
PoV: Ahmad
“Lepaskan aku! Lepaskan aku!” Nadin masih berteriak sambil memukul mukul lengan robot itu. Dan aku hanya diam di bawah sini tanpa melakukan apapun. “Kakak.” Gerak bibirnya kubaca sebelum akhirnya dia dibawa pergi.
Perlahan, aku terbangun, melihat wajah Ranti, wajah seseorang yang selalu menenangkanku dan menyemangatiku. Aku melihat ke sekeliling, kami berada di dalam rumah, dimana rumah yang memiliki fasilitas cukup lengkap. Paling tidak ada lampu yang masih menyala. Aku tahu, di luar pasti gelap gulita. Dan kulihat jam. Pukul 09:00 malam.
“Berapa lama aku pingsan?” tanya Ahmad pada Ranti.
“Sekitar 1 jam 30 menit.” Katanya. Aku masih merasa kehilangan, jelas.
“Aku mandi dulu. Disini ada air bersih. Ternyata orang tadi baik pada kita. Kamu harus bertemu dengan mereka.” Katanya. Aku agak heran.
“Kenapa kamu gak bersih bersih sejak tadi pulang?” tanyaku.
“Aku gak bisa tenang sebelum kamu bangun Mad!” katanya. Dan kemudian meninggalkanku.
***
Hari ini, dengan keajaiban, Nadin, menemukan jalan kami untuk bisa pulang, selain itu, Nadin juga yang melindungi kami saat kami terdesak.
Dia adalah adikku yang paling berani, dimana aku sebagai kakaknya hanya berlindung dibalik bayang bayangnya saja. Dimana harga diriku sebagai laki laki? Sebagai kakak? Seharusnya aku bisa melindunginya, dari bahaya apapun. Sedangkan yang kulakukan sekarang hanya duduk dan tidak melakukan apapun.
Nadin juga menemukan tempat yang harus kami tuju, tempat yang memiliki harapan kami. Dia memberikan semangat bagi kami untuk kembali bangkit.
Tapi ketika aku berusaha untuk memahaminya, kenapa hal ini terjadi? Apakah gunanya aku? Tidak ada! Aku tahu, dia adalah orang yang kuat. Tapi kata terakhir sebelum dia pergi.
“Kakak!” aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan.
***
“Mungkin kembali berjalan dan menyelamatkan adikmu!” sahut seseorang. Aku segera menoleh. Aku kaget. Apakah ini mimpi? Bukan! Aku baru saja kehilangan adikku. Tapi sekarang yang berada di depanku lebih mengejutkan.
“Ibu?” tanyaku pelan. Aku mencoba untuk tidak meneteskan air mata, ketika akhirnya aku berlari dan memeluk ibu dan merasa untuk tidak mau melepaskannya.
“Jadi, ibu selama ini masih hidup?” tanyaku.
“Yahh. Walau kami terlempar kemasa lalu, kami masih bisa bertahan disini.” Jawabnya.
__ADS_1
“Kami?”
“Ya! Kami.” Katanya sambil menoleh ke samping, aku kontan juga menoleh ke arah yang sama. Kulihat sosok yang sudah sangat lama tidak kulihat. Ayah! Aku segera memeluk mereka berdua.
“Aku kangen banget sama kalian, yah, bu!” kataku.
“Nadin juga pasti kangen juga sama kalian. Dia juga pasti senang jika dia ada disini.” Kataku kembali, merunduk sedih.
“Kami juga kangen banget sama kalian. Kami gak menyangka bakalan ketemu sama kalian lagi. Walaupun itulah doa kami setiap hari, agar bisa bertemu dengan kalian sekali lagi. Tapi ibu tidak menyangka akan dipertemukan dalam kondisi seperti ini.” Kata ibu.
“Ngomong ngomong, itu siapa? Pacarmu ya?” tanya ibuku.
“Yah, banyak hal yang sudah terjadi.” Aku tidak menentangnya, juga tidak mengiyakan.
“Ayah! Ayah seharusnya bisa kembali kan? Kenapa kalian tidak kembali bersama kami? Ayah sudah menemukan jalan pulang bukan!” tanya ku padanya.
“Jadi kalian sudah membaca buku catatan ayah ya? Pantas saja kalian mengarah ke sini. Yah seperti yang kamu katakan, banyak hal yang sudah terjadi. Itu juga keinginan kami, Ahmad. Hanya saja, waktu tidak mengizinkan.” Kata ayah sambil sedikit mengepalkan tangan. Sepertinya ia kesal.
“Kami seharusnya tidak berada disini, dan kalian tidak sepatunya menderita. Ini semua karena Rickzan terkutuk itu. Aku tidak akan memaafkannya ketika aku bertemu langsung dengannya.” Kata ibu, juga ikut emosi. Aku tidak tahuapa yang terjadi, tapi sepertinya ini hal yang serius.
