Gadis Bermata Pelangi

Gadis Bermata Pelangi
Ayah Monica


__ADS_3

POV Monica


Monica dan Shara berada di dalam kamar rumah, mereka sedang bermain boneka bagaikan anak kecil, sambil tersenyum bahagia, dan tiba-tiba, hal yang tak diduga pun datang.


Pintu rumah terbuka dan menampakan sesosok Pria dewasa berpakaian seperti orang kantoran dengan dasi.


"Ayah pulang!" teriak Pak Dylan ayah Monica dan Shara.


Shara yang mendengarkan kata tersebut langsung memasang senyuman bahagia sampai menunjukan giginya.


Shara pun keluar dari kamar lalu menghampiri Pak Dylan dan langsung memeluknya.


"Akhirnya Ayah pulang," kata Shara sambil memeluk Pak Dylan dengan senyuman yang sangat manis.


"Shara kangen ya sama Ayah?" tanya Pak Dylan dengan senyum.


"Iya dong, Shara kangen banget sama Ayah, eh bukan, tapi rindu," kata Shara.


"Jangan rindu, itu berat, Kamu gak akan kuat, biar Aku saja," Kata Pak Dylan.


"Ih ayah, selalu deh, gombal," kata Shara sambil melepaskan pelukan tetapi senyumannya tidak kunjung menghilang.


"Monica mana?" tanya Pak Dylan sambil melihat kamar Monica dari belakang pintu.


"Monica ada di kamar," jawab Shara.


Paka Dylan pun memasuki kamar Monica lalu duduk di kasur dengan senyuman.


"Ayah pulang," kata Pak Dylan dengan senyuman manis.


Monica menatap Pak Dylan dengan tatapan benci.


"Ngapain Ayah pulang, udah gak betah, seneng-seneng di sana, sampai lupa sama anaknya sendiri," kata Monica dengan muka marah sambil menatap Pak Dylan.


"Loh, kok gitu sih, harusnya Monica seneng dong Ayah udah pulang," lirih Pak Dylan dengan muka lesu.

__ADS_1


"Sekarang juga Ayah pergi dari sini!" bentak Monica sambil berdiri di kasur.


Pak Dylan pun menunduk dengan muka sedih.


"Maafin Ayah ya, Ayah lupa sama kalian," lirih Pak Dylan sambil menatap Monica.


Monica pun berbaring di kasur sambil memeluk bonekanya dan tidur.


Pak Dylan yang melihatnya pun menghembuskan nafas sedih.


"Yang sabar ya Yah, emang sulit untuk membuat Monica jadi nerima semua ini," kata Shara dengan muka sedih.


Pak Dylan pun keluar dari kamar Monica lalu masuk ke kamarnya sendiri.


Shara pun mengikuti Ayahnya dan masuk ke kamar Ayahnya.


"Ada kabar baik Yah," kata Shara senyuman yang di paksakan.


"Apa itu?" tanya Pak Dylan.


Pak Dylan pun memasang senyuman.


"Ayah seneng, Shara baikan sama Monica," lirih Pak Dylan.


POV Zela.


Zela dan Leo berada di villa, Zela sedang memasak mie instan dan Leo pun masuk ke dapur bertemu dengan Zela.


"Hai, Kamu sedang apa?" tanya Leo.


"Aku sedang memasak, eh kok pakai bahasa indonesia sih, biasanya kan pakai bahasa gaul," jawab Zela sambil mengambil air.


"Biar beda saja," kata Leo.


"Oh," kata Zela.

__ADS_1


Mereka pun diam selama beberapa detik.


"Mau di bantuin gak?" tanya Leo.


"Mau, itu masukin bumbunya ke mangkok," suruh Zela tanpa menatap Leo.


Leo pun menyobek plastik pelindung bumbu mie instan, dan menuangkan kecap dan bumbu lainnya ke dalam mangkok yang sangat besar.


POV Zahra


Zahra berlari ke tebing.


"Zahra, berhenti, apa yang mau Kamu lakuin?" teriak Reina dengan muka panik.


"Ini mungkin sudah waktunya, Aku meninggalkan dunia ini," kata Zahra sambil berjalan ke tepi sungai di atas tebing.


"Zahra berhenti, jangan lakuin itu, itu gak bakal nyelesain masalah,"


Tiba-tiba datang seseorang yang dengan cepat menarik Zahra ke pelukannya.


Zahra pun menatap orang tersebut.


"Jangan lakuin itu, Aku juga ngerasain apa yang Kamu rasain, jadi kita harus memikirkan apa yang bisa kita lalukan untuk mendamaikan orang tua kita," kata Alex dengan muka datar sambil memeluk Zahra.


Zahra pun menunduk dengan muka sedih.


"Benar, Aku masih punya Kamu, Adik terganteng yang pernah ada," kata Zahra dengan senyuman.


Mereka pun melepaskan pelukan.


"Memangnya siapa lagi Adik kak Zahra selain Aku," kata Alex dengan senyuman yang menunjukan gigi.


Reina pun menghampiri mereka berdua dengan senyuman senang.


"Kamu juga punya Aku kok," kata Reina sambil menatap Zahra.

__ADS_1


bersambung......


__ADS_2