
Ceklek
Pintu terbuka, Toni membawa makanan dan di taruhnya ke meja nakas dan duduk memperhatikan Jessica yang masih memejamkan mata.
Toni membuka ponselnya dan mengetik sesuatu kemudian ditaruhnya kembali ke meja nakas.
Cup
Toni mengecup bibir Jessica dan membelai wajah dengan lembut.
" Sayang bangun yuk, aku sudah masak buatmu?" ucap Toni
Jessica membuka matanya dan menatap Toni tanpa berkedip.
( " Sebenarnya Mas Toni lumayan tampan walau terlihat sangar apalagi kalau memukul sungguh sangat menakutkan, apakah aku sanggup mengubah sifatnya?" batin Jessica ).
" Ehemmm... Kenapa menatapku seperti itu, kamu menyesal dan ingin membatalkan pernikahan?" bentak Toni kesal
" Bukan itu, Mas Toni bisakah tidak membentakku? aku hanya menatapmu karena Mas Toni lumayan tampan walau terlihat sangar apalagi kalau memukul sungguh sangat menakutkan." ucap Jessica jujur.
" Mas minta maaf dari dulu mas tidak bisa bersikap lembut, ini saja jujur aku baru belajar untuk lebih lembut dan tidak kasar padamu." ucap Toni jujur.
" Bolehkah aku tahu masalalu Mas Toni?" tanya Jessica
" Kenapa kamu ingin tahu, kenapa sekarang kamu semakin lama semakin cerewet? kamu tidak takut padaku hah?" bentak Toni.
Jessica hanya diam, hatinya bingung menghadapi sikap Toni kadang lembut dan tiba - tiba pemarah. Jessica menghembuskan nafas perlahan menahan emosi.
" Aku tidak takut pada Mas Toni, hidupku sudah hancur ketika Mas Toni mengambil mahkotaku, jika seandainya takdirku mati di tanganmu aku sudah ikhlas mungkin sudah takdirku. Hanya aku harap Mas Toni bisa mengubah sikap Mas Toni yang kadang lembut dan terkadang pemarah, hanya itu keinginanku tidak lebih." ucap Jessica sambil meneteskan airmata.
deg
deg
Jantung Toni berdetak baru kali ini ada seorang tawanan yang berbicara seperti itu dengannya. Toni menghapus airmata Jessica menggunakan ke dua ibu jarinya dan kemudian memeluknya.
" Maafkan aku, tolong bantu aku untuk mengubah sifat burukku." ucap Toni
Jessica hanya mengangguk dan membalas pelukan Toni.
" Makan dulu ya, nanti mas akan ceritakan." ucap Toni sambil mengambil piring di meja nakas.
" Aku makan sendiri." ucap Jessica
" Tidak, aku akan suapi." ucap Toni
__ADS_1
" Tapi.." ucapan Jessica terpotong karena mendapatkan tatapan tajam. Jessica pun akhirnya membuka mulutnya.
" Mas Toni tidak makan?" tanya Jessica
" Nanti setelah mas suapi kamu baru mas makan." ucap Toni
Jessica mengambil sendok yang di pegang Toni kemudian menyuapi makan.
" Kita makan sama - sama." ucap Jessica
Toni merasa terharu karena baru kali ini ada seorang wanita yang perduli dan perhatian padanya karena selama ini wanita - wanita yang tidur dengannya hanya meminta uang dan para korban tahanan wanita yang diperko*a sering meludahinya bahkan berkata - kata dengan kasar.
Mereka saling suap dan akhirnya nasi dan lauk sudah habis tak bersisa. Toni memberikan minum pada Jessica, Jessica mengambilnya sambil tersenyum dan meminum setengah gelas tanpa di duga Toni meminum bekas gelas yang masih tersisa.
" Mas Toni kok pakai gelas yang aku minum?" tanya Jessica heran.
" Tidak apa - apa biar kita semakin menjadi dekat." ucap Toni.
Toni memberikan paper bag ke Jessica dan mengambil piring dan gelas kotor untuk di cuci.
" Apa ini Mas?" tanya Jessica
" Dres buatmu, oh ya saudaramu Karina ada di kamar sebelah kalau mau temui dia? tapi mandi dulu biar badanmu segar." pinta Toni.
