
Adegan kekerasan, jangan di tiru, jika tidak suka ganti bab selanjutnya. Terima kasih
" Siram dengan air dingin ke gadis itu!!! enak saja dia kelamaan pingsan." ucap Candra geram.
byur
uhuk uhuk uhuk uhuk
Gadis itupun langsung terbangun sambil terbatuk - batuk karena airnya ada yang masuk ke dalam hidung dan mulutnya.
Matanya terbuka dan matanya membulat sempurna melihat majikannya ada di depannya.
" Apa salahku tuan?" tanya gadis itu.
plak
plak
Candra menampar pipi kanan dan kiri kemudian meremas rahang milik gadis itu membuat gadis itu meringis kesakitan.
" Apa yang kamu lakukan terhadap mama dan istriku? hah." bentak Candra.
" A..aku." ucap gadis itu gugup.
Candra melepaskan tangannya yang memegang rahang gadis itu.
" Cindi, aku tidak menyangka kamu sangat jahat , kamu membuat mamaku dan istriku koma dan hal itu membuat nyawa ke 4 anakku dalam bahaya." bentak Candra sambil mencekiknya.
Cindi berusaha melawan tapi tangan dan kakinya diikat akhirnya hanya bisa pasrah. Melihat Cindi mulai melemas Candra melepaskan cekikkannya.
uhuk uhuk uhuk
Cindi terbatuk - batuk dan menghirup sebanyak - banyaknya udara.
" Kamu jugakan yang memberi garam dimasakkan istriku supaya aku sebagai suaminya memarahi istriku? kenapa kamu lakukan itu pada istriku! apa salah istriku padamu, padahal istriku selalu baik padamu juga Indri tapi kamu membalasnya dengan keji." ucap Candra.
xxxxx
Candra mengetahui dari laporan kepala pelayan kalau istrinya selalu membantu para pelayan dan juga para bodyguard yang bekerja di mansion jika mengalami kesulitan keuangan karena Istrinya tidak pernah perhitungan, jika istrinya membeli makanan maka semua penghuni mansion dibelikan dan masih banyak lagi kebaikan yang dilakukan oleh istrinya.
__ADS_1
Candra terkadang tanpa sengaja mendengar mereka mendoakan semoga keluarga tuan Candra dan nona Cantika selalu bahagia dan selalu menceritakan kebaikan nona Cantika. Candra sangat bahagia dan beruntung mempunyai istri yang perduli terhadap sesama.
xxxx
" Aku tidak melakukannya, tuan muda salah orang." ucap Cindi tanpa dosa.
" Toni." panggil Candra
Toni yang tahu maksud perkataan tuannya, langsung mengambil pisau lalu di sayat di leher Cindi hingga darah segar keluar dari leher Cindi. Toni langsung menghisap darah Cindi membuat Cindi meringis menahan perih.
" Gimana masih belum mengaku?" tanya Candra.
" Tidak tuan, saya tidak salah, saya di fitnah." ucap Cindi bohong.
" Toni lakukan sekarang." perintah Candra.
Setelah bicara seperti itu Candra dan Dio keluar dari ruangan itu tapi sebelum keluar Candra menghentikan langkahnya, Toni pakai pengaman takutnya nanti kamu kena penyakit." ucap Candra kemudian keluar dari ruangan itu dan masuk ke ruangan pribadinya.
Toni yang mendapatkan tugas merasa senang karena Toni memiliki libido yang sangat tinggi.
Seperti biasa Toni memukul terlebih dahulu menggunakan melepaskan gesper yang dipakainya kemudian mencambuknya membuat Cindi berteriak kesakitan dan memaki - maki Toni.
" Bagaimana apa masih tidak mau mengatakan pada bosku?" tanya Toni
" Aku tidak bersalah." ucap Cindi tegas.
Membuat Toni marah, Tonipun menghujamkan kerisnya berkali - kali agar Cindi mau mengaku.
xxxx
Di tempat ruang pribadi Candra tampak Dio duduk berhadapan dengan tuannya Candra.
" Tuan kenapa kita membuang waktu kan ada cctv tinggal kasih lihat ke Cindi lalu kita siksa kemudian dikasih ke ikan hiu." kata Dio bingung.
