
POV Tasya
Tasya berada di lokasi syuting, Dia sedang duduk santai di sana untuk mencari inspirasi untuk membuat cerita.
Tasya pun melihat Bryan yang sedang makan nasi kotak dengan muka kesal.
"Tuh orang kenapa ya? kok kayak kesurupan gitu sih," batin Tasya.
Seorang Kru pun datang ke Bryan dan bertanya kepada Bryan.
"Permisi Mas, Saya mau nanya, Tempat Sutradara di mana ya?" tanya Kru tersebut.
Bryan pun menoleh ke arah Kru tersebut dengan tatapan marah.
"Lo bisa gak, gak ganggu Gue!" bentak Bryan sambil membanting nasi kotak dengan mata melotot.
"A-a-ampun Mas," kata Kru dengan muka ketakutan.
Bryan pun mencengkram baju Kru tersebut.
"Lebih baik Lo pergi dari sini!" perintah Bryan dengan nada kecil.
Kru itu pun mengangguk.
Bryan melepaskan Kru tersebut lalu pergi dari tempat itu dengan muka marah.
"Kurang ajar banget tuh Cowok," batin Tasya sambil melihat Bryan.
Tasya mengikuti Bryan dan sampailah di parkiran di mana Bryan memarahi asistennya.
"Lo ini gimana sih, Lo kan tau kalau Gua takut sama Rambutan, terus kenapa Lo makan rambutan di mobil Gua!" bentak Bryan dengan suara lantang.
"Sekarang juga bersihin mobil Gue!" perintah Bryan dengan nada kecil.
Bryan pun pergi meninggalkan asistennya yang menangis.
"Gue bakal bales Lo apapun dan bagaimanapun caranya," batin Tasya dengan muka kesal.
__ADS_1
***
Di rumah tepatnya di kamar, Tasya mencoba memikirkan cerita yang bisa Dia gunakan untuk membalas perlakuan Bryan.
"Kira-kira apa ya, yang bisa Aku lalukan supaya Bryan kapok?" batin Tasya sambil memikirnya cerita.
"Aha, Aku punya ide yang sangat bagus," batin Tasya dengan senyuman jahat.
***
POV Reina
Reina berada di tebing bersama Zahra dam Alex, tiba tiba Ada yang menelponnya.
"Halo," kata Reina sambil memegang handphone miliknya.
"Mbak Reina, sekarang juga Mbak pergi ke lokasi syuting, karena sebentar lagi akan di mulai takenya."
"Oh, baiklah, Saya akan ke sana sekarang," kata Reina.
***
"Mohon maaf, tapi Saya takut sama rambutan, jadi tolong buahnya di ubah, ya pak," minta Bryan sambil memegang kertas naskah.
"Maaf ya, naskah ini tidak bisa di ganti, yang artinya, buahnya juga gak bisa di ganti," bantah Andri sang sutradara.
Andri pun melihat Reina dan memanggilnya.
"Reina, sini!" panggil Andri sambil melambaikan tangan.
"Ya Pak kenapa?" tanya Reina dengan senyuman.
"Ini, di baca ya," kata Andri sambil memberikan naskah.
***
Setelah membaca, Reina berada di posisinya tanpa Bryan, karena Bryan ada di belakang kamera dan sedang menguatkan mentalnya.
__ADS_1
"Oke, and, action!" teriak Andri.
Reina sedang menunggu seseorang sembari memakan rambutan di bangku yang Ia duduki.
Tetapi Bryan tidak kunjung melakukan tugasnya.
"Cut!" teriak Andri dengan muka kesal.
Andri lun menoleh ke belakang ke arah Bryan.
"Andri, Kamu ini gimana sih? ini waktunya Kamu pergi ke sana loh," tanya Andri dengan nada kesal.
"Saya kan sudah bilang Pak, kalau Saya takut sama rambutan," jawab Andri dengan muka ketakutan.
Andri pun menepuk jidatnya.
"Sekarang Kamu pergi temui Reina dan jalankan peran Kamu, oke," perintah Amdri tanpa menatap Bryan dengan nada malas.
Bryan pun berdiri di posisinya.
"Oke, kamera, action!" teriak Andri.
Reina kembali memakan rambutan sembari duduk menunggu Bryan.
Bryan pun memberanikan diri berjalan menuju Reina yang di kerubungi oleh rambutan yang sangat banyak.
Bryan pun duduk di sebelah Reina.
Dan angin pun sengaja berhembus kencang untuk membuat Bryan pelukan dengan Reina akan tetapi, rambutan yang ada di belakang Bryan masuk ke dalam baju Bryan, dan mengakibatkan Bryan berdiri. lalu menggoyangkan tubuhnya.
"Tolong, keluarkan ini dariku!" teriak Bryan dengan muka ketakutan.
Semua orang yang ada di sana pun mengeluarkan rambutan yang ada di dalam baju Bryan.
Andri pun menepuk jidatnya.
Bersambung.......
__ADS_1