
Semua terdiam ketika melihat iPad itu. iPad kecil itu terlihat sangat rapuh, tapi dia pasti akan membesar ketika dibuka.
Mereka semua melirik ke arah Nadin, yang memiliki kenangan paling berat dengan benda itu. Wajah Nadin juga sedikit bermasalah, tapi dia sepertinya seuxah seoap akan hal hal seperti ini.
"Kenapa semua menatapku? Apa ada yang salah denganku?" Tanya Nadin setengah gugup.
"iPad ini, merupakan pemberian dari orang tua kami, seperi yang kalian tahu. Mereka sempat meninggalkannya padaku, mungkin karena dia sudah merencanakan hal ini." Ahmad menarik nafas panjang.
"Aku dengan jelas menentangnya, tapi mereka tetap bersikeras, dan memintaku untuk memberikannya padamu, Nadin." Ahmad segera masuk ke inti pembicaraan. Semua terdiam menatap Nadin. Nadin tahu itu.
"Baiklah! Akan kucoba kubuka!" Teriak Nadin yakin. Dia menyentuh iPad kecil itu, dan dengan segera itu terbuka, dan menampilkan sebuah rekaman suara yang cukup panjang.
***
"Vlog hari ke 5! Ini adalah hari kelima kami berada di masa lalu. Atau mungkin bisa kubilang ini dunia lain? Pohon masih banyak dan udara masih menyegarkan. Ini semua gara gara Rickzan itu!" Terdengar suara Amy dari iPad itu.
"Sudahlah. Tidak ada gunanya kita harus mengeluh. Kita harus segera mencari kehidupan. Aku juga tidak mau terus-terusan berada ditengah tempat yang tidak kuketahui seperti ini." Sekarang giliran suara Arby.
"Ini adalah vlog mereka berdua?" Dani bertanya pelan, yang langsung dipelototi oleh Ahmad.
"Ya seperti yang kalian tahu, kami sekarang terdampar di suatu tempat kami tidak tahu di mana. Ini bukan lagi zaman kami tapi di masa lalu. Kami harus mencari tahu di mana dan kapan kami terdampar."
*
"Vlog hari ketujuh dengan Amy! Entah kenapa kami terdampar di antara 2020 sampai 2022. Di sini masih ada banyak virus yang menyerang. Jelas kami tidak takut dengan virus itu."
"Tapi yang menjadi masalah adalah hal yang disebabkan setelah itu. Terjadi cukup banyak kerusuhan setelah itu karena beberapa negara yang ekonominya semakin memburuk. Mungkin ada baiknya untuk kami lebih tinggal di tempat yang sepi."
"Sepertinya ini semua salahku, karena tidak dengan cepat mengamankan time key agar kita bisa kembali."
"Tidak. Itu bukan salahmu. Lagian, begitu karena menungguku bukan? Dan jika aku akan menyalahkan diriku sendiri, kau pasti melarangnya."
*
"Vlog hari ke-25 bersama Amy! Beberapa kota terdekat kami sudah mulai hancur. Brondong masih ada beberapa yang bisa kami manfaatkan disana."
"Seperti mobil yang semula terlantar rusak, dan beberapa alat lainnya. Kami juga sudah mulai bisa merakit senjata untuk melindungi diri kami sendiri."
"Hei, apakah kau benar-benar merekam pada hari ke-25, Amy?"
"Aku benar-benar melakukannya!"
__ADS_1
*
"Vlog hari ke 73 sama Amy! Sepertinya, kami sudah mulai terbiasa dengan keadaan dunia ini. Sejujurnya tempat ini jauh lebih nyaman daripada dunia kami sebelumnya. Walau kami tinggal di tempat yang sulit, tapi entah kenapa udara dan perasaan jauh lebih nyaman dibandingkan sana."
"Ya kau benar Amy. Aku juga sudah meneliti bahwa karakter polisi yang ada di sini jauh lebih sedikit daripada yang ada di masa depan. Dan juga di sini ada banyak pohon jika kita melanjutkan perjalanan sedikit saja."
"Kami dengan mudah menanam tanaman, bahkan kami juga sudah bercocok tanam sendiri. Kami takut kami akan melupakan tanah air kami sendiri nanti."
*
"Vlog hari ke 129 bersama Amy! Aku sedikit melupakan kegiatan vlog ku akhir-akhir ini. Karena memang kegiatan di sini cukup banyak, dan aku sudah mulai merasa nyaman dengan ini semua. Cukup menyedihkan memang."
"Tapi benar apa katamu. Semakin banyak pekerjaan yang kita lakukan, semakin mudah kita melupakan apa yang sudah terjadi. Kita sudah punya banyak obat di sini. Banyak senjata, serta rumah yang cukup bisa dibilang bagus."
"Tapi tetap saja, Arby. Aku merindukan anak-anak. Bukankah kita sudah cukup lama meninggalkan mereka? Apa yang terjadi dengan mereka? Apakah orang yang mau menampung mereka?"
"Baiklah sepertinya aku tidak bisa menangani bagian ini."
*
"Vlog hari ke 141 bersama Amy! Memang apa kebetulan atau memang di rencanakan, kami bertemu dengan putra dan putri kami lagi! Lebih tepatnya putra kami saja, karena putri kami sedang ditahan oleh Rickzan."
"Ya, Amy. Aku jadi merasa bersalah karena melibatkan mereka kepada masalah ini."
"Kau benar. Apakah sekarang kita harus menghentikannya?"
