
PoV: Nadin
Aku bangun di tengah malam. Ku melihat kakakku yang sepertinya tidak bisa tidur. Aku tahu beban berat yang saat ini dia tanggung. Aku tidak tahu, apa yang menanti kami selanjutnya, tapi aku harus selalu siap.
Aku memilih berjalan jalan mengitari gudang, dan melihat lihat. Ketika akhirnya aku sampai kembali ke gudangku, dimana ada meja ayah yang belum diubah sama sekali sejak insiden hilangnya ayah dan ibu.
Aku bahkan masih merasa belum pantas untuk membuka meja tersebut. Tapi aku berfikir, jika tidak sekarang, aku tidak akan bisa membukanya selamanya.
Aku membuka laci meja, berisi foto keluarga kami, dan beberapa kertas kertas. Sinar bulan yang cukup terang menyinari foto keluarga kami. Aku kembali menangis mengingat kami, dengan cara yang sama “menghilang” dari dunia ini.
“Jika kalian ada disini, aku ingin bertemu dengan kalian walau hanya sekali saja.” Ucapku sambil mengusap air mataku. Aku mengambil buku tua, yang nampaknya seperti buku catatan ayahku.
Buku itu tidak rapi, dan banyak kertas yang diselipkan di buku itu. Seperti kebiasaan ayahku, dia sering membuat mind mappingnya di atas kertas. Aku membacanya satu per satu, sampai akhirnya aku mencapai 3 hari sebelum tanggal dimana ayahku menghilang, atau tanggal dimana catatan itu akan berakhir.
Kejadian mengerikan itu terjadi sekitar 7 tahun lalu, dimana aku mengikuti ayahku untuk melihat peluncuran mesin waktu. Aku pun diperlihatkan rancangannya. Kata ayahku, rancangan itu bukan miliknya.
Namun milik asistennya, Rickzan. Dia juga seseorang yang ikut bersama ke dalam peluncuran itu, tapi ajaibnya, dia tidak menghilang seperti ayah ibu dan yang lain.
Tapi sayangnya, besoknya dia membobol fasilitas gar tech dan menyebabkan kerugian negara yang sagat banyak. Sebulan kemudian dia ditangkap dan tiba tiba menghilang.
“Ini..” aku melihat salinan artikel yang kutemukan kemarin. Aku mulai membacanya.
“Penjara waktu. Yaah aku tahu ini hukuman untuk orang yang tidak bisa kembali lagi ke masa depan. Tapi, aku menemukan beberapa kelemahan ruang dan waktu. Bisa dilihat disisni, bahwa ketika kami sedang melakukan uji coba, konsep ruang dan waktu di bumi masa lalu, akan terjadi 12 robekan, dimana ke-12 robekan itu akan membuka satu persatu, sampai akhirnya berhenti di lubang ke 12, yang letaknya paling dekat dengan titik awal perpindahan.apa yang kumaksudkan kelemahan, ada disini.”
“Jika penjara waktu dibuat, dan ke 12 lubang ini terbuka, maka orang yang masih bisa mengingat dengan baik dia bisa kembali ke masa depan, melewati salah satu dari ke-12 lubang tersebut, yang kusebut time hole.” Aku mengernyitkan dahi, bingung.
“Caranya adalah, dengan memegang memasukkan kunci waktu kedalam wadah yang kusebut time hole, maka dengan segera time hole akan membentuk sebuah lingkaran, yang akan membawa sema benda yang berada di dalamnya dan kembali ke masa depan. Tetapi, fenomena alam ini hanya terjadi sampai 5 hari setelah perjalanan. Aku sudah mengutarakan ini pada ketua, tapi tetap mereka tidak mau mendengar.”
“Apa?! Jadi sebenarnya ayah bisa kembali? Kenapa dia tidak bisa kembali? Kenapa dia tidak kembali kepada kami? Apa yang terjadi?” aku segera melanjutkan membaca catatan tersebut.
