Five Days Or Die

Five Days Or Die
Chapter 20


__ADS_3

Third Person PoV


“Apa ini?!” teriak Ranti, ketika menyadari sesuatu sedang merayap melewati kakinya. Dia segera menangkapnya. Seperti robot kecil! Gumamnya.


“Apakah ini salah satu alat dari Rickzan? Ah sepertinya tidak mungkin! Bentuknya pun bagus, mirip Kristal! Aku harus melaporkannya pada teman teman!” teriaknya sambil segera menuju ruang utama sambil memegang erat alat yang berusaha untuk kembali berjalan, menuju tujuannya.


“Bapak! Ibu! Ahmad! Dani! Coba kalian lihat apa yang aku temukan!” teriak Ranti ketika masuk.


“Wah! Apa ini? Robot! Apakah ini milik Rickzan? Kuhancurkan ya!” kata Dani sudah bersiap akan mengayunkan buku besar yang dia bawa.


“Eh jangan! Siapa tahu robot ini milik ayah atau ibu!” kata Ahmad mengentikan Dani. Mereka pun menunggu Arby dan Amy datang. Dan kembali, ada suara setengah berteriak dari dalam.


“Semuanya! Kami mendapatkan informasi!” kata Amy sambil tergopoh gopoh datang berkumpul bersama semuanya. Kemudian, dia melirik ke arah Ranti. Dia pun heran sebentar, dan kemudian bertanya pada Ranti.


“Apa itu?” tanyanya.


“Nah kaan! Bukan milik mereka! Biar kuhancurkan!” Dani kembali siap mengayunkan buku.


“Eh! Jangan! Siapa tahu ini robot punya Nadin!” teriak Arby, meloncat menyelamatkan robot itu dari hantaman buku. Mereka semua kaget. Ranti, Ahmad, dan Dani pun saling berpandangan. Sedangkan, Dian yang tidak mengerti pun hanya melongo melihat mereka semua mengatakan hal yang tidak dia mengerti.


“Robot dari Nadin? Tidak mungkin!” kata Dani.


“Memang anak itu luar biasa!” kata Ranti.


“Yahh, memang. Dia bisa seperti itu karena seseorang, mengajarinya semuanya tentang teknologi. Sejak awal aku sudah tidak setuju untuk mengajarinya. Tapi tetap saja, seseorang bersikeras untuk mengajarinya.” Kata Amy melirik pasangannya.


“He! Tapi itu berguna sekarang! Eh coba lepaskan robot itu!” kata Arby, membela diri dan mengalihkan perhatian.


“Baiklah.” Ranti menurut. Dia melepaskan robot itu. Robot itu mengibaskan tubuhnya bagai kucing kecil yang basah. Dia segera berjalan, dan menuju Ahmad. Di samping Ahmad, dia menjatuhkan sebuah microchip. Setelah itu, dengan segera robot itu berubah kembali ke bentuk awalnya.

__ADS_1


“Kunci waktu!” teriak Arby.


“Computer chip!” teriak Dani.


“Kunci waktu! Kita selamat!” Arby seketika senang.


“Jangan lupa Nadin! Dia yang membuatnya! Jadi itu yang palsu!” kata Amy menyindir Arby. Arby kembali terduduk, mengingat itu. Sedangkan Dani, dengan segera mengambil microchip itu, dan segera memasangnya pada ipad Ahmad. Tiba tiba, muncul hologram Nadin disana.


“Halo! Kakak! Teman teman! Aku beruntungnya masih hidup. Disini aku menjalani beberapa kekejaman Rickzan, hanya saja aku mendapatkan beberapa informasi. Selain mengatakan informasi, aku juga ingin memberikan rencana yang sudah kubuat. Semoga kalian mau melakukannya.” Kata Nadin di hologram tersebut. Ahmad menghentikan sementara untuk meminta pendapat teman temannya.


“Wow! Pada saat yang terdesak pun, dia masih bisa memikirkan rencana, dan bisa membuat alat secanggih ini! Luar biasa!” Ranti kagum pada Nadin. Ahmad tersenyum mengetahui adiknya baik baik saja.


“Beruntung kita memilikinya.” Kata Arby sambil tersenyum melirik Amy. Dengan segera, Ahmad melanjutkan video hologram tersebut.


“Yahh, rencanaku sedikit berbahaya, namun aku yakin, kita bisa. Seperti yang kalian lihat, yang mengantarkan pesan ini adalah sebuah robot replica time key. Aku sudah berusaha keras untuk membuatnya mirip dengan time key aslinya. Walaupun itu sulit. Aku juga sudah mendapatkan beberapa informasi. Diantaranya, bisa di pause untuk dicatat,” segera Ahmad mengambil ipadnya, dan memasukkannya ke dalam cerita miliknya.


***


“Hufft aku capek. Dan juga, aku masih memegang kunci waktu yang asli.”


“Ini benar benar menyakitkan! Aku hauss. Ahh heeelp! Lanjut ke rencananya. Aku harap kalian berani untuk melakukan ini semua. Kalian semua aku butuhkan untuk keberhasilan rencana ini. Aku membaginya menjadi 2 kelompok.”


