Five Days Or Die

Five Days Or Die
Chapter 2


__ADS_3

Point of View: Nadin


“Huh! Apakah tadi kakak melihat kacamataku? Oh tidak! Semoga saja dia tidak sempat melihatnya. Kacamata ini dapat seperti handphone. Luar biasa. Hmm, belum ada orang yang tahu tentang ini.” Sebenarnya, aku sendiri juga tidak terlalu yakin apa yang merasukiku. Tapi yang kutahu, aku bahkan bisa lebih pintar dari guruku hanya dengan belajar dari ayahku dan ibuku.


Walaupun ayahku adalah orang terpintar di kota ini, tapi kesalahan mereka di waktu dulu hampir mencelakakan seluruh kota. Mungkin hanya aku yang tahu bahwa kejadian itu nyaris melenyapkan seluruh kota.


Aku ini dianggap orang yang tidak tahu apa apa di kelasku, tapi ketika di dunia luar aku dianggap jenius oleh orang orang yang kubantu.


Aku tahu, bagaimana keadaan ibu dan apa saja kebutuhanku. Sedangkan, akhir akhir ini aku sangat membutuhkan banyak uang. Ibuku pasti tidak akan kuat jika semua kebutuhanku aku limpahkan kepada ibuku. Dan aku bisa mencari uang dari satu satunya keahlianku, yang kutahu.


Memperbaiki barang orang lain. Di sini, ada aturan untuk menjadi mekanik. Harus memiliki umur lebih dari 20 tahun supaya bisa mendapat lisensi dari pemerintah. Dan yang belum cukup umur dianggap illegal dan akan dikenakan denda jika diketahui pemerintah. Pernah sekali keberadaanku terancam karena pelangganku merupakan intel dari kepolisian.


***


“Kamu di sini berumur 23 tahun kan?” tanyanya. Aku mulai tahu ke mana arah pembicaraan ini.


“Ya pak memang ada apa ya?” tanyaku. Mulai ku ambil sepeda mekanikku.


“Kok kamu kelihatannya masih muda sekali ya? Sebentar,” katanya sambil membuka tudung jaketku yang selalu aku pakai untuk menutupi identitasku. Aku berusaha tenang. Untuk sesaat, aku melihat lencana yang terselip di dalam jaketnya. Aku segera menyimpulkan, dia adalah polisi.


“Teknologi sangat berbahaya nak, kamu belum bisa melakukan ini.” Katanya sambil tersenyum aneh. Aku merasa hal yang tidak baik. Aku melihat kilatan cahaya dari balik jaketnya.


Dengan segera aku lari menggunakan sepeda mekanikku. Aku tahu dia sudah mengeluarkan borgol. Dia juga menghubungi temannya. Aku tahu ini akan berakhir.


Meringkuk, menunggu ibuku datang menjemput. Setelah ibuku menjemput, aku harus membayar denda, yang totalnya sangat banyak, hingga ibu harus mengeluarkan banyak uang.


Kakakku juga pasti akan marah atau sedih mendengarnya. Maksudku untuk membantu bahkan berakhir buruk, kami harus mencari orang tua baru, dan semua ini karenaku.

__ADS_1


Hanya hal hal seperti itu yang berada dalam pikiranku ketika aku dikejar polisi.


Aku segera fokus, kembali mencoba tenang, aku segera memetakan jalan yang ada di sekitarku. Aku tahu, aku harus masuk ke sebuah rumah jika ingin lolos. Sementara itu, sepeda yang kubawa segera kuubah ke mode saku. Dan segera sepatu ciptaanku beraksi. Aku memang bisa terbang menggunakan sepatu ini, tapi jika aku terbang itu sama saja dengan menyerahkan diri!


“Menyerah sajalah nak! Kamu tidak akan bsa kabur dari kami!” katanya.


“Coba saja tangkap aku!” kataku. Aku masih mencoba tenang. Segera kulompati pagar dan masuk ke sebuah rumah yang nampaknya kosong ditinggal pemiliknya bekerja.


Aku tahu, semua rumah memiliki sistem instalasi air. Dan biasanya letaknya tersembunyi. Aku segera mengaktifkan kacamata dengan pemindai. Aku melihat sesuatu yang bergerak cepat, namun di sebelahnya kosong. Aku segera menuju tempat tersebut. Terdapat di taman, di balik tanaman yang sangat aman, aku segera masuk ke sana.


Kacamataku melihat segerombolan polisi mulai masuk dari pintu depan. Aku segera melompat turun, teriakanku kutahan. Ternyata, dasar instalasi itu cukup jauh. Beruntung aku menggunakan sepatu yang bisa menahanku jatuh.


“Hadeuhhh! Hidup kok begini banget ya?” kataku sambl perlahan mulai duduk. Beruntung, saluran itu sangat bersih, jadi aku tidak perlu kotor di sana.


