Gadis Bermata Pelangi

Gadis Bermata Pelangi
rencana yang menyenangkan


__ADS_3

POV Zela


Di meja makan, Zela bingung, apa Dia harus merahasiakan masalahnya atau tidak,"


"Apa Aku harus mengatakannya, jika Aku mengatakannya, Aku bisa saja di usir dari sini, tapi, jika Aku tetap menyembunyikannya, Aku akan tersiksa," batin Zela dengan muka sedih.


Zela pun memutuskan untuk mengatakannya.


"Mama," panggil Zela sambil menatap Bu Sasha.


"Kenapa sayang?" jawab Bu Sasha.


Pak Bei pun langsung menatap Zela dengan tatapan mengancam.


Zela yang mengatahui hal tersebut, tidak jadi mengatakannya.


"Ini apa?" tanya Zela sambil menunjuk sebuah mangkik berisi air es.


"Oh, ini es buah, Kamu mau, Mama ambilkan ya," jawab Bu Sasha sambil mengambilkan es buah tersebut untuk Zela.


Zela pun memakan sekaligus meminum es buah tersebut dengan muka senang dan mata hijau.


POV Zahra


Di suatu circuit, Zahra berhenti karena motornya mogok kehabisan bensin.


"Kalau gak gimana?" tanya Zahra dengan muka kesal melihat mantan gebetannya.


"Yah, kalau gak mau sih, juga gak papa," jawab Cliff sambil berjalan lalu berhenti sambil menaiki motor Zahra dan duduk di belakangnya.


Zahra menatap Cliff dengan penuh amarah.


"Turun gak?" tanya Zahra dengan muka kesal.


"Gak," jawab Cliff dengan muka tersenyum manis.


Zahra pun menggoyangkan motornya dengan muka kesal, tetapi Cliff masih tetap ada bertahan di motornya.


"Turun," suruh Zahra sambil menatap Cliff.


Zahra pun kembali menggoyangkan motornya.


"Turun," suruh Zela yang tiba-tiba menangis bagaikan anak kecil.


"Kok Lo nangis sih?" tanya Cliff dengan muka kebingungan sambil memajukan kepalanya untuk melihat muka Zahra yang menghadap ke depan.


"Jangan nangis dong, ya, cup cup cup," kata Cliff.


Cliff pun mengacak-ngacak rambut Zahra.


Zehra pun menangkis tangan Cliff dan terus menangis.


"Kalau Lo punya masalah, cerita ke Gue," lirih Cliff.


"Ya udah, gak papa, nangis aja," kata Cliff.


Zahra pun terus menangis.


POV Tasya


Tasya sedang lari pagi bersama Zela.

__ADS_1


"Tas, kita mau kemana?" tanya Zela sambil berlari dan menatap Tasya.


"Kemana aja, yang penting Aku dapet inspirasi buat bikin cerita," jawab Tasya sambil berlari tanpa menatap Zela.


Mereka pun berhenti di perempatan jalan.


Tasya menolah-noleh.


"Kamu nyari apa sih?" tanya Zela sambil menatap Tasya dengan muka kebingungan.


"Nyari jalan," jawab Tasya.


"Jangan bilang, kalau Kita tersesat," kata Zela dengan muka dan nada panik.


Tasya pun tertawa kecil.


"Ya gak lah, Aku bingung mau kemana, karena kan, jalannya banyak," jawab Tasya sambil menatap Zela.


"Kirain," kata Zela dengan muka malas.


Zela pun melihat jalan, di masa jalan itu seperti hutan, yang penuh dengan pohon.


"Tas, kita kesana yuk," ajak Zela sambil menunjuk jalan tersebut.


"Kuy," setuju Tasya dengan senyuman.


Mereka pun masuk ke jalan tersebut.


Zela berlari sambil melihat-lihat pohon yang ada di sisi jalan.


Tasya berhenti, dan Zela pun ikut berhenti.


"Kenapa berhenti?" tanya Zela sambil menoleh ke belakang.


Zela melihat jalan tersebut yang merupakan gang yang di kelilingi pohon.


"Serem banget, jalan itu," kata Zela.


Zela menghentikan Tasya dengan cara memegang tangan Tasya, Tasya pun terhenti dan menoleh ke Zela.


