
Toni terdiam tidak menjawab pertanyaan Jessica karena apa yang dikatakan benar adanya dan Toni merasa dirinya lebih brengs*k dari preman itu.
Toni melepaskan pelukannya kemudian bangun dari ranjangnya. Toni mengambil pakaian yang berserakkan di lantai dan memakainya kembali. Jessica hanya memandangi Toni dan merasa bersalah karena kata - katanya yang menyakiti hati Toni.
Toni berdiri dan baru dua langkah berjalan Toni menghentikan langkahnya.
" Aku tahu, aku adalah pria brengs*k yang telah menghancurkan hidupmu, maafkan aku. Aku akan meminta bosku untuk membebaskanmu." ucap Toni sambil melanjutkan langkahnya menuju pintu untuk keluar kamar. Tangan Toni memegang knop pintu untuk di putar.
greb
" Apakah Mas Toni tidak mencintaiku?" tanya Jessica sambil terisak
" Aku sangat mencintaimu karena itu membebaskanmu." ucap Toni sendu
" Mas Toni bohong, kalau benar Mas Toni memang mencintaiku tidak mungkin mengusirku untuk pergi dari mansion ini. Aku sangat mencintaimu, ku mohon jangan usir aku." mohon Jessica memeluk Toni dengan erat sambil terisak
Tubuh Toni menegang tidak menyangka mendengar ungkapan hati Jessica. Toni membalikkan badannya dan menghapus air mata Jessica menggunakan ke dua ibu jari tangan dan memeluk Jessica.
" Bukannya kamu menginginkan kebebasan?" tanya Toni yang sebenarnya sangat bertentangan dengan hatinya.
" Aku sangat nyaman bersama Mas Toni dan aku juga sangat mencintai Mas jangan tinggalkan aku dan jangan lukai aku. Itu saja yang aku inginkan." ucap Jessica sambil membalas pelukkan Toni dengan erat.
" Aku juga sangat mencintaimu, berjanjilah padaku untuk selalu setia dan sayang padaku." pinta Toni
" Ya aku janji untuk selalu setia dan mencintaimu." ucap Jessica sendu
" Sayang." panggil Toni.
" Hmm." ucap Jessica sambil mendusel - dusel wajahnya ke dada Toni.
" Berhenti mendusel - dusel apalagi kamu tidak menggunakan sehelai benangpun." pinta Toni dengan nada mulai berat.
" Aku lagi pengen sayang, rasanya nyaman banget." ucap Jessica.
" Iya aku tahu, tapi apa sayangku tidak merasakan adik kecilku sudah mulai menegang?" ucap Toni jujur
" Tahu, tahan ya aku lagi pengen rasanya nyaman banget." ucap Jessica polos
__ADS_1
" Itu nyiksa aku tahu." omel Toni dan suaranya semakin bertambah berat
" Ok deh aku mandi dulu." ucap Jessica sambil melepaskan pelukan dan membalikkan badan tanpa dosa melihat Toni yang sudah benar - benar naik lagi sampai ke ubun - ubun.
Bruk
Toni mendorong pelan tubuh Jessica hingga jatuh di ranjang kemudian menindihnya.
" Maaf sayang aku sudah tidak tahan." ucap Toni yang matanya sudah berkabut gairah.
Merekapun melakukan kegiatan panas sampai berulang - ulang membuat Jessica sangat lelah.
" Sayang, sudah ya? aku sangat lelah." ucap Jessica lirih
" Sebentar ya? lagi tanggung." ucap Toni sambil menaik - turunkan pinggulnya
Akhirnya Toni melakukan pelepasan yang sekian kalinya. Barulah Toni melepaskan kerisnya kemudian pindah posisi tidur menyamping sambil memandangi Jessica kemudian memeluknya.
" Terima kasih sayang, mas puas banget." ucap Toni tersenyum bahagia.
" Kamu ingin tahu masa laluku?" tanya Toni
" Boleh." ucap Jessica
xxxx Flashback On xxxxx
Ayahku seorang koki di restoran kecil dan ibuku seorang ibu rumah tangga.
Aku hidup bahagia dengan kedua orang tuaku walau hidup sederhana kami saling mencintai dan saling sayang menyayangi.
