
PoV: Nadin
“Ahh! Dian kemana sihh? Kok belum datang juga? Sekarang sudah pukul 9. Aku harus bagaimana ini?” teriakku pada diriku sendiri. Ya. Inilah saat saat paling mendebarkan yang ada di hidupku selama ini.
Ini adalah waktu, dimana aku akan dapat menangkal kerusakan yang terjadi atau tidak. Tapi sebelum itu, aku akan berusaha sekeras mungkin untuk meemperingatkan kakakku. Apalagi masih ada waktu sebelum waktu pertunjukan.
Aku segera menghampiri kakakku yang sedang ada di dalam kamarnya dan sedang duduku di depan laptopnya.
“Kak, aku mau ngomong sesuatu.” Kataku dengan hati-hati.
“Kamu mau ngomong apa?” tanyanya sambil menaruh laptopnya.
“Tapi kakak jangan marah ya,” kataku.
“Yahh, tergantung. Udah ngomong saja sama kakak.” Katanya. Aku segera mengambil nafas panjang dan mengatakan semuanya.
“Kak, sebenarnya, menurutku mesin waktu kakak itu jangan diuji coba deh kak. Masalahnya itu belum sempurna.” Kataku.
“Hah apa maksudmu?” ekspresinya mulai berubah.
“Ya itu nanti bisa kayak kejadian ayah dulu.” Kataku sambil menunduk. Dia mulai berdiri, mengelus rambutku.
“Sudah Nadin, disini kan kakak yang sudah memperlajari cara membuat mesin waktu, jadi kakak pastikan kejadian seperti itu tidak akan terjadi lagi.” Katanya sambil mengelus rambutku dan memelukku.
“Kakak tahu, kamu takut kejadian seperti ayah terulang, kan?” sambungnya. Aku menjadi teringat ayah.
“Tidak! Kakak tidak mengerti! Alat itu rancangannya mirip dengan rancangan ayah waktu itu. Kataku.
“Baiklah, kalau kamu tidak percaya, kita bisa uji coba.” Katanya dan dengan segera berlari mengajakku ke dalam gudang. Setelah sampai di dalam gudang, dia meminjamkan kacamata untukku.
Dia menaruh mobil mobilan ke alat itu dan mengirimnya ke suatu tempat yang aku tidak tahu itu dimana. Dan kabut biru muncul menyelimuti alat itu dan mobil itu pun kembali. Kakakku tersenyum puas.
“Kamu lihat kan? Tidak ada apapun yang terjadi. Jadi setelah ini pun pasti tidak ada yang terjadi.” Katanya. Di satu sisi, aku sedih dan marah pada kakakku. Tapi di satu sisi, aku senang karena penemuanku berhasil dan bisa menangkal kegagalan mesin kakakku.
__ADS_1
“Sudah ya, kakak mau persiapan.” Katanya dan dengan segera meninggalkanku. “Aku pun ingin siap-siap”. Batinku.
Aku lumayan kecewa pada kakakku karena tidak mempercayaiku. Padahal aku sudah mengatakan yang sejujurnya padanya. Dia pikir aku hanya takut kejadian ayah terulang kembali.
Walau itu memang benar, karena sebab itulah aku memperingatkannya. Tapi hanya hasil kosong yang kudapat.
Aku sudah menunggu Dian serasa berabad abad. Tapi, dia tidak kunjung datang juga. Rasanya ingin aku mencarinya dengan segera.
“Kemana sih itu anak? Katanya mau ke sini? Padahal aku sudah ngomong sama dia kalau datang jam 8. Sekarang sampai pukul 9 dia belum datang. Wah parah-parah.” Kataku. aku kembali mencoba menenangkan pikiranku kembali. Namun tetap saja aku tidak bisa tenang. Aku mondar mandir di depan pintu gudangku, bingung apa yang akan aku lakukan.
“Ah! Lebih baik aku menyesuaikan kembali program yang aku buat. Tadi kan barusan dibuat kakak uji coba. Siapa tahu ada yang rusak.” Kataku pada diriku sendiri mencoba untuk melupakan urusan tentang Dian. Ketika aku sedang asik, ada suara pintu diketuk. Kakakku segera berteriak.
“Nadin! Tolong bukakan pintunya sebentar! Mungkin itu teman kakak!” teriaknya dari dalam kamar. Aku yang sedang asik dengan sedikit bersungut sungut segera keluar. Segera kubukakan pintu untuk tamu tersebut.
“Ah kakak! Memang dia sendiri lagi ngapain sih? Kok pakai nyurih nyuruh aku segala? Kakak tahu? Yang aku lakukan ini untuk menyelamatkan dunia. Ya menyelamatkan dunia. Kakak sudah kuberitahu tapi tetap saja tidak percaya. Huh!” kata-kataku segera berhenti ketika melihat siapa yang ada di depan pintu itu sekarang.
Dia orang yang pernah kubantu. Sebelumnya, aku tidak pernah sekaget ini melihat orang yang pernah merasakan jasa mekanikku.
Ya, mungkin karena aku tidak pernah bertemu dengan mereka, tapi kali ini keadaannya berbeda. Kutebak, dia adalah teman kakakku. Yang diundang untuk menghadiri uji cobanya sekarang.
“Kakak mencari siapa?” tanyaku untuk mengembalikan fokusku.
