Five Days Or Die

Five Days Or Die
Chapter 17


__ADS_3

Third person PoV


3 hari kemudian, aku medapat telepon dari jendral besar. Dia memintaku untuk hadir dalam seminarnya. Dan seperti biasa, aku datang bersama Rickzan. Dan disana, mereka bermain dengan sesuatu yang tidak seharusnya, mesin waktu. Dia mengusulkan untuk membuat penjara waktu. Aku kaget. Ketika pulang, kami akan segera pulang, namun jendral besar menarikku untuk bicara dengannya.


“Kau pasti bisa membuat mesin waktu, bukan?” tanyanya.


“Ya, tapi kita tidak seharusnya kita bermain dengan waktu. Sudah banyak hal yang terjadi karena mesin waktu, dan aku tidak mau mengulanginya.” Kataku menolak.


“Ayolah, setelah ini, kau akan mendapatkan pendanaan untuk penelitian apapun! Kau hanya harus melakukan satu ini, dan kau akan mendapatkan apapun yang kau minta itu sangat mudah bukan?”


“Tapi pak, kami kekura..”


“Selamat bekerja.” Katanya memotong. Aku padahal ingin mengatakan bahwa kami kekurangan dana. Aku tidak bisa lagi meminjam. Aku bingung hingga tiba tiba, di laboratorium ku, Rickzan datang dan mmeberikan sekoper uang padaku.


“Apa ini?”


“Dana yang bapak butuhkan.”


“Dari mana kau dapatkan ini?” aku heran.


“Aku menjual beberapa robot ku pak! Cukup menguntungkan.” Aku merasa sangat berterima kasih tapi aku sadar, ini bukan uangku.


“Baiklah Rickzan, karena ini uangmu, maka kamulah yang akan membuat program dari mesin waktu, dan aku yang akan membuat kerangkanya. Sekarang, aku lah asistenmu.” Kataku. dia tampak senang.


“Wah terima kasih banyak pak! Ini semua adalah mimpiku!” katanya sambil menyalamiku. Aku hanya tersenyum. Kemudian, saat aku sedang menghitung hitung, aku menemukan sesuatu.


Ketika aku melihat mesin waktu Rickzan sedang di uji coba, aku melihat ke bumi masa lalu, dimana tiba tiba muncul 12 lubang aneh yang ada di sekeliling bumi.


“Apa itu?” tanyaku kaget. Aku segera menelitinya.


“Wow! Apakah ini?” aku mulai mengira kira. Apakah itu? Mungkin Rickzan tidak mengetahuinya. Tapi dia akan segera mengetahuinya. Aku menyebutnya time hole, dan mencatatnya dalam buku harianku. Pada suatu hari, aku memergoki Rickzan sedang mebaca buku harianku.


“Apa yang kamu lakukan?” tanyaku.


“Ee, saya sedang membersihkan ruangan ini pak,” katanya.


“Kenapa kamu berada disitu?” dia diam.


“Sudah, silahkan keluar. Saya sedang ingin sendiri.” Kataku. Tapi, sebelum dia kelar ruangan, aku menambahi.

__ADS_1


“Oh ya dan jangan sentuh ini ya. Ini benda berharga bagi saya.” Dia hanya tersenyum. Senyum yang penuh arti. Setelah itu, aku kembali ke penelitianku, meneliti time hole.


Penelitianku sudah sempurna dan aku ingin memberikannya kepada jendral besar. Aku bermaksud agar dia menghentikan niatnya untuk membuat penjawa waktu.


“Permisi pak, ini saya Arby.” Kataku sambil mengetuk pintu, masuk.


“Ya silahkan masuk! Bagaimana kabarmu Arby? Apa yang kupesan sudah kau buat?”


“Hmm, saya kesini untuk menjelaskan ini pak. Kita tidak bisa mengirim seseorang ke masa lau dengan mudahnya. Jika dia bisa mengetahui kelemahan dari konsep penjara waktu ini, dia bisa kembali, dan tentu saja, itu merupakan masalah besar bagi kita.


“Kelemahan? Apa ada kelemahannya?” tanyanya heran.


“Ya pak! Setelah mesin waktu muncul, di bumi akan muncul seperti 12 robekan ruang dan waktu. Dan itu akan membuat celah untuk apapun ke masa ini pak! Jadi kita tidak bisa mengambil resiko tinggi saat pembuatan alat ini. Akan lebih baik jika dibatalkan saja pak.” Kataku merayunya agar membatalkan proyek ini.


“Kau tahu tentang dunia ini, Arby? Kau adalah produsen, sedangkan aku konsumen. Jika konsumen tidak mendapat apa yang dia inginkan, konsumen akan pergi. Tapi tidak denganku, Arby. Aku ingin mesin waktu. Dan jika ada kesalahan, perbaiki! Aku ingin mesin waktuku satu minggu lagi, atau aku akan mengilegalkan penelitianmu!” teriaknya, mengancamku.


Kini keadaan malah terbalik, aku yang terdesak dan harus melakukannya sendiri. Aku akhirnya membuat rancanganku sendiri, dimana mengurangi efek robekan yang terjadi di lorong ruang dan waktu. Aku mencoba mencocokkannya dengan milik Rickzan. Aku melihat beberapa perbedaan. Aku berfikir, beda penemu, beda juga bentuknya.


