
Keesokan harinya, semua kembali seperti semula. Rara mulai bersiap-siap untuk berangkat sekolah, setelah selesai mengurus perlengkapan suaminya.
Ternyata memang benar sikap Bara di pesta hanyalah sebuah pencitraan. Pria itu tidak benar-benar tulus padanya. Lihat saja, pagi ini Bara tetap bersikap dingin dan ketus padanya.
Semua orang tentu menyadari itu, termasuk Derri, Davina dan kedua putrinya. Dena yang melihat sikap Bara yang tetap ketus pada Rara tersenyum senang. Ternyata dia masih belum kalah dan kesempatannya untuk menyingkirkan Rara dari keluarga ini masih terbuka lebar.
Setelah selesai sarapan, Rara segera keluar dari rumah. Saat hendak menaiki mobil, tanpa disangka, Dena datang entah dari mana menariknya dengan kasar.
"Au..." pekik Rara ketika Dena menampar pipinya.
"Dasar anak tidak tau malu!" bentak Dena. Tidak lupa tangannya menarik kuat rambut Rara.
"Berani sekali kau muncul di pesta ulang tahunku! Bukankah sebelumnya aku sudah mengingatkanmu?" desis gadis itu tanpa peduli pada Rara yang tidak berdaya.
"Sakit Kak.... Lepaskan.... Kak Bara yang memaksaku Kak...."
"Tutup mulutmu! Aku tau kau yang menghasut Kak Bara!" Dena memuaskan emosinya pagi itu.
Kebencian Dena terhadap gadis itu sudah tidak terbendung lagi. Dengan tegasnya Dena menyiramkan air dalam botol minum milik Rara ke tubuh gadis itu.
Rara menjerit kesakitan, ketika air yang cukup panas itu menguap di dadanya.
"Sakit Kak.... Panas...."
Dena terhenyak. Gadis itu tidak tau bahwa air dalam botol itu panas. Tidak ingin terjerat masalah, Dena membuang botol minum itu, kemudian menarik Rara untuk masuk ke dalam mobil.
Dena benar-benar jahat, dia tidak peduli melihat Rara yang sudah kesakitan setengah mati.
"Jangan sampai kau membuka mulutmu tentang kejadian ini! Mengerti?!"
Rara tidak menjawab, rasa sakit di dadanya tidak terperi lagi.
Dena menutup pintu mobil dengan kasar, lalu beralih pada sopir Rara, dan memberikan ancaman padanya. Setelah itu, mobil membawa Rara pergi dari rumah itu.
Di dalam mobil, Rara menangis sejadi-jadinya. Rasa sakit hatinya dan panas di dadanya sudah cukup meruntuhkan kekuatannya. Rara sudah tidak tahan lagi. Beban ini sudah sangat menyakitkan.
"Pak tolong bawa aku ke danau." lirih gadis itu pada sang sopir.
Tidak butuh waktu lama, mereka sampai di danau buatan yang tidak jauh dari rumah.
"Pak, kembali saja. Temanku akan datang menjemputku." ucap Rara.
__ADS_1
Pria itu mengangguk dan meninggalkan Rara sesuai keinginannya.
Setelah kepergian sopir, Rara mendekati danau dan duduk di sebuah kursi panjang yang ada di tepi danau.
"Ibu... aku datang." lirih gadis itu. Di tempat ini pikirannya lebih tenang, sebab tempat ini adalah tempat favoritnya bersama sang ibunda.
Dulu ketika ibunya masih hidup, mereka akan menghabiskan waktu bersama di danau ini. Berlarian di pinggir danau dan terkadang ikut memancing bersama beberapa pengunjung.
Tetapi pagi ini masih terlihat sepi, karena biasanya danau ini akan ramai saat akhir pekan.
Rara memandangi danau itu. Hah, sepertinya dia sudah gila. Maniknya menangkap seorang wanita yang sangat dia kenali di tengah danau.
