
Karina berhasil melepaskan ikatan tali yang mengikat ke dua tangannya.
Tangan Karina langsung menempelkan pisau ke leher Cantika kemudian menekannya.
tes
tes
tes
aakhh
Darah Cantika keluar menetes membuat Cantika berteriak kesakitan. Candra, Dio dan Indri membulatkan matanya sempurna tidak menyangka perbuatan Karina. Sontak mereka bertiga berdiri.
" Jangan bergerak, gerak sedikit Cantika akan mati." teriak Karina
Cantika yang bisa bela diri dengan perlahan mengangkat tangannya kemudian menangkap tangan Karina kemudian mengarahkan pisaunya ke perut Karina.
Karina berusaha menahannya dan membalikkan pisau tersebut ke arah Cantika tapi Cantika menghindar dan membalikkan pisau tersebut ke arah perut Karina.
jleb
akhhh
Pisau itu tertancap di perut Karina, Karina ambruk bersamaan dengan kursi yang masih menempel di kakinya.
Cantika mendekati Karina yang masih kejang - kejang sambil menatap Cantika dengan penuh kebencian.
" Maafkan aku, aku terpaksa melakukannya hiks.. hiks.." tangis Cantika sambil memeluk Karina
Karina perlahan menarik pisau di perut Karina membuat darah di perutnya semakin deras keluar kemudian dengan sisa - sisa tenaga Karina hendak menusukkan pisau ke punggung Cantika.
" Kamu juga harus mati supaya bisa menemaniku." ucap Karina lirih.
dor
akh
Dio terpaksa menembak tangan Karina karena melihat Karina hendak menusuk punggung nona Cantika.
Cantika yang mendengar suara tembakan dan suara pisau jatuh terkejut dan berdiri.
" Karina kenapa kamu tidak berubah, kenapa kamu ingin membunuhku? aku sudah mengikhlaskan kamu dengan Andika, kalau Andika berpaling denganmu itu juga bukan karena salahku kecuali aku merebut darimu. Kamu tahu semua orang membulyku sejak aku masih kecil sampai kuliah tapi aku berusaha tidak dendam. Aku bersyukur kamu menikah dengan Andika karena dengan demikian aku bisa putus dan menemukan cinta sejatiku yang bernama Candra yang menjadi suamiku." ucap Cantika
" Cantika sampai matipun aku tetap membencimu." ucap Karina lirih dan tidak berapa lama tubuh Karina kejang kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.
" Karina!" teriak Cantika hendak mendekati Karina tapi tangannya di tarik oleh suaminya Candra. Karina menangis dan memeluk suaminya.
Dio memeriksa kondisi Karina dan mengusap mata Karina yang melotot tajam menatap Dio. Dio sempat merinding melihat tatapan mata Karina.
" Tuan, nona Karina sudah meninggal apakah di kubur di sini atau di kirim ke ibunya?" tanya Dio
__ADS_1
" Kirimkan mayatnya ke ibunya." ucap Cantika menjawab pertanyaan Dio sedangkan suaminya yang ditanya hanya menganggukkan kepalanya.
Dio menyuruh 3 orang bodyguardnya membawa jenasah Karina ke ibunya Karina.
Candra melepaskan pelukannya dan menatap leher Cantika yang terluka.
" Sayang, lehermu? pengawal?" teriak Candra?"
Seorang pengawal datang membawa kotak P3K dan diberikan pada tuan mudanya. Candra menerima kotak P3K dan kemudian mengobati luka leher istrinya dan memperbannya.
" Sayang masih sakit?" tanya Candra
" Tidak sayang aku tidak apa - apa, kasihan Karina." ucap Cantika sendu
" Sudahlah wanita itu hatinya terlalu jahat dinasehatin juga percuma, hatinya dipenuhi rasa iri dan dia juga sudah terlalu banyak melukai orang tidak pantas untuk ditangisi." ucap Candra tegas.
Cantika hanya diam dan tidak membantah perkataan suaminya karena bagaimanapun Karina memang sudah terlalu banyak melukai orang lain.
Mereka berempat keluar dari mansion sambil berpelukan dari arah samping. Suasana yang malam dan baru saja ada yang mati membuat kesan suasana mansion bertambah seram dan angker.
Tubuh Cantika dan Indri agak gemetar menahan rasa takut yang teramat sangat, sedangkan Candra dan Dio bersikap biasa saja karena mereka sudah terbiasa dengan suasana seperti itu.
wushhh
Suara angin kencang membuat bulu kuduk Cantika dan Indri berdiri. Indri dan Cantika meminta suaminya masing - masing untuk menuruni anak tangga agak cepat agar mereka cepat sampai ke mobil.