"Kenapa?" tanya Tasya dengan muka kebingungan.


"Kayaknya jalan itu bahaya deh," kata Zela dengan muka ketakutan.


"Hihi, gak kok, gak seram, coba lihat, dan perhatikan baik-baik, apa ada sesuatu di sana," suruh Tasya dengan tawa kecil sambil melepaskan tangan Zela secara pelan-pelan.


Zela pun melihat ke jalan tersebut, dan karena jalan itu membelok, Zela melihat pohon besar, dan karena Zela ketakutan, mata Zela pun berubah menjadi warna putih, dan akhirnya, Zela melihat sesosok kuntilanak sedang tersenyum di balik pohon besar tersebut.


Zela pun langsung berlari ketakutan.


"Waaaaaaa, hantu, tolong!" teriak Zela sambil berlari dengan kecepatan tinggi.


Zela pun berhenti di pertigaan yang penuh dengan mobil yang berlalu lalang.


Zela pun menunduk, lalu bernafas dengan kecepatan tinggi.


Zela menoleh ke belakang.


"Hah, Tasya mana," kata Zela dengan nada dan muka panik.


Tiba-tiba ada yang menyentuh pundaknya dari belakang.

__ADS_1


Zela menoleh dengan secara pelan-pelan dengan muka katakutan.


Dan akhirnya, Zela pun mengeluarkan nafas lega dengan mata yang kembali berwarna hitam.


"Ternyata Kamu," kata Zela dengan muka yang sangat lelah.


"Kamu kenapa sih, kok kabur, habis ngelihat hantu ya?" tanya Tasya dengan tawa kecil.


"Ya, tadi Aku melihat hantu, di balik pohon besar," jawab Zela.


Tasya pun tertawa besar.


"Kamu kok ketawa sih, Aku kan serius," kata Zela dengan muka kesal karena di tertawakan oleh Tasya.


"Ya udah, Kuy lanjut lari paginya," ajak Tasya dengan tawa kecil.


Mereka pun meneruskan lari paginya.


Mereka pun sampai di rumah. Mereka masuk ke dalam dan terlihat semua anggota keluarga menunggu mereka.


"Akhirnya kalian pulang juga," kata Reina dengan senyuman lega.


"Memangnya ada apa?" tanya Tasya sambil duduk di sofa yang empuk.


"Jadi gini, Aku itu bakal syuting di puncak, dan ya, Tasya pasti tau," jawab Reina.


"Oh, itu, ya ya ya," kata Tasya sambil mengangguk-ngangguk.


"Apa Aku boleh ikut?" tanya Zela dengan muka penuh penasaran.


"Boleh, dan bukan cuma Kamu aja yang boleh ikut, tapi satu keluarga ikut," kata Reina dengan nada yang semakin kencang.


Semuanya pun memasang senyum tiga jari.


"Beneran?" tanya Tasya dengan senyum tiga jari.


"Iya, kalian semua Aku ajak ke puncak, mau ya? tanya Reina dengan senyuman manis.


"Ya mau lah," jawab semuanya dengan kompak lalu mereka tertawa.


Mata Zela pun berubah menjadi hijau.


"Ya udah, sekarang kalian mandi terus bawa baju sebanyak mungkin, karena perjalanannya panjang loh," suruh Reina.


Setelah mandi, Zela berada di kamarnya bersama Reina dan Tasya.


"Kamu mau bawa aja kesana!" tanya Reina sambil nelipat bajunya.


"Aku mau bawa, kamera, untuk merekam pemandangan," jawab Tasya sambil memegang kameranya.


"Kalau Kamu Zela?" tanya Reina.


"Kalau Aku, gak tau harus bawa apa," jawab Zela sambil mencari sesuatu untuk di bawa.


Zela memasang muka cemberut yang imut, dan akhirnya Zela tau apa yang harus di bawa.


Skip


Di ruang tamu, Mereka menunggu mobil yang masih di panaskan.


"Baiklah, ayo kita berangkat," kata Pak Bei.

__ADS_1


"Baiklah, ayo," kata Zela,Reina dan Tasya dengan kompak sambil mengangkat tangan mereka.


bersambung.........


__ADS_2