Five Days Or Die

Five Days Or Die
Chapter 25


__ADS_3

"Bocah sial! Dimana kalian?! Terutama kau, Nadin! Aku menunggumu! Aku menunggumu! Nadin! Tidak akan kulepaskan dengan mudah kau kali ini!!" Rickzan dengan marah terus mencari.


"Ahh!! Baju zirah ini jika rusak sungguh merepotkan! Tapi mau bagaimana lagi, ini semua sebab dia!" dia sedikit memukul mukul zirahnya yang rusak hingga bagian dada, dengan tangannya juga yang tidak tertutup zirah kini.


Rickzan menurunkan pesawat kecil itu perlahan di sebuah tempat yang cukup terbuka, menghasilkan debu yang berterbangan, membuat kawasan itu menjadi cukup ribut. Malam yang gelap tidak menghalangi Rickzan untuk membalaskan dendamnya.


Karena kini, dia hanya menargetkan satu orang, Nadin.


Srak! Zirah Rickzan yang setengah rusak itu menimbulkan suara ketika dia turun dengan kasarnya dari pesawat kecilnya. Dia ambilnya sebuah kacamata dengan plat tipis di bagian mata seperti kaca biru, dan mengaktifkannya.


"Naaahh! Para drone ku! Cari dan temukan mereka! Bawa mereka kepadaku, hidup atau mati! Tapi jika memungkinkan, bawa Nadin hidup hidup. Karena aku ingin dia merasakan sedikit ucapan terima kasihku yang indah!" Rickzan menyentuh samping kiri kaca mata itu, dan 3 buah bola seukuran kepalan tangan mulai bergoyang goyang, naik.


"Tunggu aku, Nadin. Tunggulah malaikat mautmu!" Rickzan menyeringai aneh.


***


"Haachuuu!" Nadin bersin.


"Kau baik baik saja, Nadin? Dian tampak khawatir dengannya.


"Tidak. Mungkin aku sedang dibicarakan oleh orang! Kira kira siapa ya?" Nadin memegang dagunya dengan pose penasaran.


"Pasti Rickzan!" teriak Dani.


"Ahh, orang tua itu pasti dendam padaku. Yaahh mau bagaimana lagi. Aku menghancurkan semua miliknya ketika dia merasa menang! Rasanya menyenangkan ketika menyanjung orang tinggi tinggi, lalu menjatuhkannya ke dasar! Wha ha ha!" Nadin tertawa dengan kedua tangan di rentangkan ke samping, berpose seperti raja iblis.


Mereka semua berhenti sesaat, lalu terkikik melihat Nadin. Tak terkecuali Ahmad yang dari tadi masih tegang.


"Ahh!!" suara teriakan parau Rickzan terdengar. Seketika, suasana berubah menjadi mencekam. Mereka semua seketika terdiam, menahan nafas.


"Oh Naadiiin! Dimana kau? Aku bisa merasakanmu berada di dekat sini!" kata Rickzan sambil membopong senjata mirip machine gun itu.


Suara berisik yang dihasilkannya setiap melangkah, menambah hawa intimidasi yang tajam. Bahkan angin pun tidak berani untuk bertiup, karena hawa mengerikan Rickzan. Disampinh itu, Ahmad dan yang lainnya tetap mengawasi Riczan yang masih bergerak perlahan dari kejauhan, tanpa berani berbuat sesuatu kesalahan.


Gusrak! Suara itu memecah keheningan. Seketika, Ahmad dan yang lainnya berpandangan satu sama lain dengan wajah panik. Dan Dani dengan ekspresi bermasalah dj wajahnya.


Rickzan yang mendengar itu juga terkejut, dan segera memutar tubuhnya menyiapkannya lada posisi siaga untuk menembak.


"Kutemukan kau!!!" teriak Rickzan memborbardir hancur asal suara tadi. Ahmad dan lainnya bahkan tidak sempat untuk bergerak.


"Miaw!" seekor kucing muncul dan berjalan dengan santai dari awan debu.

__ADS_1


"Seekor kucing?! Dan lagi, tidak kena?!!" Rickzan mengomel pada dirinya sendiri.


Melihat itu, Dani tak urung tertawa, tapi begitu dia mulai membuka mulut, Ahmad dan Ranti dengan segera membungkam mulutnya. Tapi sebenarnya, tidak ada seorang pun yang tidak ingin tertawa. Bahkan Nadin sampai terguling menahan sambil menutup mulutnya rapat rapat.


"Aku bahkan tidak mengenai kucing? Ahh, mood ku menurun! Ada baiknya aku pergi dari daerah ini," Rickzan segera pergi berlalu.


"Buaaah! Aki hampir tidak bisa menahan! Kucing punya 9 nyawa ya? Dan dia sama sekali tidak mengenainya? Apa benar dia harus kita takutkan?" Dani megap megap tapi masih tetap saja tertawa.


Ada beberapa orang yang masih terlihat geli dengan itu, tapi tidak dengan Arby yang memiliki beberapa ekspresi di wajahnya.


"Ada baiknya dia pergi. Kita harus segera berangkat! Kau tahu, zirah miliki Rickzan itu terslus beregenerasi?" Ranti kembali mengingatkan.


"Seperti yang kutahu dari kak Ranti! Kau sangat teliti!' kata Nadin mendekat.


"Jadi, berapa lama hingga zirah itu selesai berregenerasi?" Dina juga mulai mendekat, membentuk lingkaran. Semua orang menatap Nadin, mungkin karena Nadin sudah melihat beberapa tekonologi milik Rickzan.


"Kalau menurut perhitunganku, regenerasinya akan lambat sampai matahari terbit, karena kemungkinan besar pakaian itu menggunakan solar cell. Dan menurutku, kesempatan yang bagus adalah melewatinya sebelum fajar!" jelas Nadin, mengatakan pikirannya.


