Five Days Or Die

Five Days Or Die
Chapter 19


__ADS_3

Pov: Nadin


“Hoiii! Malaikat! Kenapa tidak ada yang menjemputku ke tempat pengadilan?” teriakku menggema. Di tempat gelap itu.


“Apakah aku merupakan orang jahat? Apakah aku bisa masuk surga? Apakah aku bisa bertemu dengan ayah dan ibu?” aku mulai menangis, sendirian tanpa ada orang yang bisa atau mau menghiburku.


“Tentu saja kau bisa, nak!” seseorang berkata.


“Yahh, kalau aku masuk surga sekarang. Kematian membuatku cerewet.” Kataku.


“Tidak nak! Kamu belum meninggal!” ucap orang itu. Aku mengangkat muka, dan melihat 2 sosok yang sering kulihat.


“Ayah?! Ibu?!” teriakku. Aku dengan segera berlari memeluknya.


“Aku kangen banget sama kalian, yah, bu!” aku sangat senang bisa bertemu mereka.


“Apakah aku masuk surga ekspres ya? Bisa langsung bertemu kalian,” kataku menggandeng tangan mereka berdua.


“Sekali lagi ibu katakan, kamu belum meninggal. Dan juga, kami masih hidup. Kami sedang menghubungimu lewat mimpi, nak!” tegas ibuku.


“Jadi, aku masih hidup? Dan ibu juga?” tanyaku memperjelas. Ibu mengangguk yakin.


“Bagaimana dengan kak Ahmad? Apakah dia baik baik saja? Dimana dia sekarang? Terus, dengan teman teman yang lain bagaimana?” sifat lamaku muncul. “Ssst!” kata ibuku. Aku tersenyum, menghadap bawah. Sedikit malu.


“Kamu itu pelan pelan! Satu satu! Santai aja santai. Kami disini ingin mengetahui keadaanmu sekarang! Juga memastikan yang lain.” Kata ibuku menenangkan ku.


“Ahmad dan yang lain ada di sini. Jangan khawatirkan mereka!” sahut ayah. Dia mendekat.


“Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanyanya. Aku menangis, memeluk mereka berdua. Mungkin mereka berdua bingung, tapi aku tidak peduli. Aku mencurahkan semua tangisku pada mereka. Ibu mengusap rambutku.

__ADS_1


“Aku kangen banget sama kalian berdua! Aku sudah mengetahui segalanya dari Rickzan! Bagaimana rencananya, dan mengapa dia melakukan hal itu. Penghianat kejam itu bahkan bahkan juga memberitahuku bagaimana dia bisa kembali, meninggalkan ayah dan ibu, dan segala kejahatannya. Dia juga bahkan berniat mnukarku dengan benda itu.


“Sekarang, apa kamu baik baik saja?” tanya ibu. Mungkin jawabanku seblumnya kurang menjawab pertanyaan itu.


“Yaah, beginilah aku. Aku sampai merasa hampir mati, maksudku merasa mati karena memang “perlakuan baiknya” padaku.” Kataku sambil menggerakkan dua jari di kedua tanganku pada kata “perlakuan baik”.


“Aku sering disetrum, mungkin itu saja sih selain siksaan mental. Yang lebih menyakitkan adalah siksaan mental darinya. Ketika dia memberi tahu bahwa dialah yang merencanakan semua ini, aku seperti marah, sangat marah padanya. Sedikitnya, itulah yang dia lakukan padaku. Tapi kalau hanya segini, aku juga masih kuat kok,” kataku menenangkan mereka.


“Dasar Rickzan! Dia memang sudah berubah!” kata ayahku geram.


“Dia bukan berubah! Dia sudah merncanakan semuanya!” sahut ibuku.


“Ayah, ibu, aku sudah memiliki rencana sendiri, aku sudah mengirimkan rencananya pada kalian. Ditunggu saja! Aku sudah berhasil mendapatkan beberapa informasi penting darinya.” Kataku melerai mereka berdua.


“Kamu sudah memiliki rencana?” tanya ayah.


“Kalau diingat ingat, umur kamu belum bisa..”


