Gadis Lugu Milik Bara

Gadis Lugu Milik Bara
Pria nakal


__ADS_3

Hari menjelang sore, seluruh anggota keluarga beserta para pelayan yang turut menjadi saksi pernikahan Tuan Muda Bara dan Nona Muda Rara, telah bubar kembali menjalani aktivitas masing-masing seperti biasa.


Tidak ada yang berubah, semua tetap berjalan seperti tidak ada terjadi sesuatu. Pun dengan perayaan, atau tamu undangan untuk menghadiri pernikahan. Tetapi tidak bagi seorang gadis yang menjadi korban keegoisan orang-orang di rumah itu. Menangis tersedu-sedu meratapi kehidupannya yang penuh lika-liku.


Hanya itu yang bisa dia lakukan. Gadis itu tidak bisa berkutik sama sekali di hadapan manusia-manusia itu.


Rara benar-benar kecewa, terlebih kepada Derri. Ayah yang sangat dia sayangi tega menikahkannya dengan pria kejam seperti Bara. Pria itu tidak memberikannya alasan yang jelas. Entah bagaimana nasibnya berada di bawah kuasa pria ini.


"Kau tidak lelah? Berhenti membuang-buang air matamu itu!" Bara yang datang entah darimana menyentak gadis itu. Tiba-tiba Rara terdiam, menatap pria yang masih mengenakan setelan tuxedonya, berdiri dengan gagahnya di ambang pintu.


Bara berjalan perlahan mendekati gadis yang telah sah menjadi istrinya. Menarik dagu mungil yang sudah basah dengan air mata, hingga menetes di atas pangkuannya.


"Kenapa menangis?"


Sungguh pertanyaan yang sangat konyol. Bisa-bisanya Bara mempertanyakan hal itu. Bukankah dia yang lebih tau perasaannya? Harusnya tidak perlu bertanya lagi.


"Ka...kapan Kakak akan menceraikanku?" gadis itu terbata-bata.


Sungguh pertanyaan yang mengejutkan bagi Bara. Berani-beraninya gadis lemah ini berkata seperti itu bahkan belum satu jam mereka menjadi pasangan suami istri.


Rara sungguh gadis yang luar biasa. Hanya satu kalimat saja, dia telah memancing amarah Bara. Mata pria itu berubah menjadi sangat tajam, bahkan lebih tajam dari biasanya.


"Kau!" sentuhan di dagu Rara kini menjadi cengkraman kuat membuat Rara meringis kesakitan. "Beraninya!"


Bukan tanpa alasan Rara mempertanyakan itu. Rara tau pernikahan ini adalah keterpaksaan baginya maupun bagi Bara. Rara tau ada yang yang ingin Bara ambil darinya, meski tidak tau apapun itu. Dan Rara juga tau, suatu saat nanti Bara pasti akan meninggalkannya begitu mendapatkan apa yang dia cari. Untuk itu, Rara ingin mempersiapkan diri, dan menghitung berapa lama dia akan berada dalam kuasa pria ini.


"Sakit..." rintih gadis itu kala cengkraman Bara semakin kuat.


"Sakit? Kalau sakit kenapa mulutmu ini begitu lancang berkata seperti itu?" desisnya.


Rara hanya diam dan tidak berniat menjawab pertanyaan itu. Entah apa yang Bara rasakan melihat kebungkaman Rara, hingga akhirnya melepas dagu Rara dengan sedikit kasar.


"Jangan sampai aku mendengar pertanyaan itu lagi! Kalau tidak, jangan harap kau bisa lepas dariku!" bentak Bara, kemudian pergi begitu saja meninggalkan beribu luka di hati gadis malang itu.

__ADS_1


Sedangkan di kamar lain yang tidak kalah mewah dan luas, seorang wanita dewasa tengah melampiaskan emosinya dengan menghancurkan barang-barang yang ada di kamar itu. Teriakan dan umpatan kasar tidak kunjung membuat amarah gadis itu reda.


"Kak Dena, apa yang kau lakukan." Safira yang baru masuk ke kamar Kakaknya setelah mendengar keributan, terkejut akan pemandangan ini. Kamar yang tadinya selalu rapi dan teratur kini tidak ada ubahnya dengan kapal pecah.


Safira menahan Dena yang masih histeris. "Kak Dena jangan seperti ini." Meski Safira tau bagaimana tempramen saudarinya ini.