“Tentu saja. Tapi sekarang, dimana teman temanku yang lain?” tanyaku menanyakan kabar Dani dan juga sepupunya.
“Ohh, mereka sedang beristirahat di kamar sebelah. Biarkan saja.” Jawab ibuku.
“Jadi begini. Ayah sebenarnya sudah menyadari adanya kelemahan dalam penjara waktu. Dan ayah pun melaporkannya ke atasan ayah. Tapi mau bagaimana lagi, ayah hanyalah bawahan, yag harus menurut dengan ucapan atasan. Jadi ayah cerita dengan asisten ayah, Rickzan. Rickzan sudah bekerja bersama dengan ayah sekitar 5 tahun. Pada saat proyek pembuatan mesin waktu, ayah mempercayakan bagian perancangan mesin pada Rickzan. Tapi sejak dia mendengar kelemahan penjara waktu, dia berubah menjadi pribadi yang lebih tertutup.” Cerita ayahku.
“Lalu?” tanyak meminta keterangan lebih lanjut.
“Insiden terjadi ketika peluncuran prtama mesin waktu. Ketika mesin waktu membawa kami ke beberapa tahun yang lalu, kami menyadari kesalahan yang terjadi. Dan ketika sampai, mesin waktu itu meledak dan rusak, kai segera mencari “time key” tapi, ketika kai sudah menemukannya, tipa tiab ridawan merebutnya dan pergi meninggalkan kami semua.” Cerita ayah dengan lengkap dan jelas.
“Jadi begitu kronologinya. Jadi Rickzan sudah merencanakan semuanya?”
“Mungkin iya mungkin tidak.” Jawab ibu singkat.
“Dan sekarang, dia mengincar “time key” milikmu. Sekarang, dimana benda itu berada?’ tanya ayahku. Aku seketika kembali merasa sedih.
“Nadin yang menemukannya, jadi aku merasa dia berhak untuk membawanya.”
__ADS_1
“Jadi sebenarnya Rickzan sudah membawa “time key”?"
“Ya.”
Itu mengakhiri percakapan singkat kami. Tidak ada cara lain lagi. Aku harus menjemput adikku. Dia bersama dengan benda paling dicari, time key. Tidak ada jaminan dia akan selamat setelah Rickzan menemukan time key itu. Aku ingin segera pergi meninggalkan orang tuaku dan teman temanku. Entah kenapa, aku menjadi bertindak gegabah. Ketika akhirnya di depan pintu ada sesorang yang menghadangku.
“Kamu mau kemana?” tanyanya. Dani rupanya.
“Adikku membutuhkanku! Aku harus segera kesana!” kataku tegas.
“Kenapa kamu tidak mengajak kami?” tanya Ranti yang kini muncul.
“Karena..” aku tak mampu menjawabnya.
“Kenapa Mad? Kamu pikir kami hanya beban? Dan kami hanya mempersulit kamu? Itukah yang kau pikirkan?” tanya Dani dengan nada yang mulai naik.
“Bukan begitu, tapi,” aku takmampu melanjutkan kata kataku. Aku menunduk, merasa bersalah pada teman temanku.
“Kenapa Mad?” Ranti menutut penjelasan.
“Itu karena aku tidak bisa melihat kelian terluka lagi! Kalau aku ke sana, paling tidak adikku bisa selamat. Tapi aku tidak yakin dengan diriku sendiri. Aku takut, jika kalian ikut, kalian akan bernasib sama denganku. Ini adalah misi bunuh dirii. Aku tidak ingin melibatkan kalian semua dalam masalahku ini.” Jelasku mengatakan semuanya.
“Masalahmu, masalah kami juga. Apa guna teman jika tidak ada di samping temannya di saat dibutuhkan? Teman macm apa itu?” Ranti mulai merangkulku.
“Ya! Itu benar. Kalau kita yang memuainya, maka kita yang akan mengakhirinya.” Dani yang biasanya negative thinking sekarang menghiburku
“Dan kamu tidak bisa bilang, bahwa kamu tidak ingin melibatkan kami. Kami sudah terlibat hingga sejauh ini. Jadi yahh, mau tidak mau, kita harus ikut.” Kembali, kata kata Dani memotivasiku.
“Jangan lupakan kami. Kami juga terlibat dengan masalah ini!” kata ibu yang keluar dari dalam kamar.
“If you ever find yourself stuck in the middle of the sea,” nyanyi Dani pelan. Lagu yang baru saja kami dengar ketika sampai. Lagu yang menceritakan tentang persahabatan. Dan, yaah, kami semua menyukai lagu itu.
“I'll sail the world to find you.” Lanjut Ranti.
“Ayolah, kenapa tidak?” kata Ranti. Dan akhirnya kami menyanyikan lagu itu. “Count on Me” dari Bruno Mars. Lagu yang sebelum ini tidak kami ketahui, ternyata menjadi pemersatu saat kami terpecah.
“Baiklah, bersama, kita bisa lalui semuanya!” kataku mantap.
__ADS_1