. Ahmad segera menoleh ke kaca spion untuk melihat apa yang terjadi.


“Dia tepat di belakang kita!” teriak Ahmad. Dengan segera, Nadin menjebol kaca jendela belakang dan bersiap untuk menembaki kapal super canggih itu. Kali ini, Rickzan datang dengan penuh persiapan. Malah bisa dibilang, dia membawa semuanya yang sudah dia buat selama ini. Sebuah kapal yang mirip kapal ruang angkasa, dengan senjata yang sangat banyak.


“Kakak fokus menyetir! Biar aku yang menembaki mereka!” teriak Nadin pada kakaknya.


“Kali ini akan kupastikan aku akan mendapatkan kunci waktu itu!” kata Rickzan sambil dengan menggunakan microphone mengeraskan suaranya ke luar kapal. Dia tertawa puas, melihat mobil yang terlihat kecil, berjuang untuk menghindari serangannya yang tampak kecil, namun mematikan itu.


“Ini orang keliatannya punya kecenderungan psikopat deh kayaknya.” Kata Nadin, mungkin pada dirinya sendiri.


Walau Ahmad sudah berkelit dengan baik, namun tetap saja, detik demi detik, serangan Rickzan semakin mendekati mobil van itu. Suara berisik membuat mereka semua yang ada di dalam mobil terbangun.

__ADS_1


“Apa yang terjadi?” tanya Ranti mewakili Dani dan Dian.


“Kita diserang! Ambil inii dan tolong bantu aku. Kata Nadin sambil melemparkan beberapa buah ipad pada mereka semua.


“Bagaimana cara kerjanya?” tanya Dani pada Nadin.


“Letakkan tangan kalian ke layar ipad, setelah itu kalian bayangkan senjata yang menurut kalian paling hebat!” ucap Nadin sambil terus menembaki pesawat itu. Tiba tiba ada dua buah mobil datang, dan mengapit mobil mereka di kanan dan kiri.


“Astaga apa lagi ini? Toloong!” teriak Dani. Tapi dengan segera, kedua mobil itu melemparkan sebuah benda, dan mengaitkannya dengan batu besar. Dan seketika, kail itu membentuk sebuah jangkar, yang dengan segera menarik kapal itu hingga jatuh menghujam tanah. Semua yang ada di sana berdecak kagum. Dengan segera, Nadin berteriak:


“Bayangkan sinar laser sekarang!” teriaknya. Dan dengan segera, mereka berempat segera menuruti kata kata Nadin. Dan saat yang bersamaan, kapal yang begitu besar itu meledak. Mereka semua bersorak.


Teknologi yang dibuat Nadin memang sangat berguna. Ahmad sangat bersyukur, atau sangat menyesal, karena telah membawa adikknya ke dalam kekacauan ini. Untuk sementara ini, mereka amat.


“Tidak semudah itu!” terdengar suara menggema. Tanpa aba aba, semua menoleh ke belakang, dan menyaksikan dimana sebuah pesawat yang tidak begitu besar, muncul dari dalam pesawat yang sudah mereka hancurkan.


Sebuah sulur, lebih mirip tangan robot moncul, dan menampar mobil Ahmad, hingga terguling dan isinya pun tidak karuan. Dengan susah payah, mereka berlima keluar dari mobil yang sudah mulai berasap tersebut.


“Ha ha ha! Jangan coba coba untuk mengalahkan Rickzan! Kalian para amatir tidak akan bisa menandingi kejeniusanku. Ha ha ha.” Kembali, dia tertawa puas.


“Kutanya dulu baik baik. Dimana kunci waktu?” tanyanya.


“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan!” teriak Ahmad.


“Sekalipun kami tahu, kami tidak akan memberitahukannya padamu! Dasar orang tua jelek!” teriak Nadin yang masih belum mampu untuk berdiri, sambil menghina Rickzan.


“Ohhh, jadi begitu. Ok kalau itu yang kalian mau. Aku bukanlah seorang psikopat yang suka membunuh. Aku lebih suka beregosiasi.” Katanya seraya menggerakkan lengan robotiknya menuju Ahmad dan teman temannya.


“Jaadii, aku akan menukar adikmu, untuk barang yang kau sembunyikan itu. Aku akan membawanya untuk beberapa waktu. Tapi kau tahu, batas waktunya. Jika kau lebih dari waktu itu, kupastika dia tidak akan selamat.” Ucap Rickzan. Sayup sayup terdengar teriakan Nadin, “Lepaskan aku! Lepaskan aku!” dan Ahmad tidak terima akan itu semua.


“Lepaskan dia dan bawa aku saja! Heii!” teriak Ahmad. Namun apa daya, Rickzan sudah beranjak pergi membawa Nadin bersamanya.


“Ku tunggu kau di time hole terdekat. Wha ha ha!” dia tertawa puas.


“AAAAaaahhh!” Teriak Ahmad memukul mukulkan kedua tangannya ke tanah seraya menangis, tidak tega dengan apa yang terjadi menimpa adiknya, tapi memang tidak ada yang bisa mereka lakukan. Kedua mobil itu segera menghampiri Ahmad dan teman temannya yang sedang terpuruk, kembali.


“Aku adalah kakk yang buruk! Aku benci diriku!” teriak Ahmad sambil masih menangis, di tengah padang pasir yang begitu tandus. Ranti mencoba mendekatinya, menghiburnya.


“Sudahlah Ahmad! Aku yakin kita bersama bisa lewati ini semua. Nadin juga bukan anak yang bodoh! Dia pasti juga sudah membuat rencana. Dan seperti yang kamu tahu, “time key” juga berada padanya. Pastinya Nadin sudah memiliki rencana lain, yang pastinya dapat membuat kita kembali bersama!” teriak Ranti pada Ahmad yang masih saja menangis, bersujud di padang pasir yang panas itu. Sampai ketika salah satu pengendara mobil berhenti di depan Ahmad.


“Cepat masuk atau badai akan menggulung kita!” katanya. Dengan segera, Ranti membantu Ahmad berdiri dan memasukkannya ke dalam mobil. Ahmad masih merasa lemas. Seperti kehilangan separuh hidupnya. Cahaya hidupnya telah hilang, dan dia hanya diam, tidak bisa melakukan apapun saat Nadin dibawa pergi. Dan begitu juga dengan cahaya yang dia lihat, semakin meredup, meredup dan akhirnya gelap.

__ADS_1


__ADS_2