Five Days Or Die

Five Days Or Die
Chapter 32


__ADS_3

"Ibu?! Apa maksud ibu? Hei hei! Kalian bercanda kan?! Jangan bercanda denganku!" Ahmad berteriak tidak terima.


"Ahmad! Setelah menurut saja dan berikan ini pada Nadin nanti!" Amy sedikit menyentak Ahmad.


"Kalian bisa berikan sendiri pada Nadin nanti saat jika semua sampai di rumah. Selain itu Aku tidak mau dengar apapun!" Ahmad berbalik, bersiap untuk pergi. Tapi dengan segera dia ditahan oleh Amy yang menarik tangannya.


"Ahmad!" Amy berteriak keras yang membuat semuanya terdiam.


"Bukankah aku orang tuamu?" Ahmad diam.


"Bukankah aku orang tuamu? Hei jawab!" Nada Amy kembali meninggi.


"Ya tentu sa-" kalimat Ahmad terputus.


"Kalau begitu turutilah ibu!" Semua yang mendengar itu tersentak, kaget. Ahmad menunduk perasaannya kini kesal. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.


"Kita baru bertemu sekali setelah beberapa tahun bukan? Tapi kenapa kamu tidak mengerti ibu? Bukankah kamu adalah anakku? Harusnya kau menurut! Kenapa setelah terpisah sekian lama kau justru membantah ibumu?!" Tanya Amy panjang lebar.


"Ya, tapi kalau seperti itu, mustahil untuk aku menurutinya!"Ahmad berteriak. Ini matanya mulai berkaca-kaca.


"Ahmad, ini pilihan kami. Maaf berlaku keras, tapi kau tidak berhak untuk mengubahnya." Kini Arby angkat bicara.


"Ibu mohon, Ahmad! Seperti yang dikatakan ayahmu, ini adalah pilihan kami. Dan juga kami minta maaf jika keputusan kami ini egois. Kami tahu apa yang kami ambil, dan kami tahu resikonya. Karena itu, aku menitipkan iPad ini padamu," Amy mengambil tangan Ahmad, memberikan iPad itu.


Ahmad terdiam ketika menerima iPad itu. Walau sebenarnya hatinya menjerit, dia mencoba untuk tetap tersenyum. Tapi itu tidak cukup untuk menyembunyikan kesedihannya.


"Terima kasih, Ahmad! Kau sudah mau mengerti!" Amy tersenyum perlahan sambil terlihat menahan tangis. Ahmad yang tak tahan melihat itu hanya bisa tersenyum sambil memeluk ibunya.


"Baiklah! Aku akan segera masuk! Aku akan menghormati pilihan kalian. Tapi jangan berharap banyak pada Nadin!" Kata Ahmad sambil bersiap.


"Santai saja Ahmad! Aku tahu kalau Nadin pasti mengerti!" Kata Arby sambil memegang bahu Ahmad.


"Proffesor!" Rickzan mulai bangkit dari reruntuhan. Baju zirah nya yang sedikit terkoyak sudah pulih kembali.


"Ah Rickzan! Aku sedang berbicara dengan anakku. Kau bisa menunggu giliranmu nanti. Sabarlah!" Kata Arby sambil tersenyum.


Ahmad segera berlari masuk menuju Nadin dan teman-temannya. sedangkan pasangan peneliti itu bersiap memegang senjata plasmanya.


"Hei, Rickzan! Sebenarnya, apa yang kau kejar? Apa kau benar-benar membenci mereka?" Arby bertanya pelan.


"Entahlah. Kau bisa bilang seperti ini keegoisan dariku." Jawab Rickzan mengangkat kedua tangan ke samping.

__ADS_1


"Berarti kau sudah tidak memiliki tujuan lain, bukan?" Rickzan hanya terdiam.


"Oleh karena itu, ini semua akan berakhir!" Arby menutup pembicaraan.


***


"Ahmad!" Dani berteriak ketika melihat Ahmad kembali. Mereka semua segera memasang wajah senang. Ahmad juga segera mengecek hitungan mundur kepulangan mereka dari time hole.


"Bagaimana dengan orang tuamu?" Dani bertanya pelan.


"Mereka," Ahmad tidak bisa melanjutkan kata katanya.


"Mereka pasti akan menyusul!" Ranti menyela Ahmad dengan segera. Sepertinya, dia tahu keadaannya. Dan dia tahu, ini akan terlalu berat untuk Nadin.


Ahmad hanya mengangguk, membenarkan kebohongan itu. Dia tidak tahu apa yang harus dia ucapkan pada Nadin nanti. Tapi satu yang pasti, dia harus memberikan iPad ini pada Nadin. Mungkin tidak sekarang, tapi nanti.


BOOM! Ledakan terdengar dari arah pintu. Mereka semua segera menoleh dengan wajah takut, menatap ke arah pintu dengan segera.


"Amy! Segera masuk! Kita akan segera bersiap!" Arby berteriak sambil menembakkan beberapa ke luar. Terlihat segera Amy yang berlari masuk.


"Ayah! Ibu! Kalian kembali!" Nadin berteriak, merubah raut wajahnya menjadi senang. Selama ini dia memasang wajah khawatir, karena tahu kedua orang tuanya yang menahan Rickzan.


"Penghalang!" Amy berteriak keras, sambil melempar sesuatu ke arah Ahmad dan teman temannya.


"Ini?!" Ranti terheran.


"Jangan jangan?!!" Nadin mulai menyadari dan kini berteriak histeris.


Ya. Amy melempar sebuah alat yang cara kerjanya mirip milik Nadin tadi, yang mana membuat penghalang tidak terlihat, dan bagaimanapun itu, itu tidak bisa ditembus.