Aku bingung, harus kemana lagi aku menceritakan ini. Aku akhirnya menceritakannya pada murid sekaligus asistenku, Rickzan.


“Rickzan, kamu tahu soal mesin waktu?” tanyaku ketika kami makan bersama.


“Ya! Dan aku akan segera menyelesaikannya.” Katanya.


“Jadi, apakah ada cara jika kita terjebak di masa lalu?” tanyanya sambil makan.


“Ada.” Dia kaget sampai tersedak.


“Apa? Ada? Tanpa mesin waktu? Bagaimana caranya?”


“Menurut teoriku, setiap perjalanan menggunakan mesin waktu akan selalu menciptakan kunci waktu, yang tercipta dari pergabungan ruang dan waktu yang memadat, dimana bisa membuka time hole. Dan jika kita bisa membukanya, kita tidak perlu menggunakan mesin waktu untuk kembali.” Jelasku. Dia hanya diam, tersenyum.


“Apakah kamu akan ikut menguji coba mesin waktu itu?” tanyaku.


“Aku? Ikut? Ohh tentu tidak. Aku hanya mengawasi sistemnya saja. Aku akan tinggal disini.” Ucapnya menghadap bawah.


“Ayolahh. Kamu harus ikut, apapun yang terjadi.” Sejujurnya, aku belum bisa percaya sepenuhnya pada Rickzan.


“Tidak perlu. Aku hanya perlu mengawasi sistemnya saja.” Setelah itu, dia nampak berfikir.

__ADS_1


“Ikut atau batal.” Kataku memaksanya.


“Ikut lah! Aku sudah menantikan ini sejak lama.” Katanya tiba tiba. Kesokan harinya, adalah uji coba mesin waktu. Aku mengajak Nadin, anakku yang paling kecil, untuk ikut bersamaku.


Dia sangat menyukai teknologi. Aku bahkan sudah mengajari semuanya padanya. Hanya saja, dia masih sangat muda, bahkan terlalu muda untuk belajar teknologi. Aku tidak sepantasnya mengajarkan teknologi padanya, tapi ya sudahlah. Ini semua sudah terlanjur.


“Yah! Kalau aku nanti menciptakan sesuatu, aku ingin ayah yang mengujinya ya!” katanya.


“Berarti ayah jadi kelinci percobaan dong!”


“Yah bukan itunya. Maksudnya ayah ikut menguji cobanya. Jadi ayah bisa mengatakan dimana kekurangannya.” Ucapnya.


“Ohh oke oke.” Kataku.


“Nanti ibu juga ikut ya yah? Tanyanya.


“Iya, ibu juga ikut.”


“Hhh, aku masih belum paham kenapa aku tetep gak boleh ikut.” Dia menyilangkan kedua tangannya di depan.


“Ayolah Din, kamu kan masih belum cukuup. Bahkan kalau melihat umurmu, kamu belum boleh untuk mengenal teknologi. Jadi gimana dong? Ga usah diajari lagi?” tanyaku mengancamnya.


“Iya dehh.” Dia mungkin marah padaku, tapi biarlah. Itulah saat terakhir, sebelum aku pergi meninggalkannya. Kami bertiga, pergi menggunakan mesin waktu, menguji coba.


Hitungan mundur dimulai. 3..2..1. dan kami pun pergi. Ke masa lalu. Tiba tiba, sebuah lampu peringatan berbunyi, mesin waktu mulai terbakar. Kulirik kanan, Amy menunjukkan wajah khawatir. Sedangkan Rickzan, seperti sangat senang. Dia tersenyum, dan akhirnya kami berpindah ke masa lalu.


“Ha ha ha! Dengan ini, tidak akan ada yang bisa menghentikanku! Ha ha ha!” teriak seseorang. Kulihat wajah itu, Rickzan!


“Kenapa kau lakukan ini semua?” tanyaku.


“Kenapa? Kenapa katamu?” dia melangkah pelan, sambil menimang nimang sesuatu.


“Karena waktu itu tidak adil! Dan kau tahu benda ini? Inilah kunci waktu. Kau selalu ingin penelitianmu berhasil? Biar aku yang mencobanya.” Katanya sambil berjalan menjauh. Menurutku dia menuju salah satu time hole terdekat.


“Tunggu istriku! Dia masih belum bangun.” Kataku. Selain itu, kakiku juga masih terjepit material yang tersisa, dan aku masih tertahan disana.


“Menunggu? Inilaah tujuanku dari awal.” Katanya sambil pergi meninggalkan kami


***

__ADS_1


“Begitulah.” Ucap ayah Ahmad setelah selesai mengingat. Dia tampak sedih mengingat kejadian tersebut.


“Baiklah pak, terima kasih sudah bisa mengingatnya aku akan memberikannya untuk Ahmad. Dia pasti sangat membutuhkannya.” Kata ibu Ahmad sambil beranjak pergi, membawa ipad yang berisi catatan tersebut. Ahmad sendiri, yang sedang berbincang dengan Dani terkejut ketika ibunya mengembalikan ipad dengan catatan yang bertambah. Segera dia membacanya. Dan dia pun tersenyum.


__ADS_2