
" Nanti lama - lama enak." bisik Toni.
Toni melakukan berulang - ulang dan tidak memperdulikan teriakan kesakitan Tina membuat Tina pingsan. Tapi Toni yang merasa dirinya masih kurang tetap melakukannya hingga 6 kali bermain barulah Toni tumbang dan menarik kerisnya dan berbaring di samping Tina.
Toni membangunkan Tina tapi Tina tidak bangun dan darah keluar di bagian in**m mirip Tina membuat Toni panik.
Toni memanggil dokter untuk datang di hotel xxx jalan xxxx. Sambil menunggu Toni masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian memakai pakaiannya kembali.
Toni memakaikan pakaian ke tubuh Tina dengan menahan hasratnya yang muncul kembali.
Setelah selesai Toni duduk dan memperhatikan Tina yang mukanya sangat pucat membuat Toni bersalah.
tok tok tok
Bunyi orang yang sedang mengetuk pintu kamarnya. Toni membuka laci untuk mengambil kunci kamar kemudian membuka kamar hotel.
Tampak dokter datang dan Toni memintanya untuk masuk dan memintanya mengecek kondisi gadis itu.
Mata dokter itu membulat dan melototkan ke arah Toni karena kesal.
" Ada apa? kenapa matamu melotot seperti itu?" tanya Toni heran
" Ton, bawa gadis itu ke rumah sakit sekarang kalau tidak dia bisa mati kehabisan darah." ucap dokter pribadinya.
" Baik." ucap Toni sambil menggendong Tina menuju ke mobilnya.
Setengah jam kemudian Tina di bawa ke rumah sakit dan dimasukkan ke ruang ugd. Toni menunggu Tina di luar ruangan ugd dengan rasa takut dan kuatir. Tiba - tiba ponsel milik Toni berbunyi, Toni mengambil ponselnya di celana panjang tampak tulisan Paman Calling. Toni menggeser tombol warna hijau.
"Terima kasih atas komentarnya dan jangan lupa like, vote dan tip nya yaaa biar author tetap semangat menulis, terima kasih Hallo paman." panggil Toni.
π±"Toni, mana Tina?" tanya paman
π±"Tina..." ucap Toni bingung menjawab lanjutannya.
π±" Tina kenapa Ton" tanya paman panik
π±" Tina masuk ke rumah sakit paman." jawab Toni gugup.
π±" Apa?" tanya paman kaget
π± "Iya paman." ucap Toni
π±" Rumah sakit mana?" tanya paman
π±" Rumah sakit xxx." ucap Toni
tut tut tut
Telephonepun dimatikan. Tidak berapa lama paman dan bibi sudah datang ke rumah sakit di ruangan ugd bertepatan dengan dokter datang.
" Bagaimana dok dengan anak saya?" tanya paman
__ADS_1
" Mari ke ruangan saya." pinta dokter itu.
Mereka bertiga masuk ke dalam ruangan dokter. Dokter menceritakan semuanya dan beruntung pasien bisa diselamatkan.
Paman menatap tajam ke arah Toni.
" Toni apa yang sebenarnya terjadi dengan putriku?" tanya paman menahan marah.
Tonipun menceritakan apa yang telah terjadi tanpa ada yang ditutupi.
bugh
bugh
bugh
Paman memukuli Toni bertubi - tubi dan Toni diam tidak membalas. Dokter menahan tangan paman agar berhenti memukuli Toni.
" Toni, kamu harus bertanggung jawab untuk menikahi putriku." perintah paman
" Baik paman aku akan bertanggung jawab menikah dengan Tina putri paman." ucap Toni, mungkin dengan menikah Toni tidak perlu menahan hasrat atau bermain dengan jalang cukup dengan istrinya, saat ini Toni belum mencintai Tina mungkin berjalannya waktu Toni bisa mencintai Tina.
Seminggu kemudian kondisi Tina sudah membaik, Toni menikah dengan Tina, Tina berumur 15 tahun sedangkan Toni berumur 16 tahun kurang usia yang sangat muda.
Ada penyesalan di hati Tina gara - gara memakai bikini dan rok pendek dan tidak sengaja memegang keris milik Toni membuat Toni melakukan itu. Impian untuk melanjutkan sekolah dan niat kuliah pupus sudah.