“Ohh, saya mencari kak Ahmad. Kakak diundang kesini sama kakakmu,” katanya sambil melambaikan tangannya. Aku mempersilahkan dia masuk, dan dengan segera aku memanggil kakakku,dan mengambilkan mereka minum. Dengan segera, aku segera kembali ke kamar sambil sedikit mengamati mereka.
Dia bertanya banyak hal pada kakakku, tapi aku tahu dia menanyakan bahwa apakah aku membantunya atau tidak. Aku mulai paham ke arah mana dia akan bicara. Tiba tiba, kakakku memanggilku. “Aduhh kakakk!!!” batinku. Aku mau tak mau segera datang ke sana.
“Pasti disuruh kenalan sama dia nihh.” Kataku pelan sambil berjalan. Dan benar saja! Aku berkenalan dengan Ranti, teman kakaku.
Dan apa yang kakakku lakukan? Dia pergi meninggalkanku dengan dalih dia ingin mandi. Apaan tuh! Gak tahu adiknya lagi bingung apa? Memang parah kakakku yang satu ini.
Disana, suasana sangat membosankan. Sampai akhirnya, dia membuka percakapan.
“Kamu kelas berapa sekarang?”
__ADS_1
“2 SMP” jawabku spontan. “Hah Cuma basa-basi.” Batinku.
“Kamu sudah bekerja?” sudah kutebak dia akan menanyakan ini. Apa yang harus kulakukan? Apa mungkin sebaiknya aku jujur saja? Atau mungkin inilah waktunya untuk mengatakan yang sebenarnya pada seluruh orang? Sudahlah, aku hanya mengikuti nasib saja kalau sudah begini.
“Ayo kak ke kamarku saja.” Kataku. Dia mengikutiku. Di satu sisi, aku tidak ingin bahwa pekerjaanku diketahui orang lain. Tapi di satu sisi, aku merasa beban pikiran yang ada di otakku harus ada yag dikeluarkan. Kalau tidak, mungkin aku bisa depresi.
Dia mulai mencari sesuatu ketika dia mulai memasuki kamarku. Aku tahu apa yang dia cari. Identitasku pasti dicarinya. Kalau tidak, apa yang da ingat dariku. Aku yakin, dia tidak terlalu mengingatku dan hanya menebak-nebak hal ini.
“Kakak suka sama kak Ahmad?” kataku untuk mencoba mencairkan suasana. Dia hanya diam.
“Tidak apa apa kok kak, aku sudah tahu dari awal.” Aku mengerling.
“Jadi kak Ranti sama kak Ahmad gimana?” haha! Sekarang aku yang diatas kan! Makanya jangan sekali sekali melawan Nadin!
“Apaan sihh?” dia tampak tersipu akan kata kataku tadi. Aku segera menutup pintu, membuka apa yang sedari dulu ku sembunyikan. Aku sudah siap untuk semua kenyataan. Dan dia tiba-tiba berbalik. Menatap dan menunjukku dengan tajam. Aku sudah tahu apa yang dia maksud.
“Ya, aku memang orang itu.” Kataku. Dia nampak terkejut. Dan dia hanya diam.
“Aku sudah tahu apa yang ingin kakak katakan. Sudah susah payah aku menyembunyikannya selama ini akhirnya ketahuan juga. Ternyata, kakak sangat peka. Wah kakak parah bisa tahu hanya dengan mengetahui sedikit tentangku. Aku restuin kakak sama kak Ahmad dehh. Ha ha ha” Kataku sedikit bercanda. Dia hanya diam.
“Namun kenapa kamu tidak bicara pada keluargamu? Padahal kan kamu bisa membantu keluargamu,” sepertinya dia ingin tahu lebih banyak tentang aku. Jika begini keadannya, aku akan katakan isi hatiku.
“Lihat aku kak, bandingkan pekerjaanku dengan umurku kak, mereka hanya bicara aku menghayal jika aku memberitahukan ini semua. Tapi aku mohon pada kakak untuk tidak memberitahukan pada siapapun tanpa seizinku. Aku mohon,” aku memohon padanya. Aku harap dia bisa menjalankan itu.
Tiba tiba, pintu terketuk…
Aku segera membukakan pintu. Aku melihat Dian bersama dengan seseorang. Aku tidak mengenalnya, tapi mungkin kak Ranti kenal dia. Kak Ranti segera bergabung dengan laki laki yang bersama Dian.
Langsung saja kutarik Dian menuju ke kamarku. Setelah itu, segera aku mengunci kamarku. Segera aku ingin meluapkan segala kemarahan yang ada.
“Kamu kok datangnya lama sekali sih? Katanya kamu mau datang jam 8! Kok sekarang pukul 10 baru sampai?” kataku agak kesal.
“Maaf ya Nadin, tadi sebenarnya aku mau berangkat jam 8 tapi ternyata sepupuku juga mau keluar dan dia mau mengantarku. Tapi ternyata tujuanku dengannya sama. Jadi aku ke sini jam 10 dehh. He he he.” Katanya meminta maaf sambil tertawa. Aku agak kesal, tapi baiklah. Acaranya pun belum dimulai.
__ADS_1
“Memang ada apa sih kamu memintaku datang jam 8?” tanyanya. Segera kutarik dia ke gudang ku dengan kubiarkan pertanyaannya yang masih menggantung.
“Karena untuk menyelamatkan dunia.”