
Di malam hari Zoe terbangun karena merasakan lapar, dia mengusap perutnya yang tidak bisa dia ajak kompromi.
"Tahan bisa nggak" kesal Zoe memukul perutnya dengan keras.
Aww !
Ringis Zoe merasakan sakit di perut nya semakin bertambah.
Zoe mencoba tidur kembali dia yakin dengan tidur rasa laparnya akan hilang, tapi realita nya tak semudah itu Zoe malah semakin merasakan rasa lapar.
"Oh ini menyebalkan" Zoe menyibakkan selimutnya dan dia turun dari ranjang nya.
Brugkkk !
Baru dua langkah Zoe ambruk karena merasakan sakit yang menusuk kaki nya.
Zoe mencium tangan nya dan dia menangis karena mencium bau darah yang berasal dari kaki nya.
Di kamar Zoe memang ada pecahan gelas dan piring, sebenarnya Mom Ayu menyuruh pelayan membereskan kekacauan di kamar Zoe tapi dengan gengsi nya Zoe menolak.
Dan kini dia merasakan bagaimana rasanya sendirian, bahkan untuk makan pun dia merasa sungkan untuk meminta tolong.
"Tidak aku tidak lemah, tahan Zoe jangan membuat orang semakin iba padamu" gumam Zoe mengusap air matanya.
Zoe menahan perih di kaki nya, dia mencoba mengingat-ingat kemana arah jalan ke kamar mandi dari tempat dia duduk saat ini.
Mencoba berjalan meski dengan langkah yang tertatih-tatih, Zoe akhirnya bisa sampai ke kamar mandi meski dia beberapa kali hampir jatuh.
Zoe berjalan sangat hati-hati dengan wajah yang penuh keyakinan, hingga akhirnya dia bisa menyentuh wastafel, Zoe membersihkan kaki nya di wastafel.
Cukup lama Zoe di kamar mandi hingga dia akhirnya keluar dengan wajah datar nya, kali ini Zoe mencoba mencari di mana dia biasa meletakan sendalnya dan ya Zoe berhasil mendapatkan nya.
"Ini tidak mudah, tapi aku harus bisa melakukan apapun tanpa bantuan orang lain" gengsi Zoe begitu tinggi.
__ADS_1
Setelah itu Zoe kembali tidur kembali, tanpa Zoe sadari semua yang dia lakukan tadi di saksikan oleh Dad Kevin di layar ponselnya.
"Dia begitu keras kepala, oh Tuhan kenapa putriku kembali di uji dengan hal yang sama" gumam Dad Kevin merasa sesak melihat putrinya yang terus berpura-pura tegar.
Dad Kevin sengaja memasangkan cctv di kamar putrinya, dia ingin melihat apa yang Zoe lakukan setidaknya dengan ini dia bisa memastikan jika mental putrinya tidak seburuk yang dia pikirkan.
Setelah selesai Dad Kevin mematikan ponselnya, dia keluar dari ruangan baca dan melihat Reyhan yang belum pulang di dapur.
"Tuan" Reyhan menunduk melihat Bos nya.
"Apa itu?" tanya Dad Kevin.
"Kopi, apa tuan mau?" tanya balik Reyhan.
Dan Dad Kevin mengangguk, Reyhan membuatkan kopi untuk Bos nya setelah itu keduanya pergi ke beranda depan.
Reyhan dan Dad Kevin duduk di kursi, keduanya sama-sama menyeruput kopi nya masing-masing.
"Seperti yang tuan tau kak Malina masih di wisma" sahut Reyhan cepat.
Dad Kevin mengangguk, dia cukup prihatin pada yang terjadi pada Malina, kakaknya Reyhan.
"Tuan apa saya boleh memberikan saran" ragu-ragu Reyhan bersuara.
Membuat nya langsung mendapatkan lirikan dari Bos nya.
"Apa saran mu?" tanya Dad Kevin dingin.
Reyhan diam sebentar lalu ragu-ragu melihat Bos nya.
"Nona Zoe mungkin butuh liburan, bagaimana kalau tuan memberikan dia liburan ke tempat yang dia mau" usul Reyhan.
"Kau mengejek putriku! bagaimana mungkin orang buta bisa __" ucap Dad Kevin terhenti.
__ADS_1
Dia terdiam beberapa saat mencoba memikirkan apa yang di sukai putrinya.
Dan Dad Kevin sadar jika dia terlalu mengekang putrinya, menurut Om Regi ia terlalu berlebihan pada Zoe sehingga membuat Zoe merasa terpenjara.
"Nona Zoe dan nona Amel sempat membicarakan tempat yang mereka suka" lanjut Reyhan.
Amel !
Dad Kevin seketika ingat pada putri teman nya, dia lupa jika bersama Amel Zoe selalu bahagia.
Tiba-tiba Dad Kevin berdiri dan tanpa mengatakan apapun dia langsung pergi meninggalkan Reyhan sendirian.
Reyhan hanya menggelengkan kepalanya, dia begitu menghormati keluarga ini bahkan Reyhan rela mati untuk keluarga Dad Kevin.
Tiba-tiba ponsel Reyhan berdering dia langsung mengangkat telpon nya.
Dan baru beberapa detik tersambung wajah Reyhan seketika pucat karena mendengar kabar buruk itu.
"Apa yang kalian kerjakan kenapa kakak ku bisa kabur!" geram Reyhan marah.
Dan pihak wisma hanya meminta maaf, tapi menurut Reyhan kata maaf itu tidak penting karena keselamatan kakak nya saat ini sedang terancam.
"Jika ada apa-apa dengan kakak ku kalian akan aku tuntut!" ancam Reyhan lalu mematikan panggilan nya sepihak.
Tut!
"Kak Lina, sebenarnya kakak kemana?" gumam Reyhan prustasi.
🌹
Yang masih ingat dengan dua anak kecil di panti asuhan pasti tau siapa Reyhan dan Malina 🤗
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️🤗🙏
__ADS_1