Pernikahan diadakan secara sederhana mengingat pengantinnya masih muda.
Selama pernikahan Toni selalu meminta jatah setiap hari dan dalam sehari bisa 4 atau 5 kali main. Hasrat Toni yang tinggi dan juga masih muda membuatnya tidak lelah.
Pagi hari seperti biasa Toni sudah rapi dan berangkat ke restoran karena ada janji temu dengan klien yang ingin membooking restoran untuk acara ulang tahun perusahaan.
" Mama kita jalan - jalan yuk ke mall?" ucap Tina
" Kamu ada duit?" tanya mamanya.
" Ada donk, dikasih kartu kredit tanpa limit." ucap Tina
" Ayo, kita pergi." ucap mama.
Merekapun pergi dan belanja sepuasnya. Mamanya sangat bahagia bisa belanja sepuasnya. Karena lelah habis belanja mereka masuk ke restoran mewah dan memesan makanan.
" Sayang, mama lihat suamimu sangat sayang padamu sampai - sampai kamu diberikan kartu tanpa limit." ucap mamanya
" Iya ma, tapi badan saya cape ma, masa setiap hari main gituan terus dan sekali main bisa 4 atau 5 sekali main dalam sehari." keluh Tina
Mamanya membisikkan sesuatu ke anaknya dan Tina menyetujui usul ibunya
Malam harinya seperti direncanakan mama dan Tina akhirnya Toni menyetujuinya semua harta miliknya menjadi milik Tina.
Dua hari kemudian pihak bank menyita seluruh aset Toni dan Toni beserta anak buahnya tinggal di jalan menjadi preman seperti dulu sampai bertemu dengan bosnya Candra. Sedangkan paman, bibi dan Tina hilang entah kemana.
__ADS_1
xxxx FLASHBACK OFF xxxxx
" Begitulah ceritanya." ucap Toni
" Kalau seandainya mereka kembali dan wanita itu mempunyai anak apakah kamu akan menikahi wanita itu?" tanya Jessica.
" Tidak, cintaku hanya untukmu." ucap Toni
" Terima kasih sayang." ucap Jessica bahagia.
" Tidak sabar ingin menikah denganmu." ucap Toni.
" Sama mas, aku ngantuk mas." ucap Jessica
" Tidurlah aku juga ngantuk." ucap Toni sambil membelai Jessica dan tidak berapa lama Jessica tertidur.
xxxxx
Candra dan Cantika bersama ke empat buah hatinya bermain bersama. Candra dan Cantika tertawa bersama melihat ke empat anaknya yang sangat lucu dan menggemaskan.
" Sayang lusa, aku mau pergi." ucap Candra.
" Pergi kemana?" tanya Cantika.
" Anak buahku akan menikah." ucap Candra
" Aku ikut ya?" ucap Cantika.
" Kamu di rumah ya? temani anak - anak kita." pinta Candra.
" Kenapa aku tidak boleh ikut?" tanya Cantika bingung.
" Karena aku akan pergi bersama Dio dan Dion. Nanti kamu di temani Indri biar kamu tidak bosan." ucap Candra sambil tersenyum dan membelai rambut istrinya.
" Sayang, hati - hati ya perasaanku kok tidak enak ya?" tanya Cantika.
" Mungkin hanya perasaanmu saja." ucap Candra
" Mungkin, tapi aku pinta jaga diri mas. Telephone aku jika sudah sampai sana." pinta Cantika.
cup
" Baik. Tenang saja." ucap Candra sambil mengecup kening Candra.
Cantika hanya diam saja tapi hati kecilnya merasa tidak enak seperti terjadi sesuatu tapi bingung apakah itu hanya perasaan saja seperti apa yang dikatakan oleh suaminya.
Anak - anak mereka tertidur setelah merasa kecapaian Candra dan Cantika menggendong ke dua anaknya di kamar begitu pula Candra membawa anaknya ke kamarnya.
xxxxx
Terima kasih atas komentarnya dan jangan lupa like, vote dan tip nya yaaa biar author tetap semangat menulis, terima kasih banyakπ
__ADS_1
Salam Author,
Yayuk Triatmaja