
PoV: Nadin
“Sebelum aku memulai membuat alat, aku harus membuat jalan rahasia untuk pergi ke kamarku nih. Kalau tidak, semua orang akan curiga.” Kataku. Aku segera berpikir. Bagaimana cara untuk keluar masuk dengan mudahnya. Ah! Bodo amat! Pikirku. Dengan segera aku merancang alatku. Beruntung kemarin ketika kakak melakukan percobaan aku sudah sedikit menyelipkan pengaman.
Ya! Kabut biru yang aku tanyakan itu adalah system pengamanku. Tapi sayangnya, aku butuh lebih besar untuk membuat pengaman yang lebih besar.
“Nadiiiiin! Kamu lagi ngapain di kamar? Cepat keluar! Lihat jamnya, sudah mau pukul 7!” kata ibuku berteriak dari bawah. Aku sedikit mendengus kesal.
Apakah ibu tidak mengerti? Yang kulakukan ini untuk melindungi seluruh dunia dari bahya yang tidak mereka sadari. Walau kesal, tetap kulaksanakan.
Aku berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Sebenarnya, dengan mudah aku memanfaatkan teknologi. Namun, aku agak tidak setuju dengan adanya teknologi. Hal ini membuat manusia menjadi malas.
Sekolah menjadi membosankan ketika aku belajar ilmu teknologi. Ayahku sudah mengajariku semuanya. Bahkan jika mau, aku bisa beradu kemampuan dengan guruku. Aku masih saja menggambar rancangan, mencatat hal yang diperlukan, dan lain-lain.
“Itu Nadin lagi menulis apa?” Tanya Bu Indah, guruku. Hhh, ini guru sangat mengganggu, batinku. Tiba tiba, temanku Arga yang duduk di depanku mengambil kertasku dan mengalihkan pehatianku ke Bu Indah. Walau caranya yang agak kasar, tapi aku tahu, dia tidak melihat isi kertasku.
“Itu apa yang dia tulis, Arga?” Tanya guruku. Aku hanya diam.
“Kurang jelas bu. Saya tidak tahu.” Katanya. Ketika Bu Indah ingin meminta kertas itu, dia dengan segera menyela dengan dalih menyuruhku ke depan. Ya kami semua memintanya menjadi ketua kelas untuk hal ini. Dia sangat melindungi anak buahnya.
Ya, mungkin ada maksud yang lainnya, tapi setidaknya dia berbuat baik padaku. Jadi tidak ada alasanku untuk kesal padanya.
Di depan, Bu Indah menyuruhku menyusun sebuah benda aneh. Dan aku tahu, hal itu memang belum diajarkan. Aku melihat mimik wajah teman temanku. Mereka semua sepertinya tampak kasihan denganku karena harus membuat hal yang belum pernah diajarkan. Apa boleh buat. Aku harus segera menyelesaikan ini.
“Jadi saya harus menyusun ini?” tanyaku.
“Ya. Kamu kan sudah pintar dan tidak memperhatikan pelajaran saya.” Katanya.
“Jadi ini alat apa bu?” tanyaku. Dia tertawa. Tawa-tawa merendahkan.
__ADS_1
“Tahu saja tidak. Makanya besok besok kamu harus memperhatikan. Ini namanya alat penyaring udara.” Katanya sedikit merendahkanku. Aku mulai kesal. Ingin rasanya kutantang dai memperbaiki mesin waktu kakakku.
“Baiklah. Ini mesin penyaring udara kan. Kalau sudah jelas kan mudah buatnya bu.” Kataku sambil mulai menyusun. Hanya dalam beberapa menit, aku menyelesaikannya. Itu hal yang sangat mudah bagiku.
Aku sedang malas berdebat, karena aku harus melanjutkan rancangan mesinku. Biasanya, jika aku dan Bu Indah sedang berdebat bisa memakan waktu satu jam pelajaran.
Bu Indah melongo melihat hasil pekerjaanku. Selama ini aku memang dianggap bodoh di pelajaran ini karena aku jarang memperhatikan. Dengan segera aku mengatakan terima kasih dan segera duduk sambil tersnym mengejek meninggalkan guruku yang masih bingung.
“Oke anak-anak, kita lanjutkan lagi pelajarannya.” katanya seraya mengecek pekerjaanku. Dia menatapku dengan pipi yang memerah. Aku tertawa dalam hati. "Biarlah! Sekali sekali harus dibegitukan. Dan aku meminta kertasku dari Arga. Dengan segera kulanjutkan pekerjaanku tadi.
“Bagaiman kau melakukannya?” Tanya Arga sambil memberikan kertasku.
“Dengan sedikit sihir,” kataku menggerakkan tangan kananku. Dia mendengus kesal. Aku tertawa melihatnya. Dengan begini paling tidak hari ini aku aka lolos dari dia. kataku seraya melirik Bu Indah dengan agak kesal.
Aku berpikir, pasti di pertemuan lainnya dia akan mencecarku dengan pertanyaan pertanyaaan dan tugas. Ah bodo! Sekarang sekarang, besok-besok! Kataku pada diriku sendiri. Memang mereka semua yang ada disini memang tidak ada yang tahu apa pekerjaanku.