"Nadin benar. Kami selalu mengamati kemampuan Rickzan dari tadi. Dan jelas ketika zirahnya rusak, pergerakannya menjadi aneh. Bahkan seperri yang kita lihat tadi, dia tidak bisa membidik dengan benar. Tapi tetap, untuk kekuatan serta hal lain, dia memiliki lebih dari yang kita miliki saat ini," jelas Amy, diikuti oleh anggukan diam Arby.


"Kalau begitu, pilihan kita hanya satu, bukan? Kita harus berjalan sebelum fajar. Kita akan selesaikan ini semua di malam hari!" kata Ranti.


***


Mereka berjalan beriringan, diketuai Ranti, dan ditutup oleh Dani. Sebenarnya tempat itu sangat cocok bagi mereka, karena berbentuk puing puing. Dan juga, tidak ada penduduk di sekitar kawasan itu. Entah dimana mereka, tapi mereka beruntung.


Suasana yang gelap, dengan aura mencekam, bahkan bisa membunuh siapapun hanya dengan berada disini. Terutama untuk mereka yang harus berjalan dalam diam, dan harus berjalan dengan hati hati untuk tidak memicu apapun.


Yang perlu diwaspadai adalah beberapa puing yang rapuh, bahkan dapat hancur hanya dengan disentuh. Mereka sedikitnya mengurangi mendaki untuk menyimpan tenaga mereka.


"Anu!" Dian mengangkat tangan, dengan wajah bermasalah.


"Kenapa?" Ranti menoleh, yang diikuti perubahan wajahnya ketika melihat Dian. Dian terlihat tidak baik, dengan wajah pucat bahkan seluruh tubuhnya bergetar.


"Aku memiliki phobia ruangan gelap seperti ini! Bisa ada yang disampingku?" Dian memohon.


Semua tampak khawatir dengan itu, karena phobia merupakan masalah yang serius. Dian sudah berusaha untuk tidak mengganggu, tapi tetap ini batasnya.


"Baiklah! Kita berhenti untuk sementara! Kita juga perlu memikirkan stamina kita saat ini. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya!" Ahmad segera mengambil keputusan.


Mereka semua menarik nafas lega, segera menuju sebuah puing yang sedikit tertutup dari atas, supaya kalau kalau sesuatu yang tidak diinginkan datang, mereka bisa berlindung.

__ADS_1


"Haah! Untung kau memilih untuk beristirahat! Suasananya serasa membunuhku! Aku sepertinya tidak akan kuat jika harus berjalan dengan kondisi seperti ini selama beberapa jam!" Dani segera membuka mulut setelah menahannya dengan baik.


"Di mana tas ku?" Nadin celingukan mencari tasnya.


"Aku!"


"Bagus!" raut muka Nadin langsung berubah.


"Ada baiknya kita makan beberapa roti kecil ini dulu. Untuk minumnya, maaf kalian harus berbagi. Tidak ada cukup ruang di sini," Nadin mulai membagi bagikan hasil jarahannya dulu di minimarket sejak awal.


"Tidak, Nadin. Kau sangat membantu! Tidak sepertiku yang justru menghambat semua orang," Dina mulai tertunduk.


"Tidak! Cepat atau lambat, kita harus berhenti. Dan bukan hanya kamu, kita semua juga tertekan dengan ini. Ini luar biasa untukmu yang memiliki phobia bisa bertahan selama ini!" Ranti segera menyela Dian.


"Ya! Dan waktu kita sebelum matahari terbit masih cukup lama. Kita bisa lakukan ini," Nadin mengangguk.


Mereka semua terdiam, ketika saling menghadap satu sama lain. Arby hanya diam sedari tadi, seperti memikirkan hal lain. Apa yang dia pikirkan?


***


"Sepertinya sudah saatnya kita untuk berangkat!" Ranti mengawali setelah beberapa saat terduduk. Mereka semua mengangguk.


"Aku juga akan berjuang melawan phobia ku!" Dian mengangguk keras.


Mereka kembali berjalan, di bawah sinar bulan yang remang remang. Dian yang sudah berusaha untuk menahan phobianya, kini sudah lebih baik, dan bisa berjalan dengan benar. Dan Ranti juga memilih jalan yang baik daripada cepat cepat menuju titik time hole.


"Selain itu, rumah rumah di sini juga berbentuk puing puing. Aku cukup takut jika mengetahui ada orang yang terbunuh disini!'" kata Dani bergidik.


"Ya! Dan semua yang ada disini sedang menatapmu tajam! Fu fu fu!" Ahmad mendekat dan dan menempelkan tangan di pundak Dani.


"Hii! Jangan lakukan itu! Aku seketika merasa memiliki phobia gelap juga, kau tahu!" Dani berganti memeluk Ahmad.


"Berhenti!" Ranti berteriak sambil menghentikan langkahnya. Matanya menatap tajam, dengan ekspresi wajahnya yang tidak dapat terlukisan dengan kata kata.


"Ada ap-" seketika kalimat Dani terhenti ketika mengetahui apa yang ada di depannya.


Tidak ada yang tidak terkejut melihatnya. Yang seperti, perjuangan mereka untuk berjalan di bawah kegelapan malam dan secara sembunyi sembunyi menjadi tidak ada artinya. Yang mengatakan kembali, betapa kejamnya hidup ini.


Ya. Yang menupuskan harapan mereka, yang memberikan vonis kejam pada mereka.


"Kita harus berjalan di bawah lapangan yang memiliki penerangan sepeti ini?!" Dani menjerit.

__ADS_1


__ADS_2