“Aku tidak memiliki orang lain untuk menceritakan ini. Dan aku hanya bercerita kepada Rickzan, asistenku. Dan dia pun bisa mengerti. Walaupun begitu, aku tidak begitu yakin dengannya. Karena itu, aku mengajaknya ikut. Dia menolak dengan susah payah.”
“Tapi aku terus memaksanya dan mengancam untuk membatalkan proyek ini. Pada suatu ketika, aku pernah memergokinya sedang membaca buku ini disini. Dia berdalih sedang membereskan barang barang. Tapi tetap, aku tidak percaya padanya.” Tulisan itu berakhir disini.
__ADS_1
Selanjutnya, dilanjutkan dengan gambar gambar buatan ayah, yang mengungkapkan teorinya. Ada gambar bumi, beberapa sketsa time hole, dan titik titik kemunculan time hole itu.
“Atau jangan jangan, asisten ayah dan ibu kembali dengan menggunakan time hole ini? Apakah dia sengaja melakukannya?” pikiranku kalut. Kuputuskan untuk terus melihat gambar di sebaliknya.
Ada foto Rickzan disana. Segera kubuka bagian bawahnya. Kulihat gambar sebuah benda yang menurutku tidak asing, dan digambar penuh pada satu halaman. Dibawahnya kulihat tulisan “Time Key” yang membuatku menyimpulkan, itulah kunci waktu.
Kulihat lamat lamat , lalu kuambil gambarnya dengan kacamataku, dan aku sangat yakin aku pernah melihatnya.
“Dimana benda itu sekarang? Haruskah aku mencarinya? Kataku sambil kembali memotret gambar lokasi lokasi yang diperkirakan munculnya “time hole”. Aku duduk. Ini merupakan salah satu atau mungkin satu satunya jalan untuk bisa pulang.
Aku merasa bingung. Rasanya ingin marah pada asisten ayah dan ibu, tapi aku tidak tahu lagi. Tiba tiba aku teringat, dan mengambil barang dari saku bajuku. Itulah kunci waktu! Selama ini jalanku untuk kembali berada d sakuku!
Aku melompat kegirangan dan menggebrak gebrak lantai. Aku menggebrak dan menyebabkan suara ledakan yang begitu besar hingga aku pun terjatuh.
“Masa aku lompat doang sampe kaya gitu? Lebay deh!” kataku. Mungkin itu berasal dari luar aku segera mengintip sedikit demi sedikit. Aku melihat pesawat yang seharusnya tidak ada di tahun ini dengan lampu dan persenjataan yang lengkap. Dan ketika bodi pesawat terbuka, aku melihat pengendaranya.
“Dia?!” katakau setengah berteriak, segera mengambil ipad ku, untuk berjaga-jaga.
“Aku tidak tahu apa yang kau maksudkan! Siapa kau?!” kak Ahmad mulai terbangun. Segera saja ipad ku kuubah ke mode bertahan, membuatnya menjadi meriam kecil.
“Ini tidak cukup! Aku butuh lebih besar.” Kataku
“Semuanya! Mundur!” teriakku seketika. Aku mengubahnya ke mode penghancuran, yang membuat ukurannya jauh lebih besar dan menyatu ke tangan kananku. Walau sebenarnya alat itu cukup berat, tapi rasa amarahku dan perasaan balas dendam membuatku kuat.
Bidikanku sempurna. Kuarahkan ke bagian mesin benda itu, agar secepatnya meledak. Walau bisa bertahan, itu hanya untuk beberapa saat dan akhirnya aku berhasil. Dia pasti mundur, kurang membawa perlengkapan. “Hah! Kau terlalu meremehkan kami.” Kataku dalam hati.
“Aku akan kembali. Ketika aku kembali, kau harus siapkan apa yang aku inginkan. Jika tidak,” dia menjatuhkan sebuah benda, aku menduga itu adalah bom.