Selama ini, aku adalah mekanik, tapi aku masih ilegal. Sudah banyak pelanggan yang datang. Mereka selalu menelepon sebelum datang. Ya! Aku merahasiakan ini semua dari keluargaku.
“Kalau kamu mau tahu, besok jam 8 datang ke rumahku ya. Nanti aku tunjukkan.” Kataku dengan nada misterius.
Selama ini memang aku membuat alat-alat untuk dijual. Dan modalnya kudapat dari menjadi mekanik. Banyak orang yang mengatakan bahwa aku leih dewasa dari umurku. Mungkin itu benar. Dan mungkin karena hidupku yang sulit.
Hidup di jaman ini bukan hanya mudah, tapi bagi orang orang kecil hal ini sangat sulit. Kulanjutkan proyekku. Saat bel pulang sekolah, aku sudah selesai membuat rancangannya, namun belum menggambar bentuk dari alat ini.
Setiap detik aku mengerjakan ini aku selalu teringat ayah. Orang yang mengajariku semua ini, orang yang mengajariku tetap kuat di saat apapun, orang terdekat denganku, sampai hari itu tiba, aku masih marah padanya.
Dan aku pun… Akhh! Semakin ku berusaha, kepalaku semakin sakit, mengingat betapa bodohnya aku saat itu. Aku tidak merasa, air mataku menetes. Teriakan temanku membuyarkan lamunanku.
“Nadin! Kamu sudah piket belum?” Tanya Arga, ketua kelasku. Aku diam.
__ADS_1
“Kamu habis nangis?” tanyanya. Aku segera mengambil tisu dan obat mata. Aku tidak mau teman-temanku tahu apa yang kurasakan sekarang. Walau sebenarnya ada keinginan untuk bercerita, tapi aku tahu itu hanya menambah masalah.
Satu satunya orang yang bisa membantuku hanyalah diriku sendiri. Dan kalaupun aku punya teman, itu hanya bayangan.
“Oh! Enggak kok. Tadi barusan pake obat tetes mata. Perih tadi mataku. Kataku berbohong. Aku memang selalu membawa kotak obat bersamaku. Karena sering sekali aku terluka ketika bekerja.
Aku segera pulang karena memang hari ini aku tidak ada jadwal pertemuan dengan klienku. Dan aku juga ingin cepat cepat menyelesaikan alatku. Pulang sekolah aku segera masuk ke gudangku. Ibu dan kakak belum pulang.
“Ini sangat bagus aku bisa menyelesaikan tugasku dengan cepat.” Gumamku.
***
Kesokan harinya, aku sedang mempersiapkan hal yang kuperlukan.
“Nanti akan ada teman teman kakak datang, nanti Dian datang, dan itu semua berarti nanti malam adalah pembuktian alatku berhasil atau tidak.” Kataku sambil mengelus alatku yang hampir selesai.
Kecil memang, besarnya hanya sebesar bola sepak. Tapi, kalau melihat rencana kakak, kelihatannya segini saja cukup. Selain itu, aku sangat kekurangan bahan untuk membuatnya. Aku bersyukur bisa membuat hingga sebesar ini Kakak pernah bercerita padaku bahwa dia ingin mengirimkan cerita yang sudah dia tulis. Mungkin kalau hanya sehelai kertas aku sudah memastikan tidak akan ada kesalahan bahkan aku sudah menyiapkan jika kakakku sekaligus ikut. Jadi aku sudah siap untuk apapun malam ini.
“Hhh. Tinggal dirapikan setelah itu siap siap pertunjukan.” Kataku. Aku segera mengecek mesin waktu kakak. Aku melihat sesuatu alat yang agak besar disambungkan ke mesin waktu itu. Bentuknya mirip piring dan lebar. Aku tidak tahu apa itu.
Tapi aku punya rencana. Walaupun aku sudah membuat alat penangkal, aku akan bicara pada kakakku terlebih dahulu. Siapa tahu dia mau mendengarkanku dan memprogram kembali alat tersebut.
Sebenarnya, kakakku adalah orang yang baik, pintar, dan juga penyayang terhadap keluarganya. Namun, dia jika sudah suka terhadap sesuatu, dan menekuninya, dia tidak ingin diganggu.
Tapi terkadang aku suka mengingat masa-masa ketika semua masih normal, aku masih kecil dan memiliki pikiran seperti itu, dan menjadi orang yang selalu ceria dimanapun, masa yang dulu aku menganggap hidupku sempurna.
“Itu hanyalah masa lalu. Tidak pantas dikenang!” tegasku pada diriku sendiri. Walau aku berkata begitu, tapi hati dan otakku berkata lain. Otakku berusaha mengingat, dan hatiku makin terasa sakit, sesak dengan kenangan manis.
“Kenapa aku malah mengingat hal ini? Ini adalah hal terburuk yang tidak perlu di ingat!” teriakku dalam hati. Sedih, memang. Aku kembali berhasil mengasai hatiku.
__ADS_1
“Indah.” Gumamku. Kata itu menutup kepedihan hatiku
"Sebentar lagi kakakku akan datang. Lebih baik kalau Dian datang lebih cepat.” Kataku. Ini adalah pertaruhan. Ibarat aku bermain kartu dengan kenyataan, siapa yang emiliki kartu lebih baik dan strategi yang baik akan menang. Dan aku tahu, itulah kehidupan.