
Aku pergi dari rumah dengan berjalan kaki, aku hidup di jalan dan berkenalan dengan seorang preman mereka mengajakku mencopet, mencuri awalnya aku tidak mau tapi karena desakan perut aku mau melakukannya.
Preman itu juga mengajariku melatih bela diri dengan mendaftarkan aku kursus karate dan taekwondo. Uang untuk membayar kursus itu dari hasil mencopet dan bela diri.
Aku hidup di jalan sampai usiaku 14 tahun, banyak yang takut pada kami hingga kami berdua mempunyai anak buah.
Secara tidak sengaja aku bertemu wanita itu lagi dia bersama pria lain bukan ayahku. Aku meminta anak buahku untuk mengintainya.
Esok paginya aku mendapat laporan kalau wanita itu berencana ingin membunuh seorang pria tua lumpuh itu di rumahnya dan aku tahu rumah itu adalah milik ayahku.
Aku dan temanku serta anak buahku pergi ke rumah ayahku dan aku masuk ke dalam kamar ayahku secara perlahan tanpa ketahuan sedangkan temanku dan anak buahku membereskan orang - orang yang sudah menjadi kaki tangan wanita itu.
Aku melihat wanita itu membawa pisau dan ayahku sangat ketakutan. Aku memukul tengkuk wanita itu hingga pingsan. Ayahku terkejut melihatku dan memelukku sambil duduk maklum karena ayahku lumpuh. Ayah meminta maaf padaku. Aku pun memaafkannya dan meminta ayahku untuk istirahat.
Aku keluar dari kamar ayahku untuk meminta bantuan untuk membawa wanita itu yang sudah pingsan. Aku masuk kembali ke dalam kamar ayahku membawa wanita ular itu bersama temanku dan kami keluar dari ruangan kamar ayahku.
Aku memerintahkan ke mereka agar anak buah wanita ular itu di buang ke dalam jurang yang berada tidak jauh dari hutan dan untuk wanita ular itu di ikat di rumah yang dulu pernah aku dan ibuku tinggal bersama pria yang sudah mengajariku nikmatnya bercin*a dan juga orang yang telah di tembak mati oleh ayahku.
Aku menyuruh mereka untuk menggilir wanita itu ketika wanita ular itu sadar dan melakukannya sampai mati kemudian jasadnya di buang ke jurang.
Aku kembali lagi ke atas di mana ayahku sedang berbaring. Ayahku membuka matanya ketika aku mulai masuk ke kamar ayahku.
" Toni, maafkan ayah ternyata wanita itu sangat licik dia ingin mengusai harta ayah, maafkan ayah yang terlalu percaya dengan wanita ular itu." ucap Ayah Toni sendu.
" Memang siapa wanita itu ayah? " tanya Toni
" Dia asisten ayah karena sering bertemu akhirnya kami saling mencintainya tapi ternyata ayah salah dia hanya menginginkan harta ayah." ucap Ayah Toni sambil menunduk malu karena lebih memperyai wanita ular itu daripada anak kandungnya sendiri.
__ADS_1
" Sama seperti ibu yang menginginkan harta ayah." ucap Toni santai.
" Apa maksudmu Toni, kemana sekarang ibumu? sudah lama ayah bertanya kamu selalu diam? dan kenapa kamu seperti ini Toni umurmu masih remaja tidak pantas melakukan hubungan suami istri, siapa yang mengajarimu?" tanya Ayah Toni beruntun dan sedih melihat kelakuan anak semata wayangnya.
"Ibu selalu menyiksaku ayah, ketika ayah pergi ke luar kota ibu membawaku ke hutan dan mencekikku supaya aku mati tapi seseorang telah menolongku dengan memukul tengkuk ibuku. Kami di bawah di sebuah rumah, ke dua tangan dan ke dua kakiku diikat." ucap Toni menceritakan semua yang telah terjadi tanpa ada yang di tutupi tanpa terasa airmatanya ikut keluar.
" Sejak itu aku sulit menghilangkan hasratku ayah, maafkan aku ayah." ucap Toni mengakhiri ceritanya.