“Semuanya! Keluar!” kak Ahmad berteriak. Tanpa diberi aba aba selanjutnya, kami semua segera keluar dari gudang itu. Semua tampak terpuruk melihat keadaan, dan sepertinya hanya aku yang senang, yaah, mereka semua pasti akan merasa senang setelah ini.
“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” kak Ranti yang sudah mulai bingung.
“Kita akan pulang!” segera ku berikan buku diary ayah pada kak Ahmad.
__ADS_1
“Coba lihat halaman ini. Dan ini, dan kita sudah tahu kemana kita akan pergi, bukan? Ke arah barat, terus, hingga 500 km dari sini. Jika kita cepat, kita pasti akan sempat.” Kataku sangat bersemangat. Kak Ahmad masih memandangi itu. Segera, kak Dani dan Dian datang mendekat, dan aku masih menunggu jawaban kak Ahmad.
“Wo wow wo. Sabar dulu Nadin. Dimana kita bisa menemukan time key?” tanyanya. Aku sudah menduganya.
“Aku menemukannya saat bersih bersih! Bagaimana? Bisa kan kak?”
“Waktu kita hanya 5 hari! Apa yang harus kita lakukan?” kini kak Dani mulai angkat bicara. Aku terdiam sebentar, memikirkan hal itu.
“Di zaman ini sudah ada mobil, Danii! 500 km, 4 hari. Jika tidak ada kendala apapun, kita bahkan bisa sampai di sana hanya dalam setengah hari!.” Kata kak Ranti menyemangati. Kami semua segera sadar, kami masih memiliki harapan untuk “hidup”.
Seketika, mereka semua melupakan kejadian tadi, dan segera turun menuju kota yang sepertinya kembali sepi, seperti kota mati.
Ya memang! Hanya dalam satu malam, kota yang sebenarnya indah tersebut telah berubah menjadi kota yang tidak berpenghuni, ditinggalkan. Kini, mereka yang tersisa hanya bersembunyi di dalam rumah rumah kecil, dan yang tersisa pun tidak banyak.
“Benarkah ini kota yang kemarin kami kunjungi?” tanya kak Dani sambil bergidik ngeri.
“Jika kau terlalu lama disini, mungkin kau sudah menjadi bagian kota ini!” kata kak Ranti. Kami segera mencari mobil yang terparkir di sebuah stasiun pengisian bahan bakar, dengan bensin yang sudah terisi penuh. Untuk berjaga jaga, kami juga membawa satu derigen bensin agar kami tidak perlu berhenti lagi.
“Hei! Kita sarapan dulu! Masih ada beberapa yang tersisa. Kata kak Ranti sambil melemparkan beberapa roti lapis ke kami semua.
“Semuanya masih baik. Bahkan ini ada yang masih baru. Aku heran, mengapa mereka semua meninggalkan makanan yang sangat berharga? Padahal pada tahun ini, benda inilah yang paling mereka cari.” Katanya setelah membagikan roti tersebut.
Aku segera memasukkan beberapa minuman ke mobil kami, beserta sisa sisa makanan yang ada. Kak Ahmad dan yang lain sedang bersiap, aku segera mempersiapkan sesuatu yang lebih penting, penjaga nyawa kami. Aku merakit beberapa senjata, agar mudah digunakan oleh teman teman.
“Pukul berapa sekarang?” sayup sayup terdengar suara kak Ahmad sambil menaiki mobil.
“11:17”
“Baiklah sekarang kita harus berangkat!” kakakku segera menghidupak mesin mobil.
“Jika kita berangkat sekarang, kemungkina kita akan istirahat di sini.” Katanya sambil menunjuk peta yang ada di ipad ku, dan memberi tanda.
Aku sengaja tidak mengungkit masalah tadi pagi, karena memang hanya aku yang mengenal siapa dia, dan aku merasa belum siap mengatakannya pada mereka semua.
__ADS_1