Sampai di mobil mereka langsung menaiki mobil. Mobilpun dijalankan oleh Dio meninggalkan mansion. Cantika dan Indri tanpa sengaja menengok ke arah belakang tampak Karina dengan perut mengeluarkan darah dan menatap tajam ke arah mereka tersirat rasa dendam.
" Sayang." panggil Candra karena istrinya masih menengok ke arah belakang.
Cantika hanya diam membuat Candra terkejut melihat Cantika dan Indri menatap ke arah belakang. Candra yang penasaran ikut menengok ke arah belakang tapi tidak ada apa - apa.
Candra menepuk punggung Cantika, sontak Cantika berteriak karena terkejut.
cittt
Dio yang mendengar teriakan Cantika menghentikan mobilnya tiba - tiba untunglah jalanan sepi dan Dio menjalankan mobil dengan santai hingga tidak terjadi kecelakaan.
" Maaf tuan muda saya kaget mendengarkan terikan nona muda." ucap Dio.
" Tidak apa - apa jalankan saja mobilnya." ucap Candra.
Dio melajukan mobilnya kembali setelah mendapat perintah dari tuan mudanya.
" Kamu kenapa berteriak?" tanya Candra penasaran
" Aku lihat Karina menatapku dengan penuh dendam." ucap Karina takut sambil memeluk suaminya dari arah samping.
" Mungkin cuman khayalanmu saja, sudahlah tidur." pinta Candra.
" Saya juga melihatnya tuan." ucap Indri
__ADS_1
" Dia sudah mati tidak mungkin hidup lagi. Mungkin kalian berdua sering nonton film horor jadinya takut." ucap Candra.
Cantika dan Indri hanya diam mungkin hanya perasaan dan sering nonton film horor membuat mereka berdua menjadi takut.
15 menit kemudian merekapun sampai karena sudah malam Indri dan Dio di suruh menginap di mansion.
Mereka berempat mandi karena tubuhnya sangat lengket dan lelah. Selesai mandi mereka memakai pakaian tidur kemudian berbaring di ranjang untuk tidur dan tidak butuh lama merekapun tidur dengan nyenyaknya.
xxxx
Di kediaman rumah Jessica, ibunya yang menumpang di rumah saudaranya merasa terpukul putri semata wayangnya mati dengan sangat mengenaskan.
" Cantika dan Candra akan aku balas perbuatan kalian, tunggu waktu yang tepat akan kubunuh anak - anak kalian agar kalian bisa merasakan apa yang kurasakan kehilangan seorang anak." ucap ibunya Karina.
Saudaranya hanya diam dan tidak berani komentar karena mengerti gimana kehilangan putri semata wayangnya. Padahal belum ada sebulan suaminya juga sudah meninggal. Orang tua Jessica mengerti akan kegundahan ibunya Karina.
xxxx
Jessica sudah tersadar dan kini suaminya Toni sedang menyuapi istrinya Jessica. Selesai Jessica makan kini giliran Toni makan sedangkan Jessica menatap suaminya yang semakin tampan.
Selesai makan mereka saling mengobrol dan tertawa bahagia. Karena sudah malam Jessica berbaring di ranjang dengan tidur agak menyamping karena Toni ingin tidur sambil memeluk istrinya Jessica.
xxxx
Bianca menatap Dion yang sedang berbaring, tidak berapa lama Dion membuka matanya.
" Haus." ucap Dion
Bianca menekan tombol agar posisi yang di kepala Dion agak terangkat sedikit, kemudian mengambil minum untuk Dion.
Selesai meminum Bianca menaruh gelasnya di nakas.
" Mau makan mas?" tawar Bianca
Dion hanya menganggukkan kepalanya.
" Aku suapin ya?" tawar Bianca sambil membawa piring yang sudah terisi nasi dan lauknya.
" Tidak usah." jawab Dion
Bianca hanya diam dan menaruh kembali makanannya di meja dan kemudian meja itu di geser agar dekat dengan Dion.
Tangan kanan Dion yang terluka terpaksa Dion menggunakan tangan kirinya. Dion sangat sulit mengambil makanannya.
Bianca tanpa di minta berinisiatif mengambil piring Dion. Bianca langsung menyondorkan sendoknya ke mulut Dion.
Dion pun membuka mulutnya dan terkadang menatap wajah Bianca, Dion yang tidak pernah pacaran baru kali ini merasakan jantungnya berdebar kencang. Dion berfikir mungkin Dion terkena penyakit jantung.
Selesai makan Bianca mengambil air minum dan diberikan oleh Dion. Selesai minum Bianca menaruhnya di meja nakas.
Bianca merapikan makanannya yang di makan Dion kemudian Bianca merapikan selimut Dion karena waktu sudah malam.
__ADS_1