"Ibu! Apa maksud ibu? Bukankah kita baru saja bertemu? Kenapa?! Kenapa?!" Nadin berteriak, mulai mencoba mendobrak penghalang itu. Dia mencoba berbagai cara, tapi tetap, sekali itu terbentuk tidak bisa terhapus hingga waktu tertentu.


"Arby, aku sudah berhasil!" Amy bergumam pelan, berlutut.


"Hei! Jangan abaikan aku! Jawab aku!" Nadin berteriak teriak, mendobrak penghalang dengan kedua tangan kecilnya. Dia terus berteriak dengan air mata yang mengalir deras, menggambarkan betapa kecewanya dia pada orang tuanya.


"Aku akan menahannya!" Arby berteriak sambil terus menahan Rickzan yang terjatuh di luar. Sedangkan Rickzan, terus meraung karena tubuhnya sulit digerakkan semakin sering senjata Arby mengenainya.


"Nadin!" Amy mendekat, menempelkan kepalanya ke penghalang. Yang mana dibaliknya ada Nadin dengan mata putus asa yang tertawa dengan derai air mata.


"Hei, ibu! Katakan ini semua hanya bercanda! Iya kan? Ha ha! Aku tertawa!" Nadin tampak tidak bisa menerima kenyataan yang ada di matanya.

__ADS_1


"Nadin, maafkan ibu!" Amy berbicara perlahan. Wajah Nadin membeku dengan wajah tidak percaya.


"Nadin, walau kita hanya bertemu beberapa saat, tapi ibu sudah mengerti, apakah kamu sudah tumbuh dengan baik. Walau begitu, aku bukanlah ibu yang baik. Maafkan ibu meninggalkanmu sewaktu dulu. Maafkan ibu," Amy menangis.


Suasana menjadi canggung seketika. Nadin tidak mampu bersuara, menatap ke bawah dengan mata keputusasaan.


"Maafkan ibu sudah meninggalkanmu. Ibu hanya ingin kamu menjadi anak yang pintar, sehat, dan bisa kuat menjalani apapun. Apapun yang terjadi, ibu akan selalu menyayangimu. Sekali lagi maafkan ibu nak!" Amy berderai air mata menatap Nadin di dalam penghalang.


"Hiduplah dengan baik. Kau punya teman yang baik, kakak yang baik, dan pasti ibu yang baik di sana. Pilihlah jalan sesuka hatimu. Apapun pilihanmu kami berdua akan selalu berada di hatimu." kalimat Amy terhenti sesaat.


"Kami benar-benar menyayangimu!" kata Amy pelan. Tetes air mata tak terasa mulai jatuh turun dari mata Nadin.


"Aku ingin melihatmu tumbuh besar, sampai kuliah, sampai akhir nanti kau menikah. Melihatmu penuh dengan kebahagiaan, ketika ibu akhirnya memiliki cucu. Tapi sekali lagi itu semua hanyalah harapan ibu. Karena sebenarnya ini adalah pilihan ibu. Karena memang hidup ini pilihan!"


Kalimat Amy yang tadi menutup kalimatnya. Nadin tersentak, wajahnya dia tampak kehilangan sesuatu, tapi menemukan sesuatu lagi dalam dirinya.


"Apa kau sudah selesai, Amy?" Arby datang menghampiri dengan terengah-engah.


"Ya. Maafkan aku mengambil semua waktumu. Aku akan bergantian denganmu." Jawab Amy sambil mulai berdiri.


"Tidak tidak! Aku sudah mengatakan semuanya tadi. Aku hanya mengatakan beberapa, bahwa maafkan ayah mengajarimu teknologi. Dan juga, Aku suka kata-kata ibumu yang terakhir tadi. Hidup itu pilihan!" Kata Arby sambil tersenyum.


Keadaan menjadi hening setelah itu. Hanya ada suara deru angin serta ledakan-ledakan kecil yang berasal dari Rickzan di luar. Dari situ, terlihat Nadin yang sedikit tersenyum.


"Dia datang kah?" Tanya Arby sambil menoleh ke arah Rickzan yang zirahnya seperti tersetrum, berjalan perlahan mendekat.


"Ya! Ini adalah akhir dari kita!" Amy kembali menyiapkan senjata plasmanya.


"Ayah! Ibu!" Teriakan Nadin seketika membuat suasana menjadi hening. Mereka berdua dengan segera menoleh kearah Nadin yang sekarang tersenyum.


"Jangan minta maaf padaku ayah! Terima kasih sudah mengajariku teknologi. Terima kasih juga untuk ibu, walaupun hanya sebentar itu sangat menyenangkan! Aku sudah tumbuh baik dan benar seperti yang ibu harapkan. Tapi aku tidak yakin untuk pertemanan!" Nadin mulai berdiri dengan senyum di wajahnya.


"Aku juga tahu, ini adalah pilihan kalian. Aku tidak akan mempermasalahkan nya." Nadin sudah berdiri dengan senyum lebar.


"Nadin, kamu?" Ahmad sedikit terkejut melihat adiknya.


"Ibu! Ayah! Terima kasih!" Nadin masih tersenyum, sampai akhirnya dia tidak lagi kuat menahan air matanya.


"Dan juga!" Nadin berlutut, kembali mengalirkan air mata.


"Selamat tinggal!" Kata kata Nadin mengakhiri pertemuan hari itu. Ketika semua yang dilihat Ahmad dan yang lainnya menjadi putih, seperti mereka dibawa ke ruang kosong.

__ADS_1


Mereka pulang.


__ADS_2