" Iya aku tahu tapi aku sudah janji sama Toni." jawab Dio.
" Janji apa tuan?" tanya Dio bingung.
" Dulu waktu aku pulang dari meeting sudah larut malam pas lewat jalan raya yang sepi tiba - tiba ada dua mobil yang melintang di jalan otomatis mobilku aku paksa rem mendadak. Gerombolan preman keluar dari mobil itu, waktu itu aku tidak membawa bodyguard membuatku memutar arah balik tapi ternyata di belakangku ada mobil yang menghalangiku akhirnya aku keluar dan melawan mereka di saat aku terdesak ada seseorang pria yang menolongku hingga kami bisa mengalahkan mereka." ucap Candra
__ADS_1
" Aku sangat berterima kasih padanya dan memberinya uang sebagai ungkapan terima kasih tapi pria itu tidak mau. Aku menawarkan pekerjaan dan pria itu bersedia dengan syarat pria itu ingin bekerja bagian yang memberi hukuman." ucap Candra
" Hukuman??" ulang Dio bingung
" Iya hukuman buat penjahat wanita karena lib**do dia terlalu tinggi karena itu dia ingin memberi hukuman ke mereka dengan cara menyiksanya kemudian menyetu****hinya jika tidak ada wanita, dia memintaku mengirimi wanita - wanita jalang. ucap Candra
" What??" ucap Dio terkejut
" Aku baru tahu ada orang seperti itu." ucap Dio merinding tidak bisa membayangkannya.
" Yah begitulah, makanya kalau ada wanita aku serabkan ke Toni tapi kalau laki - laki barulah aku yang akan menyiksanya." ucap Candra.
Dio hanya diam saja mendengar ucapan bosnya Candra.
Setelah agak lama mereka berdua masuk ke dalam gudang tempat penyiksaan Cindi.
Tubuh Cindi penuh dengan luka cambuk, di bibir Cindi bengkak dan sudut bibir Cindi berdarah seperti bekas gigitan.
" Bagaimana masih belum mengaku?" tanya Candra sinis.
" Sampai kapanpun aku tidak mengaku, aku di fitnah." ucap Cindi lirih.
" Toni, lakukan yang seperti tidak biasa." ucap Candra kesal
Toni yang mengerti maksud perkataan tuan Candra berjalan membelakangi cindi dan menaikkan dresnya ke atas bagian belakang dan dengan susah payah berusaha memasukkan kerisnya di bagian an*s tentu saja Cindi yang tidak pernah berteriak kesakitan.
Setelah beberapa berhasil masuk ke dalam an*s milik Cindi. Toni menahan pinggang Cindi sambil memutar kepala Cindi ke arah Cindi.
" Masih bertahan atau aku akan bermain dengan kasar." tanya Toni.
" Cuih." Cindi meludahi muka Toni.
Toni yang sangat kesal melap kemudian tangam kirinya menahan dan tangan kanannya mencekik Cindi sambil menggoyangkan pinggulnya dengan tempo sangat cepat membuat Cindi berteriak kesakitan.
" Baik - baik saya mengaku, maafkan tuan Candra saya terpaksa melakukannya." ucap Cindi menahan rasa sakit. Tonipun menghentikan aktivitasnya tanpa mencabut kerisnya.
" Kenapa kamu lakukan?" tanya Candra membentak Cindi.
" Karena aku tidak ingin nona Cantika bahagia, saya iri semua orang memuji kebaikannya, saya juga iri melihat nona Cantika dan Tuan Candra selalu bersikap romantis, kenapa nasibku tidak sama seperti nona Cantika yang selalu dilimpahi kebahagiaan dan juga kekayaan." ucap Cindi sambil terisak
__ADS_1
" Karena itulah aku sengaja memberikan garam di setiap masakannya dan berharap tuan muda Candra dan nyonya marah tapi ternyata perkiraaan saya salah, tuan dan nyonya tdak marah, berkali - kali aku coba tapi kalian berdua tidak membencinya atau mengusirnya, sia - sia rencanaku. Sampai akhirnya aku punya ide dengan memberi minyak di anak tangga." ucap Cindi mengakui perbuatannya.