*
"Amy! Cepat! Aku sudah mengaktifkan ipad-nya!" Sekarang vlog mereka terdengar kacau. Terdengar suara Arby kemudian suara tembakan serta suara jatuh dari iPad itu sendiri.
"Vlog hari entah berapa! Aku yakin ini adalah vlog terakhir kami. Dan kamu juga yakin untuk memberikan ini pada anak-anak kami." Suara Amy menjadi berat.
"Ahmad, Nadin, maafkan orang tuamu ini nak! Kamu sudah melibatkanmu pada masalah sebesar ini padahal kami tidak pernah memberimu apapun. Akan kami meninggalkan kalian ketika kalian masih membutuhkan kasih sayang kami."
"Untuk Ahmad, aku senang kau punya tujuan yang sama dengan ayahmu, dengan ibumu juga. Ibu juga senang, karena kamu memiliki teman teman yang baik. Aku jadi penasaran apakah kau makan dengan teratur? Harus makan banyak ikan ya! Agar kau terus pintar!" Suara Isak tangis terdengar.
"Lalu untuk Nadin, ibu minta maaf karena memilih jalan seperti ini. Seperti yang ibu katakan sebelumnya, kamu merasa bertanggung jawab dengan Rickzan yang sekarang."
"Aku yakin Nadin agaknya menjadi yang paling sulit untuk menerima ini. Karena kami baru saja bertemu, baru saja berbicara. Tapi tetap dengarkan aku, Nadin. Carilah teman yang banyak, dan belajar lah terus. Ibu agaknya ingin melihatmu menjadi seorang peneliti terkenal. Tapi itu semua kembali padamu, karena hidup itu pilihan."
"Arby, silakan. Aku akan bergantian terjaga." Suara tembakan berhenti sesaat.
__ADS_1
"Aku tidak terlalu banyak meminta sesuatu. Pertama dan yang paling penting, tolong hapus semua file yang ada di komputerku." Nadin memberhentikan rekaman sesaat.
"Eh? Apa ini? Aku jadi penasaran apa isinya!" Dani tersenyum aneh. Nadin lantas melanjutkan rekaman suara itu.
"Tidak tidak! Jangan salah paham dahulu! Disana ada file tentang mesin waktu. Kalau kalian tidak ingin menggunakannya, tolong hancurkan atau hapus seluruh data di dalamnya. Supaya tidak lagi terjadi kesalahan yang sama. Bagaimana?" Semua menarik nafas lega.
"Ya. Aku meminta itu. Selanjutnya, sepertinya sudah dikatakan semua oleh ibumu. Jadi, ayah hanya akan mengatakan satu hal," suaranya terhenti sesaat.
"Aku menyayangi kalian." Dan rekaman itu selesai di sana.
"Nadin, kamu?" Ahmad sedikit mengkhawatirkan adiknya yang bisa saja memikirkan ini, atau menjadi sedih karenanya.
"Kenapa? Bukankah sudah kubilang, bahwa aku tidak akan sedih karena ini! Aku akan menjadi aku! Aku adalah Nadin, seorang jenius yang licik dan jahil. Bagaimana aku akan lupa?!" Nadin tertawa.
"Kau, kau benar juga, ya! Apapun itu, kami akan selalu mendukungmu, Nadin!" Jawab Ranti.
6 bulan kemudian...
"Haaachuu!!" Dani bersin dengan keras, bersama Dian menunggu Ahmad dan Ranti. Mereka berjanji untuk bertemu akhir tahun ini. Dan suasana yang mereka dapat adalah musim dingin. Oleh karena itu, mereka menggunakan setelan hangat di tubuh mereka.
"Uhh, maafkan kami! Kami terlambat." Ahmad terlihat melambaikan tangannya pada Dani.
"Hugh, kau sombong karena sudah menjadi penulis hebat, ya!" Dani sedikit menggerutu. Dia menepuk bahu Ahmad dengan cukup keras.
"Ahh, kalau soal itu, aku ingin mengatakannya dengan kalian. Berhubung ini adalah cerita kita, kita harusnya senang dengan ini. Aku juga mendapatkan penghasilan, dan kalian mendapat nama. Impas, bukan?" Kata Ahmad sambil sedikit tertawa.
"Baiklah baiklah! Dan tujuanmu adalah mentraktir kita kan?" Tanya Dani sambil melupakan kesedihannya tadi.
"Tapi kak Ahmad, bukannya kakak yang cocok untuk menjadi penulis, sedangkan biar Nadin yang menjadi penemu? Bukankah itu bagus?" Usul Dian.
"Hmm, itu sepertinya benar. Bagaimana menurutmu, Nadin?" Tanggap Ranti.
"Ahh, sejujurnya aku agak malas untuk menjadi peneliti. Jadi aku menyerahkannya pada kak Ahmad saja." Jawab Nadin sambil menggaruk kepalanya.
"Tuh kan! Aku juga tidak mau! Karena aku harus mencari bahan untuk dibuat cerita!" Jawab Ahmad asal.
"Whoa! Kalau begitu, ajak aku!" Kini Dani antusias.
"Kalau begitu, ayo kita ke mesin waktu dan kembali mencari hal yang bagus untuk dijadikan cerita!" Teriak Ahmad sambil mengangkat tangannya tinggi tinggi.
"TIDAK LAGI DENGAN MESIN WAKTU!!!!" Teriak mereka semua hampir bersamaan
__ADS_1
...-End-...