Sampai suatu ketika aku berumur 6 tahun, ayahku bertemu dengan sahabat lamanya dan mengajak kerjasama untuk mengelola restoran yang sangat besar untuk menjadi kepala koki sekaligus tangan kanan sahabat ayahku.
Hidup kami mulai berubah dari hidup sederhana menjadi rumah yang sangat besar dan mempunyai mobil karena sahabat ayahku sangat menyukai pekerjaan ayahku yang bisa mengembangkan restorannya menjadi besar dan omzetnya semakin naik.
Kejujuran ayahku membuat sahabat ayahku mempercayakan restorannya untuk di kelola oleh ayahku. Ibuku yang dulu sangat sayang dan perhatian padaku juga ayahku mulai berubah.
Waktu itu aku berumur 6 tahun, ibuku sering pergi pagi dan pulang malam kadang pulang pagi, ibuku dulu orang berhemat tapi semenjak kehidupan kami berubah ibuku sangat boros.
__ADS_1
Ibuku suka menghamburkan uang, membeli barang - barang mewah seperti baju, tas, sepatu sedangkan aku tidak diperdulikan. Aku dibelikan baju kalau bajuku tidak muat.
Ayahku dulu sangat sabar melihat kelakuan ibuku tapi semakin lama kesabaran ayahku menjadi habis.
Ayah memarahi ibuku dan ibu tidak terima dan melawan ayahku. Mereja sering bertengkar hampir setiap hari. Aku sebagai anak yang sangat membutuhkan kasih sayang hanya bisa menangis dan sangat marah pada ibuku.
Setiap hari yang aku dengar bertengkar dan bertengkar akibatnya aku jadi malas sekolah.
Tiga bulan kemudian orangtuaku berpisah tapi tidak bercerai karena dilarang oleh agama. Aku ikut ibuku karena aku masih membutuhkan kasih sayang ibuku. Ayah hanya memberikan waktu buat ibu untuk berfikir dan merenungkan kesalahannya.
Aku tinggal sama ibuku, ibuku selalu meminta uang ke ayah dengan alasan buat diriku dan ayah memberikannya. Padahal uang itu ibu gunakan untuk berfoya - foya.
Jika ibuku sedang marah aku disiksa oleh ibuku di pukul dan di tendang bahkan tidak di kasih makan.
Sampai suatu ketika tiba - tiba ayahku datang dan melihatku sedang di siksa oleh ibuku, ayahku sangat marah dan menampar ibuku.
Ibuku menangis dan meminta maaf sambil berlutut, ibu sangat menyesali perbuatannya dan ingin kembali padanya dan ayahku akhirnya setuju.
Orangtuaku akhirnya bersama lagi dan hidup bahagia tapi itu ternyata akalan ibuku untuk menikmati harta ayahku dan memperlakukan aku seperti binatang, aku di pukul, di tendang bahkan di suruh membereskan rumah.
Ibuku sengaja tidak mengerjakan pelayan dengan alasan ibuku yang melakukannya padahal aku yang mengerjakan semuanya sampai akhirnya aku pingsan tidak kuat menahan siksaan ibuku.
Ibuku terkejut dan sangat ketakutan lalu ibuku menggendongku bertepatan dengan ayahku datang. Ayah sangat terkejut dan membawaku ke dokter.
Ketika ibuku menggendongku sebenarnya aku sudah sadar tapi karena aku takut di pukuli aku pura - pura pingsan. Aku mendengar suara ayahku tapi aku masih memejamkan mata karena jika aku membuka mataku pasti aku jadi sasaran ibuku untuk menyiksaku lagi.
Aku mendengar ibuku menangis sambil terisak - isak dan mencium ke dua pipiku aku hanya diam saja sebenarnya aku sangat senang dan berharap ibuku sudah berubah.
Sampai di rumah sakit aku cek oleh dokter. Dokter membuka pakaianku bagian atas kemudian dokter menempelkan stetoskop.
Dokter terkejut melihat tubuhku yang agak kebiruan dan membuka kancing kemejaku hingga dokter bisa melihat tubuhku.
Dokter melototkan matanya kepada ayahku dan juga ibuku. Ayah dan ibu heran menatap dokter.
" Bisa jelaskan kenapa tubuh putra tuan membiru? apakah kalian menyiksa anak ini?" tanya dokter itu.
" Tidak dok jawab mereka serempak.
__ADS_1