Gadis Culun Dan Ceo Lumpuh

Gadis Culun Dan Ceo Lumpuh
Kematian Cindi 2


__ADS_3

" Hukuman pertama satu orang kamu lukai maka hukumannya dua tamparan, tamparan pertama buat mamaku yang membuatnya jatuh dari tangga." ucap Candra


Plak


plak


Candra menampar Cindi pipi kanan dan kiri membuat bibir Cindi pecah dan berdarah karena tamparannya sangat keras.


" Hukuman ke dua tamparan buat istriku karena istriku juga jatuh dari tangga" ucap Candra


plak


plak


" Hukuman ke tiga tamparan buat ke empat anakku yang hampir saja meninggal kalau tidak tepat waktu menolongnya." ucap Candra


plak


plak


plak


plak


plak


plak


plak


plak


Candra menampar Cindi sebanyak 8 kali membuat dirinya langsung pingsan.


Candra menghentikan tamparannya. Memberikan kode ke arah Dio. Dio yang mengerti langsung menyiram air dingin yang sudah disiapkan oleh bodyguard.


byur


Cindi perlahan membuka matanya dengan sayu seluruh badan dan wajahnya terasa sakit semuanya. Di hatinya mulai ada rasa penyesalan karena gara - gara iri hati hidupnya menjadi tersiksa.


" Maafkan aku, aku sangat menyesal." ucap Cindi lirih sambil menangis


" Cih... tidak ada kata maaf buatmu. Sudah terlambat kamu menyesalinya seharusnya kamu itu pikir pakai otakmu sebelum berbuat jangan iri hati." bentak Candra.


" Toni, apakah kamu masih mau main lagi dengan wanita jahat ini?" tanya Candra


" Boleh tuan, punyaku masih tegang." ucap Toni santai


" Silahkan lakukan sepuasmu setelah itu potong - potong tubuhnya dan berikan pada hiuku." perintah Candra kejam.


" Baik tuan." ucap Toni


Candra dan Dio pergi meninggalkan ruangan gudang tempat penyiksaan. Candra berjalan keluar meninggalkan mansion menuju ke rumah sakit.

__ADS_1


Toni yang mengetahui tuannya sudah pergi tampak senyum menyeringai ke arah Cindi. Cindi yang melihatnya menjadi takut.


Toni menggunting seluruh pakaian yang dikenakan Cindi hingga polos. Toni dengan segera melepaskan seluruh pakaian yang dikenakannya.


Toni yang sudah maniak se*s langsung menghujamkan keris mpu gandring ke bagian favorit milik Cindi tanpa pemanasan.


Cindi merasakan kesakitan teriakan dan makian dikeluarkan oleh Cindi tapi tidak diperdulikan oleh Toni.


" Punyamu benar - benar enak, aku buat kamu sampai mati keenakkan setelah itu baru tubuhmu aku potong - potong buat makanan hiu." bisik Toni, di sela - sela Toni menggoyangkan pinggulnya.


" Lebih baik kamu bunuh saja daripada aku tersiksa seperti ini." ucap Cindi meringis kesakitan


" Sayang kalau kamu mati, kerisku masih betah menancap dirimu. Setelah puas aku bermain denganmu baru aku berikan pada 6 bodyguardku barulah keinginanmu aku laksanakan" bisik Toni sambil menci*m secara kasar.


Toni melakukan berulang - ulang sampai Cindi pingsanpun tetap Toni melakukannya. Setelah dirinya lelah barulah Toni berhenti dan pergi meningalkan Cindi sambil membawa pakaiannya.


Para bodyguard berjumlah 6 orang yang berjaga hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Toni yang jalan santai tanpa sehelai benangpun tanpa punya rasa malu.


Para bodyguard juga tahu kalau Toni sering bercin*a dengan jalang atau tawanan bosnya, kadang merekapun bermain jika Toni memintanya atau mengijinkannya.


" Kalian berenam ingin bermain dengan wanita itu?" tawar Toni


" Boleh bos?" tanya 6 bodyguard


" Silahkan sampai kalian puas jika dia mati kalian potong - potong tubuhnya dan berikan pada hiu." ucap Toni tanpa dosa.


" Baik tuan terima kasih." ucap ke 6 bodyguard.


Mereka berenam sangat senang merekapun bermain secara bergantian, mereka bermain sangat kasar dibandingkan dengan Toni membuat Cindi tidak kuat akhirnya mati mengenaskan, mereka masih tetap bermain.


Toni yang sudah selesai mandi menanyakan kondisi Cindi kepada salah satu bodyguardnya. Bodyguardpun mengatakan kalau Cindi sdah mati dan tubuhnya di potong - potong dan diberikan kepada ikan hiu.