Selesai mandi Jessica berjalan ke luar untuk menemui Karina sambil membawa paper bag untuk mengganti pakaian Karina. Karina terbaring lemah dengan tubuh masih polos tanpa sehelai benang, memar dan lebam. Jessica sangat miris melihatnya. Jessica mengambil selimut dan menutupi tubuh Karina.
Jessica keluar mencari dapur dan bertemu dengan bodyguard. Bodyguard itu tersenyum mesum dan ingin melece***n Jessica.
" Ehemmm.." ucap Toni agak kencang dan bodyguard itupun berhenti mengganggu Jessica yang sedang ketakutan dengan muka yang agak pucat.
" Jangan ganggu dia, dia calon istriku." ucap Toni tegas
" Baik tuan, maaf." ucap bodyguard itu
" Pergilah." usir Toni
"Baik tuan." ucap bodyguard takut. Bodyguard itu takut karena big bosnya Candra sangat percaya dengan Toni dan Toni merupakan tangan kanan tuan Candra. Selain itu juga Toni mengusai ilmu bela diri membuatnya bertambah takut untuk melawannya.
Setelah bodyguard itu pergi, Toni mendekati Jessica dan memeluknya sambil mengecup keningnya.
" Kenapa kamu ada di sini? ada apa?" tanya Toni.
" Aku mau mencari handuk dan air hangat buat melap badan saudaraku Karina." ucap Jessica.
" Kamu ke kamar Karina aja nanti aku susul." ucap Toni.
__ADS_1
" Baik, makasih mas Toni." ucap Jessica
Jessica berjalan dan masuk ke dalam Karina tampak Karina sudah terbangun dan menatap Jessica sambil duduk di kepala ranjang.
" Jessica kita pergi dari sini dan kita balas dendam pada Cantika dan Candra, gara - gara mereka kita jadi seperti ini." ucap Karina
" Sudahlah kak, hilangkan rasa dendammu tidak baik." ucap Jessica.
" Apa maksudmu Jessica! kau!!" bentak Karina tidak percaya saudaranya bicara seperti itu.
" Kak, apakah kakak tidak berpikir gara - gara kakak memikirkan balas dendam mahkotaku hilang di ambil oleh laki - laki itu, apakah itu belum cukup buat kakak." ucap Jessica sambil menangis
" Kita akan bunuh laki - laki brengsek itu." ucap Karina
" Sudahlah kak aku capek, balas dendam itu tidak baik." pinta Jessica
" Apakah kamu mencintai laki - laki itu?" tanya Karina
" Saya akan belajar untuk mencintainya, saat ini aku merasa nyaman dengannya, perhatian dia padaku membuatku nyaman, Mas Toni berbeda dengan mantanku." ucap Jessica
plak
Karina menampar Jesssica
" Dasar kamu pria itu jelek, brengsek kenapa kamu menyukainya hah!" bentak Karina
Jessica hanya diam sambil tangannya memegang pipinya. Karina mengangkat tangannya hendak menampar kembali ke arah Jessica.
brak
Pintu dibuka dengan keras tampak Toni menatap Karina dengan tatapan tajam membuat Karina menurunkan tangannya. Toni mengangkat tangannya ke arah Karina untuk menamparnya tapi tangannya di tahan oleh Jessica sambil menggelengkan kepalanya sambil matanya menangis seperti memohon untuk tidak menampar sepupunya.
Toni yang melihat Jessia menurunkan tangannya dan mengusap airmata Jessica dengan menggunakan ibu jarinya kemudian mengusap pipi Jessica yang memerah akibat tamparan Karina.
" Tinggalkan dia sendiri di kamar, ayo kita pergi ke kamar kita, mas akan mengobati lukamu." ucap Toni sambil membawanya keluar dengan memeluk dari arah samping.
brak
Toni membanting pintu dengan keras karena hatinya ingin rasanya memberi hukuman yang pantas buat Karina.
Terima kasih atas komentarnya dan jangan lupa like, vote dan tip nya yaaa biar author tetap semangat menulis, terima kasih banyak😁
Salam Author,
Yayuk Triatmaja
__ADS_1