“Ayah mau aku marah lagi? Ayah tahu kan? Kejadian terakhir setelah aku marah? Lebih baik aku tidak marah saat itu.” Kataku, menyilangkan kedua tanganku di depan dadaku. Ibuku menggeleng gelengkan kepala.


“Kamu sebagai ayah harus mendukung anakmu sendiri!” kata ibu sambil mencubit ayah. Aku hanya tertawa sendiri.


“Baiklah Nadin, ibu percaya padamu. Apapun yang kamu rencanakan, itu pasti rencana yang bagus dan sedikit jahil!” kata ibuku sambil menekankan kata “jahil” di akhir kalimat. Aku tertawa.


“Ya! Aku selalu percaya pada Nadin. Karena kau, adalah anak kami, pasangan ilmuan terpintar di dunia!” kata ayahku memegang pundakku. Aku tersenyum. Tiba tiba, ruangan sekelilingku berubah menjadi terang, dan ibuku juga memegang pundakku sambil tersenyum bangga.


“Kami percaya, Nadin! Tampaknya, kesadaranmu mulai datang. Tunggu kami, beserta rencanamu datang menjmputmu. Bertahanlah sebentar lagi.” Kata ibuku.


“Aku serahkan rencana selanjutnya pada kalian semua!” dan cahaya semakin terang, membuat mataku silau. Aku menutup mataku sebentar, dan mendapati diriku yang kembali berada di penjara canggih.

__ADS_1


“Selamat sore. Lama sekali kau tidur? Sekarang, apa yang ingin kau lakukan?” sambut Rickzan yang menyambutku kembali ke kehidupan yang suram ini.


“Bisakah aku mendapat sesuatu untuk makan?” tanyaku.


“Oh ya! Aku sampai lupa akan hal itu.” Dia mengambil sebungkus roti, dan melemparnya padaku, dengan mudah aku menangkapnya. Dia tetap berada di situ sampai aku selesai makan. Setelah selesai makan, dia bertanya padaku.


“Apa yang akan kau rencanakan selanjutnya?” tanyanya.


“Duduk diam disini, menunggu kak Ahmad datang untuk menukarku dengan kunci waktu.” Kataku.


“Apakah kau tidak mau melawan lagi?” dia mulai tertawa.


“Yahh, apa gunanya aku melawan? Aku akan mati jika aku terus melawan. Sedangkan jika aku mati, kau pasti akan repot. Karena janjimu pada kakakku. Aku tahu pasti kau setidaknya adalah laki-laki sejati yang tidak pernah ingkar janji.” Kataku menyanjungnya.


“Ya! Benar! Aku adalah laki-laki sejati. Tapi, jika hingga 3 jam sebelum waktu habis, akan kucari dia, dan kubunuh kalian satu persatu!” katanya. Aku hanya mengangguk.


“Aku sudah mengenalmu. Kau itu tegas dan tetap pada pendirianmu. Kalaupun kakakku berencana untuk lari sendirian, kau tidak akan memebiarkannya begitu saja bukan? Disini adalah titik time hole. Kau sangat pintar sekali. Tapi aku yakin, kak Ahmad akan menukarnya sebelum waktu habis.” Kataku, kembali menyanjungnya.


“Bagaimana kau tahu?” tanyanya.


“Mudah untuk mengetahuinya, ketika kita bisa memperkirakan kecepatan pesawat ini, dan lama pesawat ini mengudara. Mudah bagiku mengetahuinya.” Kataku.


“Pintar memang pintar. Aku sangat mengapresiasimu,”


“Hidup itu pilihan. Aku memilih untuk menunggu, bukan melawan. Pilihan kita masa kini, dapat berpengaruh besar bagi masa depan,” aku sedikit banyak bicara.


“Pintar kau! Aku sampai merasa bersalah karena sudah melakukan semua ini. Tapi satu yang kutahu, aku pasti akan mengukir namaku dalam sejarah!” tegas Rickzan, sambil berlalu meninggalkanku.


Aku hanya tersenyum, duduk bersandar di dinding, menunggu orang tuaku, dan kak Ahmad beserta teman teman yang lain. Aku senang, mendengar mereka semua selamat dan dalam keadaan sehat, dan juga baik. Setidaknya hingga kini. Aku hanya bisa berharap pada mereka semua.

__ADS_1


__ADS_2