"Minggir Safira! Kau tidak tau apa yang kurasakan! Kak Bara sudah menikahi anak haram itu..."


"Aku mengerti Kak, tapi tolong jangan seperti ini... Mungkin Kak Bara bukan jodoh Kakak." masih berusaha membuat Dena mengerti.


"Tidak! Jangan asal bicara! Kak Bara adalah milikku, tidak ada wanita mana pun yang bisa memilikinya, termasuk anak haram itu!" wajah penuh emosi, ingin sekali rasanya meremukkan gadis yang telah merebut Bara darinya.


"Awas saja kau anak haram! Kau akan sangat menderita kali ini!" desis wanita itu hingga akhirnya tidak sadarkan diri.


***


Malam menjelang, Rara sudah berada di atas ranjang milik Bara. Mencoba untuk memejamkan matanya, meskipun sulit rasanya. Kejadian satu hari ini sudah menghantui pikirannya.


Tetesan demi tetesan air mata membasahi pipinya. Isakan lirih menjadi teman penghantar tidurnya menuju mimpi yang tidak terselami. Gadis malang itu terlelap membawa sejuta luka yang masih menganga dengan begitu lebarnya.


Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka, Bara yang sudah melepas jasnya melemparnya ke sembarang tempat. Gadis di atas ranjang menjadi fokus utamanya.


"Kenapa kau selalu menangis?" lirih pria itu seraya mengusap air mata di pipi gadis itu.


Wajah Rara seakan menghipnotisnya untuk terus berlama-lama memandangi gadis itu. Bara mengambil tempat duduk di tepi ranjang. Menelusuri gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Aku sangat tidak menyukai gadis lemah sepertimu. Kau selalu saja menangis setiap orang lain menindasmu. Apakah kau memang benar-benar tidak punya nyali untuk melawan?"


Bara terus berbicara seolah Rara sedang mendengarkannya. Tangannya meraih tangan mungil itu. Menatap miris bekas sayatan di pergelangan tangan gadis itu. Sayatan dari hasil frustasi Rara, hingga gadis itu memilih untuk mengakhiri hidupnya. Kejadian itu sudah sangat lama, ketika Rara masih berumur lima belas tahun.


Bara masih ingat dengan jelas, gadis yang sudah bersimbah darah, berteriak memanggil sang ibunda.


***

__ADS_1


"Bangun!"


Rara mengernyitkan keningnya ketika merasakan tusukan di dahinya.


"Bangun!" serta suara lantang yang terus mengganggu tidurnya.


Perlahan matanya terbuka, Bara sudah berdiri di sisinya menatapnya dengan tatapan sarkas.


"Bangun rubah kecil! Kau ingin tidur selamanya?"


Dengan menahan rasa kantuknya Rara mendudukkan tubuhnya di atas ranjang. Melebarkan mulutnya, untuk memuaskan rasa kantuk yang masih menyerang.


Rara menatap Bara heran, gadis itu nampaknya belum sadar sepenuhnya.


"Kak Bara? Kenapa Kakak ada di kamarku?" melihat pria yang sudah rapi dengan setelan kerjanya.


Mendengar itu, Bara tersenyum geli, gadis ini benar-benar luar biasa. Dia melupakan pernikahannya hanya dalam satu malam?


"Heh, kamarmu?"


Rara mengangguk, namun dalam sekejap kesadarannya kembali saat melihat sekeliling kamar. Rara gelagapan, mengingat statusnya sekarang ini.


Lagi-lagi Bara tersenyum miring, "Jangan bilang kau melupakan statusmu sekarang."


"Ti..tidak. Aku tidak melupakannya. Hanya saja aku belum terbiasa."


"Belum terbiasa?" ide licik muncul di wajahnya. "Aku akan membuatmu terbiasa dan kau akan selalu mengingat pernikahan ini." ujar pria itu.


"Maksud Kakak? Aku... aku tidak mengerti."


Bola mata gadis itu melebar ketika bibirnya sudah dibungkam oleh bibir pria itu. Bara menahan tengkuknya, menyesap bibir ranum itu sejenak, lalu melepasnya setelah dengan nakal mengigit bibir Rara.


"Dengan begini, kau akan selalu mengingat pernikahan ini." tanpa mendengar reaksi Rara, Bara melenggang pergi begitu saja dari hadapannya. Meninggalkan keterkejutan pada istri kecilnya.

__ADS_1


__ADS_2