Gadis Culun Dan Ceo Lumpuh

Gadis Culun Dan Ceo Lumpuh
Masa Lalu Toni 5


__ADS_3

" Baik suruh mereka menunggu sebentar lagi ke bawah." ucap Toni


" Baik tuan muda, permisi." ucap kepala pelayan.


Kepala pelayan itupun pergi meninggalkan tuan muda Toni.


" Hah, mudah - mudahhan jangan seperti paman dan bibi yang sudah meninggal." gumam Toni.


Toni pun keluar dari kamarnya untuk menemui paman dan bibinya serta sepupunya.


Toni menuruni tangga menuju ruang keluarga tampak paman, bibi dan sepupunya yang cantik dan seksi membuat Toni tidak berhenti menatap wajah sepupunya yang sudah lama sekali terakhir melihat ketika Toni masih kecil diajak oleh orangtuanya yang sekarang sudah meninggal.


Toni duduk saling berhadapan. Toni memandangi sepupunya begitu pula sepupunya sangat terpesona dengan Toni pria yang tampan dan seorang ahli waris memiliki kekayaan yang berlimpah ruah siapa yang tidak tertarik dengannya.


" Ehemmm." ucap paman Toni sambil menatap wajah anaknya dan ponakannya.


" Maaf paman, ada yang bisa aku bantu?" tanya Toni sopan


" Paman dan bibi serta putri paman berniat minta ijin tinggal di sini. Bolehkah ponakanku sayang?" tanya paman Toni


" Boleh paman." ucap Toni sopan


" Kamu masih ingat putri paman?" tanya paman Toni


" Masih ingat paman, namanya Tina bukan?" ucap Toni.


" Ya betul kamu masih ingat rupanya." ucap paman Toni sambil tersenyum.


" Tentu saja paman saya pasti ingat." ucap Toni sopan sambil memandangi Tina. Tina yang dipandangi hanya tersenyum malu.


" Bolehkah kami istirahat paman dan bibi sangat lelah." pinta paman


" Boleh paman." ucap Toni.


Toni pun menunjukkan kamar paman dan bibinya, awalnya bibinya meminta kamar orang tuanya Toni tapi Toni tidak mengijinkannya karena kamar orang tuanya tidak boleh di tempati oleh siapapun kecuali dirinya.


Bibinya akhirnya menerimanya. Paman dan bibi tinggal di lantai dua sebelah kamar orangtuanya Toni sedangkan Tina sepupunya di sebelah kamar Toni di lantai 3.


Tina sengaja bersebelahan dengan Toni agar bisa bebas melihat Toni.


xxxx


Pagi hari seperti biasa Toni sudah bangun pagi. Toni membuka pintu balkon menikmati cahaya pagi.


Toni merasa ada yang memperhatikannya dan Toni menengok ke arah samping balkon tampak Tina sedang memperhatikan dirinya sambil berjemur dengan menggunakan bikini membuat adik kecilnya menegang seketika.

__ADS_1


Toni mengarah pandangan ke arah lain sambil menenangkan hatinya untuk tidak berpikiran mesum.


( " Sial, kalau setiap hari lihat pemandangan seperti itu membuat adik kecilku tegang. Sudah lama sekali adikku tidak di asah ingin rasanya tapi aku harus bisa menahan hasratku" batin Toni ).


Toni masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi air dingin agar menenangkan adik kecilnya.


Satu jam kemudian Toni keluar dari kamar mandi dan memakai pakaian kemeja dan celana panjang untuk pergi ke restoran.


Toni membuka pintu kamarnya dan turun menuju ke meja makan. Tampak paman dan bibi serta Tina sudah duduk di kursi makan.


Toni duduk di samping Tina, Tina yang sengaja memakai rok pendek menyilangkan kakinya hingga tampak kelihatan segi tiga miliknya.


Toni sekali - kali melirik ke bawah meja sedangkan Tina pura - pura tidak perduli. Toni sekuat tenaga menahan gejolaknya membuat Toni cepat - cepat makan dan keluar dari meja makan.


" Toni, kok makannya buru - buru? tanya pamannya.


" Maaf paman, Toni mau ke restoran mau lihat hasil penjualan di restoran." jawab Toni.


" Oh." ucap paman.


" Kak Toni, aku boleh ikut?" tanya Tina.