Aku sangat lelah saat itu. Aku menghela nafas panjang. Beruntung aku sudah siap untuk hal-hal seperti ini. “Sudah tidak dapat uang, jadi gini lagi! Susahlah!” batinku berkata. Sayup sayup, terdengar suara dari atas sana.


“Cepat cari! Dia pasti belum jauh!” Aku kenal pasti suara itu. Dialah orang yang menjebakku.


Aku segera pulang, malas sekali aku berjalan. Karena hal itulah, aku menciptakan beberapa alat yang menunjangku pergi. Jadi, walau aku terlihat tidak membawa apapun, tapi aku selalu memiliki barang barang canggih dimanapun dan kapanpun.


Dan aku selalu membawa banyak sekali senjata. Aku berfikir lebih baik lebih daripada kurang. Mirip agen agen rahasia kupikir, tapi aku tidak punya izin apapun dari pemerintah.


***


Tiba tiba, aku mendengar suara keras dari arah kamar kakakku. Suara itu memecah lamunanku. Aku mencoba mengintip sedikit demi sedikit. Dengan drone mini ciptaanku, aku bisa mengamati apa saja yang dibuat oleh kakakku.


“Hmm, sepertinya dia mau pergi, melihatnya membawa tabungannya. Dan kertas itu, itu adalah sebuah daftar. Sepertinya dia akan pergi.” Kataku girang.

__ADS_1


Setelah memastikan keadaan aman, aku segera keluar kamar, lalu ke bawah tanah dan ke gudang. Aku melihat rancangan kakakku.


Programnya memang sudah jadi, namun kok sepertinya ada sesuatu maslah di programnya. Aku merasa ingin melihatnya, aku maju dan menendang sebuah bor listrik. Aku teringat dengan apa tujuanku mengendap endap ke bawah tanah.


“Aku akan menciptakan teknologi yang bisa menyelamatkan dunia! Sampai akhirnya semua orang bisa mengakui keluarga kami lagi.” Pikirku. Aku tersenyum dalam anganku. Tak terasa, aku menekan sesuatu di program kakakku.


Aku membuka sistem program kakakku! Aku sedikit melihatnya. Aku bergidik dengan apa yang kulihat. Sepertinya aku pernah melihat sisitem itu. Aku langsung ingat hal mengerikan.


Jika diteruskan atau diuji coba, alat itu dapat membawa kota ke masa lalu, masa depan, atau di suatu tempat yanh tidak ada waktu!


Aku mencoba untuk mengotak atik sistemnya. Aku berusaha memperbakinya. Sebelum aku selesai mengerjakan pekerjaanku, aku mendengar suara berisik dari atas, dan dengan cepat aku tahu, itu kakakku.


Aku segera mempercepat kerjaku. Aku tahu, dia pasti akan marah. Namun apa daya, waktu tidak berpihak padaku. Aku hanya bisa memberi pengaman kalau kalau kakakku ingin menguji coba alatnya. Sementara itu, aku bisa membuat atau memperbaiki alat itu. Kakakku sudah sampai ke bawah. Aku segera menghampirinya. Dia terlihat bingung. Aku bisa melihat itu semua di wajahnya.


“Kamu ngapain disini, Nadin?” Tanya kakakku. Aku ingin sekali menjelaskan. Tapi dia dengan segera pergi membawa alat alatnya mendekati program yang tadi kuperbaiki.


Tapi aku berani bersumpah bahwa itu belum sempurna seperti yang aku harapkan.


Aku memakai kacamataku, memindai. Tapi dengan segera kakakku mengusirku. Katanya aku mengganggu. Walaupun dengan berat aku segera mninggalkan gudang dan pergi ke kamar.


“Aku sangat yakin bahwa itu bukan program yang baik. Itu seperti sistem ayah waktu itu!.” Aku bolak balik di kamarku, memikirkan program kakakku itu. Apa yang harus kulakkan? Tanyaku dalam hati.


Aku meringkuk di pojok kamarku. Aku jadi teringat kata-kata ayahku. “Semua benda memilki kelemahan.” Itu kata-kata yang sering diucapkan ayahku. Aku sedih, menangis mengenang ayahku.


“Baiklah! Kejadian ayah dan ibu hanya yang terakhir! Aku harus membuat alat untuk menangkalnya! Aku tidak akan membiarkan keluargaku menjadi korban selanjutnya!” tekadku. Dengan segera, aku menuju ke gudang rahasiaku.


Beruntung saat itu kakaku sedang ke kamar mandi. Aku mengcopy rancangan kakaku, lalu aku akan mencari penangkalnya. Itu harus dilakukan. Harus! Dan aku akan selesai sebelum kakakku!

__ADS_1


Pict: Nadin



__ADS_2