
"Kamu ngapain nolongin Aku, harusnya Kamu biarin Aku mati, karena Aku capek hidup kayak gini," kata Zahra dengan tatapan benci.
"Kamu gak boleh ngomong gitu, Kita itu harus hidup, apapun yang terjadi, Kita harus bisa menjalani hidup ini," kata Zela sambil memegang tangan Zahra.
Zahra membuang mukanya, dan datanglah Cliff,
"Bagaimana keadaannya?" tanya Cliff.
"Dia, sudah baik," kata Zela tanpa menatap Cliff.
Zahra pun menoleh ke arah Cliff, dan terkesima dengan ketampanan Cliff.
"Hai, Kamu siapa?" tanya Zahra.
"Aku Cliff, Aku adalah pacar Zela," jawab Cliff dengan muka biasa aja.
"Dia ganteng juga ya," batin Zahra dengan senyum imut.
Zelap heran kenapa tiba-tiba Zahra tersenyum, karena sebelumnya dia cemberut.
"Zahra, kok tiba-tiba Kamu senyum, ada apa sih?" tanya Zela dengan senyum heran.
Bibir Zahra yang tersenyum pun berubah seketika menjadi cemberut.
"Emang kenapa, Kamu gak suka kalau aku senyum?" tanya Zahra dengan nada kesal.
"Bukan gi---" kata Zela yang di potong Zahra.
"Udah deh, mending Kamu pergi dari sini, keluar!" bentak Zahra.
Zela menunduk, lalu pergi keluar.
Cliff juga akan ikut keluar tapi, Zahra mencegahnya.
"Tunggu, Kamu di sini aja, neme in Aku, ya," minta Zahra dengan senyum lucu.
Cliff pun mendekati Zahra dan duduk di sebelahnya.
Zela melihat mereka berdua di depan pintu yang berkaca.
"Sepertinya Zahra suka sama Cliff?" batin Zela sambil melihat Zahra dan Cliff.
Zela pun berbalik badan dan berjalan ke tempat duduk, tetapi dia tabrakan dengan Trent.
Zela pun terjatuh tapi Trent tetap berdiri.
"Auw, woy!" bentak Zela.
Zela terkejut karena melihat siapa yang menabraknya.
"Kalau jalan lihat-lihat," kata Trent dengan muka cool.
__ADS_1
Trent pun langsung pergi meninggalka Zela.
Zela melihat Trent berjalan, lalu Zela menyalip Trent dan menghentikan Trent.
"Denger ya, Lo yang salah, bukan Gue," kata Zela dengan muka kesal.
"Kok jadi saya yang di salahin," kata Trent.
Trent pun langsung berbalik badan dan berjalan ke belakang.
"Woy," bentak Zela dari jauh.
Zela mengikuti Trent dengan berjalan tergesa-gesa.
Tetapi di tengah lorong rumah sakit, banyak sekali orang, yang mengakibatkan Zela berhenti.
"Gue bakal ikutin Lo kemana pun Lo pergi," batin Zela dengan muka kesal.
Zela pun berhasil menghentikan Trent.
"Lo ngikutin Gue sampai depan rumah sakit ini, wow, hebat, mau Lo apa sih," kata Trent dengan muka kesal.
"Sorry, tapi Gue juga gak tau kenapa Gue ngejar Lo," kata Zela dengan muka bingung.
Trent pun tersenyum.
"Gue ini dokter loh, tapi kok lo gak sopan banget sama gue?" tanya Trent sambil menatap Zela dengan tatapan yang cool.
"Ya iyalah Lo tau Gue siapa, Gue kan dokter," kata Trent dengan nada sombong.
"Lo Trent kan, si pendiam di masalalu?" tanya Zela dengan muka kesal yang imut.
"masa lalu, biarlah berlalu," kata Trent.
"Jawab," kata Zela dengan tatapan tajam.
Dokter pun terus melihat muka Zela yang sangat imut saat sedang cemberut.
Trent membuang mukanya dan memandang langit yang gelap di malam hari yang ditambah dengan mendung.
"Sepertinya kita harus masuk, karena akan turun hujan," kata Trent sambil memandang muka Zela yang masih cemberut.
"Lucu juga ya, Cewek ini, apa lagi kalau lagi cemberut, pipinya kelihatan chuby banget, gemes deh, batin Trent dengan senyum tampan.
"Lucu, lucu lucu," kata Trent sambil mencubit kedua pipi chuby milik Zela.
Zela pun melepaskan tangan Trent dengan sangat kasar.
Lalu tiba-tiba, ada cahaya petir dan Zela pun reflek memeluk Trent karena takut dengan petir.
Trent pun membalas pelukan Zela, dan Zela tersadar, dan langsung melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Lo apa-apaan sih, meluk-meluk Gue!" bentak Zela.
"Sorry, bukannya Lo ya, yang meluk Gue karena ada petir," bantah Trent dengan senyum kebenaran.
Zela menunduk dan pipinya pun memerah dan juga matanya menjadi merah muda.
"Aduh, malu banget nih Gue," batin Zela.
Zela menatap Trent, dan Trent pun kaget karena melihat mata Zela yang berwarna merah muda, yang Ia ketahui, jika matanya merah muda, maka artinya Zela sedang jatuh cinta.
Trent tersenyum sampai menunjukan gigi putihnya tersebut.
"Ke-kenapa Dia senyum, pakai nunjukin gigi lagi?" batin Zela, "aduh, jantung Gue jadi deg-degan gini deh,".
Tiba-tiba, hujan turun dengan sangat deras.
Trent langsung menarik tangan Zela dan masuk ke dalam rumah sakit.
Lalu mereka duduk berdua di lobby yang sepi.
Zela menolah-noleh sekeliling karena hari itu sudah larut malam.
"Ngapain kita di tempat yang sepi dan sedikit gelap kayak gini?" tanya Zela dengan muka takut.
"Kenapa, takut ya?" tanya Trent dengan senyum jahat.
"Enggak, Gue gak takut kok," jawab Zela.
Tiba-tiba ada suara jangkrik, krik krik krik.
Zela pun reflek memeluk Trent karena ketakutan.
Trent langsung senyum.
"Gue biarin aja deh, Dia meluk Gue," batin Trent.
Zela melihat sekeliling, dan tanpa sadar, Zela masih ada di pelukan Trent.
Zela melihat ke depan dan di melihat tubuh Trent dari bawah ke atas, dan Zela pun langsung melepaskan pelukannya.
"Gak papa, peluk aja kalau nyaman," kata Trent dengan senyum senang.
"Ih, kok Gue meluk Dia terus sih, kan Gue jadi malu sendiri," batin Zela.
Tiba-tiba lampu mati dan ruangan pun menjadi gelap.
Dan Zela pun kembali memeluk Trent.
"Hidupin lampunya," suruh Zela sambil memeluk Trent dengan nada ketakutan.
Trent pun membuang mukanya dengan muka heran sembari memutar bola mata malas di tambah senyum.
__ADS_1
bersambung.......