“Kelompok pertama, kak Ranti dan juga Dian. Kalian kalau bisa masuk ke dalam pesawat ini, dan mengambil sebuah pesawat, untuk melaksanakan rencana selanjutnya. Jangan takut, kamera pengawas tidak ada di sini, apalagi penjaga. Aku bahkan dikurung di tempat yang sebelumnyakamar, tapi diberi batas saja. Jadi kalian akan mudah untuk masuk dan keluar dari tempat ini.”


“Tim kedua, ada kakak dan kak Dani. Disini, tugas kalian tidak mudah. Kakak akan menyerahkan time key palsu pada Rickzan, dan secara otomatis aku sudah berada di tangan kalian. Sebelum itu, kalian coba mengulur waktu dehh, supaya tim 1 mendapat lebih banyak waktu untuk bisa datang tepat waktu.”


“Sebenarnya aku butuh 2 orang teknisi di tim 1 hanya saja, kita kekurangan orang sedangkan tim 2 lebih membutuhkan jumlah. Kembali ke rencana. Ketika aku sudah berada di tangan kalian, aku ingin tim 1 memberikan tembakan perlindungan, agar aku bisa masuk dengan aman dan makan serta minum. Aaah serett.”


“Selanjutnya, kita akan pergi ke tempat time hole selanjutnya, tidak terlalu lama jika kita menggunakan pesawat yang sudah kita dapat tadi. Aku akan segera meledakkan bom nya dan booom! Tamat sudah. Kita semua bisa pulang. Aku harap kalian bisa melakukannya. Aku harap kalian bekerja sama. Dan aku harap, kalian berhasil. Aku tidak bisa membantu banyak, hanya ini yang bisa kubantu. Dan juga, jangan lupa gunakan ipad ku yaa! Di sana lengkap banget dah. Sayangnya disini dihancurin sama orang tua ga ada akhlak! Disini, peran tim 1 sangat penting, karena kalian harus cepat, karena kalau tidak, bisa bisa rencana kita gagal! Aku berharap banyak pada kalian semua. Kembali lagi, aku meminta maaf aku tidak bisa membantu. Semoga kalian berhasil!”

__ADS_1


***


Ahmad mengakhiri rekaman itu. Mereka semua terdiam. Saling pandang, entah apa yang ada dalam pikiran mereka semua.


“Kamu sudah sangat banyak membantu, Nadin. Tanpa kamu, kami tidak bisa apa apa.” Ahmad membuka percakapan. Semuanya menganggguk.


“Hei! Bagaimana jika kita ikut, dan nak Dani bisa ikut menjadi tim 1? Kan Dani juga teknisi bukan?” usul Amy.


“Wah ide bagus tuh! Dengan begitu tim 1 bisa lebih cepat.” Sahut Dani.


“Dan kami juga bisa memberi tembakan perlindungan untuk Nadin! Sudah menjadi kewajiban kami untuk menjaga anak kami,” kata Arby, ayah Ahmad. Mereka semua segera mengangguk setuju.


“Kalau begitu, kenapa kita tidak bersiap sekarang? Agar kita bisa menyerang besok?” kata Ranti mulai berdiri dan mengacungkan tangan mengajak tos bersama. Kembali, Ranti menjadi penyemangat diantara mereka semua. Ahmad berdiri, dan segera menempekan tangannya. Ayah dan ibu Ahmad juga segera berdiri, diikuti Dani, dan Dian.


“YA!” teriak mereka semua dan semua pun segera bubar, dan menyiapkan diri masing masing. Amy dan Arby, segera menuju gudang penyimpanan senjata, dan mengambil semua senjata yang mereka punya. Mereka tidak memiliki senjata masa depan sama sekali, tapi senjata ini cukup kuat.


“Ayoh! Bantu kami menyiapkan peluru untuk semua senjata ini!” kata Arby semangat.


“Wow! Kalian seperti tentara! Dapat dari mana kalian?” tanya Dani.


“Ini hal mudah! Ayo pilih senjata kalian, dan segeralah berkemas!” kata Arby segera mengambil senjata yang dia suka.


“Hufttt kita akan berperang kali ini, Rickzan!” kata Arby geram. Malam itu menjadi malam yang terasa singkat dimana mereka merasa sangat bersemangat dimana saat itu, mereka merasa semua yang dirancang Nadin sudah sangat sempurna. Itu juga malam yang sangat singkat bagi Dian, yang belajar menembak hanya dalam satu malam. Tapi mau bagaimana lagi, mereka semua yang ada disana harus siap tempur ketika esok menjelang. Malam keempat yang menegangkan, sedangkan Nadin masih duduk sambil tersenyum, percaya pada keluarganya dan tema temannya. Karena kepercaaan itulah yang membuat mereka kuat, dan kebersamaan lah yang membuat mereka terikat.


Pagi menjelang, dan Amy melakukan breefing pada anak buahnya sebelum bertempur. Mereka sudah siap dengan papun yang akan terjadi selanjutnya.


“Kalian masih ingat rencana kemarin bukan? Kalian harus mengerjakan tugas dengan benar, cepat, dan cermat. Kita harus berhati hati. Dan aku minta pada tim 1, kalian sangat penting disini, jadi aku tidak ingin ada kesalahan. Kita berangkat sekitar pukul 8, maka kita akan sampai disana sekitar pukul 1. Bagaimana? Siap?” kata Amy menyemangati semuanya.


“Ya kami siap.” Mereka pun melakukan tos, sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil masing masing.

__ADS_1


__ADS_2