" Maafkan ayah yang terlalu sibuk dengan pekerjaan ayah, ayah janji akan mengurusmu.
Sekolah ya Ton dan melakukan kegiatan agar kamu bisa menghilangkan kebiasaan itu, itu tidak baik buatmu." ucap ayah Toni sambil memeluk Toni.
" Tidak baik kenapa ayah?" tanya Toni bingung sambil membalas pelukkan ayahnya.
" Kamu tahu apa akibatnya sering bermain se*s kamu nanti bisa kena penyakit kelamin dan kamu bisa ma*i dan ayah semakin bertambah bersalah padamu." ucap ayah sendu sambil meneteskan air mata karena sedih melihat anak semata wayangnya sangat menderita akibat kurang perhatian dan kasih sayang, seandainya waktu bisa di putar kembali.
" Tidak ayah, Toni berjanji akan berusaha menghilangkan hasrat Toni." ucap Toni sambil menangis.
" Maafkan Toni ayah karena Toni melakukan se*s bebas dan tidak tahu kalau itu bahaya buat Toni." ucap Toni sambil melepaskan tangannya yang tadi memeluk ayahnya.
" Tidak apa - apa Toni, ayah mengerti yang penting kamu sudah sadar, lebih baik terlambat sekarang daripada tidak sama sekali karena kamu bisa terkena penyakit yang membahayakanmu." ucap ayah Toni.
" Terima kasih ayah karena ayah tidak memarahiku atau memukulku." ucap Toni sendu
" Maafkan ayah yang dulu menamparmu gara - gara wanita ular itu." ucap ayah Toni.
"Sudahlah Ayah lupakan wanita itu." pinta Toni
__ADS_1
" Oh ya Ton ada kabar baik buatmu?" ucap ayah Toni.
" Apa itu ayah?" tanya Toni
" Restoran milik teman ayah diberikan kepada ayah karena teman ayah ingin tinggal di luar negri bersama anak dan istrinya. Jadi restoran itu milik kita Ton." ucap Ayah Toni.
" Syukurlah ayah, Toni ikut senang mendengarnya." ucap Toni bahagia.
" Ayah janji akan selalu memperhatikanmu dan menyayangimu." ucap Ayah Toni.
" Toni juga janji jadi anak penurut." ucap Toni.
Aku hidup berdua dengan ayahku sedangkan temanku dan ke dua anak buahku aku beri pekerjaan jika ada orang yang berbuat masalah maka siap - siap saja kena hukuman dariku. Mereka berempat tinggal di rumah milik ayahku sebagai bodyguard.
Selama tinggal dengan ayahku aku selalu menyibukkan diri dengan belajar dan bekerja membantu ayah menjadi koki restoran.
Aku sudah bisa menahan hasratku karena kesibukanku yang luar biasa tidak ada waktu untuk berdiam karena jika aku berdiam hasratku muncul.
Pagi sampai sore aku bekerja sebagai koki pulang kerja berlatih bela diri. Pulang berlatih aku sudah sangat lelah dan langsung tidur dengan mudahnya.
Umur 15 tahun ayahku meninggal dunia, aku yang merasakan kebahagiaan dan kasih sayang bersama ayahku merasa sangat kehilangan dan sedih.
Paman dan bibiku, adik dari ayahku datang bersamaan dengan pengacara ayahku.
Pengacara ayahku mengatakan kalau semua warisan termasuk restoran yang sudah atas nama ayahku kini berubah atas namaku sampai usiaku genap 17 tahun. Untuk sementara paman yang akan menjalankan usaha ayahku.
Mereka tinggal bersamaku, awalnya aku cuek dan tidak bermasalah tapi di bulan ke dua ketika aku sedang merasa haus dikamarku aku melihat di meja nakasku tidak ada air minum akupun keluar dari kamarku untuk mengambil air minum.
__ADS_1
Ketika aku melewati kamar paman dan bibi aku mendengar suara desahan dari balik pintu yang tidak tertutup rapat. Akupun menaruh gelas di meja di luar kamar paman dan bibiku.
Aku mengintip dan melihat paman bermain dengan bibi, hasrat yang dulu hilang kini muncul kembali.