
POV Cliff
Cliff berada di restaurant pizza bersama Dirk.
Mereka duduk sambil memakan pizza.
"Kira-kira Dia kecewa gak ya sama Gue, Gue udah nolak Dia?" tanya Cliff sambil memakan pizza.
"Sudah pasti kecewa, dan Dia pasti sedih," jawab Dirk sambil meminum orange juice.
"Memang ya, cinta itu rumit, ribet, dan bikin mikir keras," kata Cliff tanpa menatap apapun.
"Memang, cinta itu memang ribet, Gue aja gak bisa bersatu sama Sheryl karena sesuatu," kata Dirk sambil menatap minumannya.
Cliff pun mengambil handphone di meja, lalu menelepon Zahra.
POV Zahra.
Tiba-tiba handphone Zahra berbunyi.
Zahra pun mengangkat telepon dari Cliff tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Halo," kata Zahra dengan muka malas.
"Halo, Aku mau jadi pacar Kamu," kata Cliff.
Zahra pun terdiam karena terkejut.
"Halo, Zahra, Kamu gak papa kan, ini Cliff?" tanya Cliff.
"Gimana, di jawab gak?" tanya Dirk sambil menatap Cliff.
Cliff pun menggeleng.
"C-Cliff, Kamu terima Aku jadi pacar Kamu?" tanya Zahra dengan senyuman kebahagiaan.
"Ya, Aku terima Kamu jadi pacar Aku," jawab Cliff.
Pipi Zahra pun memerah, dan Zahra pun masuk ke dalam kamar untuk menutupi pipinya yang merah.
"Aku seneng deh, akhirnya kita jadian," kata Zahra dengan senyum manis.
__ADS_1
"Ya, Aku juga seneng," kata Cliff dengan senyum.
"Udah ya, i love you," kata Cliff.
Zahra pun tersenyum sampai menunjukan giginya.
Cliff pun menutup teleponnya.
POV Zela
Zela dan Tasya berada di tempat syuting.
"Tasya, gimana sih rasanya jadi penulis naskah?" tanya Zela sambil duduk dan memakan nasi kotak.
"Gimana ya, ya gitu deh," jawab Tasya.
Zela pun memasang muka cemberut.
POV Pak Evan
Tiba-tiba handphone Pak Evan berdering.
"Om angkat telpon dulu ya," ijin Pak Evan.
Pak Evan pun keluar dari villa lalu mengangkat telpon tersebut.
"Halo sayang, Aku kangen deh sama Kamu, Kamu kapan sih pulangnya?"
"Heh, denger ya, jangan nelpon Aku saat lagi begini, nanti kalau ada yang curiga gimana?" bisik Pak Evan dengan orang yang menelpon.
"Kamu kok marah sih sama Aku, hiks hiks,"
"Bukan gitu Sayang, tapi kan Aku cuma ingin menjaga hubungan kita aja," jelas Pak Evan.
"Ya udah deh, pokoknya Mas jangan lupain Aku ya, i love you,"
"Ya ya, i love you too," bisik Pak Evan.
Pak Evan menutup telponnya lalu masuk ke dalam villa.
"Oh ya, gimana kalau kita jalan-jalan keliling tempat ini, bosen nih di dalam villa terus," ajak Bu Ragel.
__ADS_1
"Ya udah, ayo kita jalan-jalan," jawab Pak Evan.
"Zahra, Ayo kita jalan-jalan!" panggil Bu Ragel.
"Ya!" jawab Zahra dengan suara lantang.
Merek pun keluar dari villa lalu jalan-jalan.
Di tengah jalan, mereka bertemu Perempuan.
Pak Evan yang melihatnya pun terkejut setengah mati.
"Halo, perkenalkan, nama Saya Clara, Saya adalah pemilik villa di sini," kata Clara selingkuhan Pak Evan.
"Halo, senang bertemu dengan Anda, perkenalkan, Saya Bu Ragel, ini Reina keponakan Saya, Pak Evan suami Saya, dan Zahra, anak saya," kata Bu Ragel.
"Ya sudah, kalau gitu Saya duluan ya, permisi," pamit Clara dengan senyuman manis.
"Waduh, gimana ini, pacar gelap Saya ada di sini?" batin Pak Evan.
"Ibu, mending Kita balik ke villa aja ya, Ayah capek nih," ajak Pak Evan.
"Ya sudah, ayo," balas Bu Ragel.
Mereka pun sampai di villa.
"Kita pulang sekarang ya," ajak Pak Evan dengan muka panik.
"Loh, kenapa, kan enak di sini," protes Bu Ragel demgan muka kebingungan.
"Udah, jangan banyak protes, sekarang juga, kita pulang," kata Pak Evan dengan nada marah.
"Ayah kenapa sih, Aku gak suka ya, Ayah mengambil keputusan sepihak kayak gini!" protes Zahra dengan nada tinggi.
"Udahlah Zela, kalau Ayah bilang pulang, ya pulang!" bentak Pak Evan.
Zahra pun langsung pergi meinggalkan Mereka semua, dan Reina pun mengejarnya.
"Zahra, tunggu!" panggil Reina sambil berlari mengejar Zahra.
bersambung..........
__ADS_1