
PoV: Ranti
Aku siap pergi ke rumah Ahmad. Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi. Tapi hal masih aku bingung, adalah kata-kata Ahmad waktu itu. Aku bingung. Ah bodo! Oh ya! Kuceritakan satu hal tentang pedoman kami, para penemu dan peneliti. Kami selalu percaa pada ilmu pengetahuan dan tidak percaya pada hal magis. Tapi tetap, kami memiliki agama yang kami anut.
Pukul 09.00 aku segera bersiap untuk berangkat. Ojek sudah ada, dan aku tinggal berangkat saja. Tapi pikiranku tidak bisa lupa tentang kata kata ahmad waktu itu. Aku masih ingat dia berkata bahwa gayanya itu dia tru dari gaya adiknya. Dan hanya satu orang yang pernah kulihat menggunakan gaya tersebut.
Dialah mekanik pintar yang sewaktu itu membantuku. Dan aku akan menyelidiki, apakah mekanik pintar itu adaah Nadin, adik Ahmad. Kalau dilihat dari umurnya, aku sangat yakin kalau itu dia. Namun, Nadin yang tidak memiliki riwayat apapun tentang teknologi, membuatku kurang yakin tentang itu.
“Aduh, sekarang makin banyak orang menggunakan kendaraan. Semakin macet saja setiap hari di kota ini.” Itu yang membuatku malas untuk keluar rumah. Sampai rumah Ahmad sudah pukul 09.25 wah beruntung aku berangkat awal. Aku mengetuk pintu rumahnya. Dan ternyata yang membukakan pintunya adalah adiknya yang kucurigai merupakan si teknisi cilik itu. Dia juga terlihat sedikit terkeut ketika melihatku.
“Kakak mencari siapa?” Tanyanya tiba tiba memecah lamunanku.
“Ohh, saya mencari kak Ahmad. Kakak diundang kesini sama kakakmu,” kataku sambil melambaikan tanganku. Kucoba memasang wajah manis kepada adiknya, supaya aku tidak merasa canggung dengannya. Dia mempersilahkan aku masuk, dan dengan segera dia memanggilkan kakaknya, Ahmad dan memberikan kami minum. Dengan segera, aku memecah keheningan yang ada saat itu.
“Eh Ahmad! Bagaimana mesin waktumu? Semua sudah selesai? Apakah sudah pernah kamu uji coba?” tanyaku padanya. Dia mengangguk dan menjawab:
“Yahh, semua sudah selesai dan sudah pernah diuji coba, hanya saja belum pernaha ada makhluk hidup yang ku uji coba. Hanya sebuah mobil mobilan kecil yang menjadi alat uji cobaku.” Katanya.
“Oh, jadi begitu. Eh ngomong ngomong, adikmu juga bantu ya?” tanyaku padanya untuk menghilangkan ras penasaranku tentang adiknya. Raut wajahnya mulai berubah. Seperti dia kaaget.
__ADS_1
“Tidak mungkin. Di keluarga ini, hanya aku dan ayah yang mengerti tentang teknologi. Sedangkan adikku, dia bercita cita ingin manjadi dokter.” Katanya. Aku menjadi sangat heran. Benarkah dugaanku. Tapi kok dia menjawab hal yang berlawanan dengan pemikiranku? Gumamku semakin heran. Sebelum aku kembali berkata, dia sudah berteriak.
“Nadin! Ayo ke sini!” katanya. Kulihat seorang anak berlari kemari. Kuteliti kembali dari bentuk fisik dan rambutnya. Aku semakin yakin bahwa dialah anak itu.
“Perkenalkan, ini adalah Nadin, adikku.” Kata Ahmad.
“Saya Nadin, adiknya Ahmad,”
“Saya Ranti, temannya kak Ahmad.” Aku berkenalan dengannya. Sementara itu, Ahmad izin mandi sebelum waktunya mulai. Dia meninggalkan kami berdua. Mungkin maksudnya biar kami semakin dekat. Suasana hening, mungkin dia menikmati suasana seperti ini, tapi suasana seperti ini bisa membunuhku. Aku mengawali pembicaraan.
“Kamu kelas berapa sekarang?”
“2 SMP”
“Ayo kak ke kamarku saja.” Katanya. Aku hanya menurut. Di satu sisi, hal ini semakink meyakinkan diriku bahwa dia tidak mau memberitahukan padaku pekerjaannya. Di dalam kamar, aku segera mencari barang yang sangat kuingat darinya. Jaket.
Sebenarnya, memang dari tadi aku ingin masuk ke dalam kamar ini, mencari barang itu. “Nadin seperti bisa membaca pikiran.” Gumamku.
“Kakak suka sama kak Ahmad?” sekarang, dia membalikkan keadaan. Dia memojokkanku menggunakan kata katanya. Aku mulai paham akan dia. dia terlihat seperti seorang anak namun aku tahu kemampuannya lebih dari seorang anak biasa. Aku hanya diam, tertegun, dan aku tahu bahwa pipiku memerah.
__ADS_1
“Tidak apa apa kok kak, aku sudah tahu dari awal.” Katanya sambil tersenyum mengerjapkan matanya.
“Jadi kak Ranti sama kak Ahmad gimana?” tanyanya. Ini anak memang pintar sekali memutarbalikkan keadaan.
“Apaan sihh? Tanyaku. Dia menutup pintu, aku hanya menyembunyikan wajahku di balik jaket yag tergantung di balik pintu. Tunggu dulu! Jaket! Warna biru! Dan aku segera berbalik. Menatapnya dan menunjuknya.
Kata kata yang kusiapkan sudah akan keluar. Semua pertanyaan yang ada di otakku segera di print oleh printer mulutku. Tapi sebelum aku mengatakan sebuah huruf saja, dia sudah mengatakan sesuatu.
“Ya, aku memang orang itu.” Katanya tiba-tiba. Anak ini mudah mebuatku kaget. Lagi lagi, dia tampak seperti bisa menebak pkiranku. Aku sudah tidak bisa berkata apa apa lagi sekarang selain hanya menganga lebar.
“Aku sudah tahu apa yang ingin kakak katakan. Sudah susah payah aku menyembunyikannya selama ini akhirnya ketahuan juga. Ternyata, kakak sangat peka. Wah kakak parah bisa tahu hanya dengan mengetahui sedikit tentangku. Aku restuin kakak sama kak Ahmad.” Katanya. Aku hanya diam. Kembali lagi, dia membicarakan hal yang sama.
“Namun kenapa kamu tidak bicara pada keluargamu? Padahal kan kamu bisa membantu keluargamu,” kataku mengalihkan perhatian.
“Lihat aku kak, bandingkan pekerjaanku dengan umurku kak, mereka hanya bicara aku menghayal jika aku memberitahukan ini semua. Tapi aku mohon pada kakak untuk tidak memberitahukan pada siapapun tanpa seizinku. Aku mohon,” katanya. Dan aku mengerti itu.
Aku juga sudah pernah diceritakan bagaimana keadaan keluarga Ahmad sebelumnya, dan aku tidak akan sebodoh itu untuk memberitahukannya pada siapapun. Aku tahu, dia pasti memiliki banyak beban, dan aku tidak ingin menambahnya.
Tapi aku salut padanya. Dia bisa menanggung beban ini sendirian, bahkan dengan seluruh tekanan yang dia alami. Dimana dia juga pada umurnya yang sekarang masih membutukan banyak sekali dorongan dari orang tua.
__ADS_1
Aku melamun sendiri, sampai aku melupakan aku yang sedang berbicara dengan Nadin disana.
Tiba tiba, pintu terketuk…