" Boleh." jawab Toni


" Terima kasih kak Toni." jawab Tina sambil mengecup pipi Toni


...( " Sial kalau begini terus gimana menahan hasratku." batin Toni )....


Mereka berdua berjalan menuju garasi mobil. Toni mengemudi mobil dan di sampingnya Tina. Tina sengaja kakinya disilangkan membuat segi tiganya terlihat jelas. Toni berusaha menahan hasrat.


Tina menaruh tasnya di belakang kursi pengemudi sambil tangan satunya sengaja menyentuh keris milik Toni yang sudah mengeras sejak dari tadi.


Tina menatap Toni begitupula Toni menatap Tina.


" Mas Toni, ada apa menatapku?" tanya Tina


" Tidak apa - apa." ucap Toni dengan menahan hasratnya mati - matian.


" Mas Toni, ini apa kok keras ya?" tanya Tina memegang keris Toni.


" Kita pergi ke hotel ya?" pinta Toni dengan mata bergabut gairah tanpa menjawab pertanyaan Tina.


" Buat apa kak?" tanya Tina bingung


" Nanti kamu akan tahu." ucap Toni sambil mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


Sampai di hotel, Toni memarkirkan mobil dan mengajak turun Tina. Mereka masuk ke dalam hotel, Toni memesan kamar hotel kemudian menarik Tina ke dalam Kamar hotel kemudian menguncinya dan kuncinya dimasukkan di laci dekat ranjang.


Tina bingung kenapa diajak ke kamar hotel. Tina sangat terkejut melihat Toni melepaskan seluruh pakaiannya tanpa menyisakan sehelai benangpun.


Tina sangat ketakutan terlebih melihat keris yang panjang dan besar. Tina berjalan cepat menuju laci dimana Toni menyimpan kunci hotelnya.


Tapi tenaganya kalah cepat, Toni yang dari tadi sudah menahan dari tadi hasratnya menarik tangan Tina hingga jatuh di ranjang. Toni langsung menindih Tina dan mulai menciumnya, Tina berusaha berontak tapi tenaganya kalah kuat.


Toni membuka kaos milik Tina kemudian melepaskan penutup gunung kembarnya. Toni seperti bayi yang meny**u membuat Tina menangis rasa takut dan sakit karena Toni melakukannya agak kasar.


" Mas Toni sudah, nanti keblabasan, aku masih virgin." ucap Tina sambil menangis.


Toni tidak memperdulikan tangisan Tina, Toni membuka resleting rok pendek Tina kemudian menurunkan bersamaan segitiga milik Tina.


Tina berusaha berontak sambil memukul dada Toni tapi Toni tidak perduli yang penting hasrat yang berbulan - bulan ditahannya harus dituntaskan.


" Salah siapa kamu memakai pakaian bikini waktu di balkon, salah siapa kamu pas makan memakai rok pendek hingga menampakkan segi tiga mudamu." ucap Toni sambil mencium leher Tina dan menggigitnya.


" Maaf aku hanya ingin supaya mas Toni tertarik padaku tapi tidak melakukan seperti ini." ucap Tina sambil menangis.


" Kamu saja membangunkan macan tidur dari tadi aku sudah menahan diriku tapi kamu malah memegang kerisku." ucap Toni dengan nafas memburu.


" Keris apa? memang mas Toni punya keris." tanya Tina bingung


" Punya, mau merasakan?" tanya Toni sambil ******* gunung kembarnya dan tangan satunya memil*n gunung kembar milik Tina.


" Akhh. ya aku ingin merasakan kerisnya seperti apa." ucap Tina tanpa sadar.


" Seperti ini." ucap Toni tersenyum menyeringai sambil menancapkan kerisnya ke tubuh Tina, hentakan awal pertama sangat sulit membuat Toni bingung sampai hentakan ke tiga barulah kerisnya bisa masuk.


" Akhhh sakit." teiak Tina


" Itu namanya keris, karena itulah jangan memegang kerisku makanya jadi seperti ini." ucap Toni sambil melihat keris miliknya yang berda di bawah. Toni terkejut dan bahagia melihat ada noda darah


" Mas Toni berhenti sakit." pinta Tina


xxxxx


Terima kasih atas komentarnya dan jangan lupa like, vote dan tip nya yaaa biar author tetap semangat menulis, terima kasih banyak😁


Salam Author,


Yayuk Triatmaja


xxxxx

__ADS_1


__ADS_2