Toni hanya tersenyum dan berjalan ke arah dapur untuk memasak karena di mansion tidak ada pelayan terlebih Toni pintar memasak.


xxxx


Candra dan Dio kini berada di ruang icu. Candra masuk ke dalam dan memandangi istrinya yang terbaring lemah.


Sayang bangunlah, apa kamu tidak merindukanku dan ke empat anak kita? dua anak kita mirip denganmu dan dua anak kita mirip denganku, bangunlah sayang aku sangat merindukanmu." ucap Candra sambil menggengam tangan istrinya kemudian mengecup punggung tangan istrinya.


Karena lelah Candra tertidur di samping ranjang istrinya. Sebenarnya dokter dan perawat melarang kalau Candra tidak boleh lama berada di ruang icu tapi karena Candra adalah pemilik rumah sakit merekapun tidak berani melarangnya.


Tanpa diketahui Candra, Cantika perlahan menggerakkan tangannya.


" Air." ucap Cantika lirih


hening


" Air." ulang Cantika


hening


Cantika perlahan membuka matanya dan menatap wajah suaminya yang tampak sangat lelah, dengan tangan gemetar Cantika mengusap wajah suaminya Candra.

__ADS_1


Candra yang tertidur pulas merasa terganggu dan mulai membuka matanya. Wajahnya sangat bahagia melihat istrinya sadar dari komanya.


" Sayang, kamu sudah sadar." ucap Candra tersenyum bahagia.


" Sudah sayang, air haus." ucap Cantika lirih


Candra memencet bel dan keluarlah dokter sedangkan Candra keluar menemui Dio untuk membeli air minum pakai sedotan. Dio langsung mengangguk dan mengerjakan perintah tuannya.


Ceklek


Tampak dokter keluar dari ruangan diikuti oleh dua perawat yang mendorong ranjang Cantika menuju ke ruangan vvip.


" Dokter gimana keadaan mama saya?" tanya Candra


" Nyonya besar masih koma tuan." ucap dokter


Candra hanya diam dan sedih melihat mamanya sampai sekarang belum sadar. Candra berharap agar mamanya cepat sadar.


Candra masuk ke dalam ruang rawat vvip. Hatinya sedih mendengar mamanya masih koma dan disisi lain Candra bahagia istrinya kini sudah sadar dari komanya.


" Masih ada yang sakit sayang?" tanya Candra lembut.


" Badanku masih sakit sayang, mungkin waktu jatuh dari tangga." ucap Cantika tiba - tiba ketakutan mengingat dirinya terguling - guling dan tidak ingat lagi apa yang terjadi selanjutnya.


Candra yang melihat istrinya ketakutan mengingat kejadian yang sangat mengerikan memeluknya dan mengecup kening istrinya.


" Sudah lupakan sayang, semua sudah berakhir." ucap Candra lembut.


Cantika merasa aneh dengan perutnya dan mendorong pelan tubuh suaminya, Cantika terkejut melihat perutnya sudah rata.


"Sayang anak - anak kita? hiks... hiks... hiks.." Cantika menangis mengira anak - anaknya tidak selamat dari kejadian tersebut.


" Anak - anak kita selamat sayang sekarang masih di inkubator." ucap Candra lembut sambil membelai wajah istrinya.


" Syukurlah sayang, aku takut terjadi dengan ke empat anak kita." ucap Cantika merasa lega ke empat anaknya selamat.


Candra hanya tersenyum dan membelai wajah istrinya tapi wajahnya tampak memendam rasa kesedihan. Cantika yang menatap wajah suaminya menyadarinya.


" Ada apa sayang, kenapa mukamu seperti memendam kesedihan." tanya Cantika


" Mama koma Can." ucap Candra sendu


" Mama koma, mama sakit apa?" tanya Cantika terkejut


" Mama jatuh dari tangga sama seperti dirimu." ucap Candra sambil menggenggam tangannya dengan erat walau Cindi sudah mati tapi hatinya masih merasa dendam.


" Apa, kenapa bisa?" tanya Cantika kaget


" Ada minyak yang sengaja di taruh di tengah - tengah tangga dan pelakunya adalah Cindi." ucap Candra geram


" Cindi, kenapa bisa sejahat itu?" tanya Cantika tidak percaya.


Candrapun menceritakan semuanya tanpa ditutupi kecuali siksaan dan kematian Cindi, Candra hanya bilang kalau Cindi kabur entah kemana ketika di tangkap.

__ADS_1


Candra tidak berani jujur karena takut istrinya tidak akan terima karena apa yang dilakukannya pasti akan ditentang oleh Cantika mengingat sifat Cantika yang penuh dengan kebaikan.


Cantika hanya diam sambil menitikkan airmata mendengarkan semua cerita suaminya. Kini mereka berharap mama Candra segera sadar dari komanya.


__ADS_2