"Ibu..." Rara melebarkan matanya.
Wanita di tengah air itu malah tersenyum dan mengulurkan tangannya padanya.
"Ibu..."
Rara berdiri, berjalan perlahan menuju wanita itu. Rara tidak sadar, bahkan ketika kakinya sudah memijak air danau dan semakin menenggelamkan tubuhnya.
Rara mengerjapkan matanya ketika merasakan sesuatu tengah menggenggam tangannya. Kepalanya terasa pusing, tetapi Rara mencoba membuka matanya untuk melihat siapa yang tengah memegang erat tangannya.
Maniknya melihat seorang anak muda yang sangat dia kenali.
"Rara, kau sudah sadar?" tanya Mic begitu melihat mata itu terbuka. Wajah Mic terlihat cemas melihat keadaan Rara saat ini.
"Aku dimana?" memperhatikan langit-langit dan dinding ruangan yang berwarna putih. Aroma obat-obatan tercium pekat memenuhi indra penciumannya.
"Kau ada di rumah sakit." kata Mic.
"Au..." Rara meringis, karena dadanya sangat sakit ketika hendak duduk.
"Jagan banyak bergerak, dadamu terluka." dengan sigap Mic menahan tubuh Rara agar tetap berbaring.
Mendengar ucapan Mic, Rara baru sadar bahwa tubuhnya hanya berbalut kaus tanpa lengan, sedangkan dadanya terbuka lebar. Dengan terburu-buru, Rara hendak menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang terbuka.
"Jangan." lagi-lagi Mic menahannya. Mic menggeleng, "Jangan menutupinya, nanti lukamu akan mengelupas."
Mic memberikan sebuah cermin kecil pada Rara, agar Rara dapat melihat dadanya.
Rara membekap mulutnya ketika melihat bayangan dadanya di cermin. Kulit dadanya bagian atas sudah melepuh dan memerah. Pantas saja dadanya terasa panas sekali.
__ADS_1
"Rara..." Mic menarik tangan Rara lalu menggenggamnya erat. "Kalau kau punya masalah, tolong jangan lakukan hal seperti tadi." lirih anak muda yang terkenal akan kesombongannya di seluruh penjuru kota ini.
"Melakukan apa?" Rara bingung akan ucapan Mic.
"Kau tidak ingat?"
Rara menggeleng. Hal itu semakin membuat Mic sedih. Sekarang dia benar-benar yakin, gadis di hadapannya ini tengah memiliki masalah dengan kesehatan jiwanya.
"Rara..." akhirnya Mic menceritakan bagaimana dia menemukan Rara di danau pagi ini. Gadis itu hampir mati tenggelam, dan beruntung Mic yang secara kebetulan atau memang sengaja melihat Rara dan menolongnya.
Lagi-lagi Rara membekap mulutnya. Dia begitu terkejut mendengar penuturan Mic.
"A..aku benar-benar melakukan hal seperti itu?" Rara benar-benar tidak percaya.
Mic mengangguk lemah. "Kau benar-benar tidak mengingat apapun?"
"Tidak. Aku tidak mengingat apapun. Yang kuingat hanyalah aku sedang duduk di sana sambil melihat ibuku."
"Ibumu?" Mic berusaha mencerna ucapan Rara. Bagaimana mungkin ada ibunya di sana, sedangkan Mic sangat ingat dengan jelas, tidak ada seorang pun di sana kecuali dirinya dan Rara. "Bukankah ayah dan ibumu ada di Indonesia?"
"Tidak. Ibuku sudah meninggal enam tahun yang lalu." ucap Rara lagi.
Mic semakin bingung akan ucapan gadis ini. Ternyata begitu banyak hal yang tidak dia ketahui tentang gadis ini. Mic menyesal tidak menyelidiki Rara sejak pertama kali mereka bertemu.
"Tapi, aku tidak melihat siapa-siapa di sana." ucap Mic yang ingin mengetahui lebih dalam lagi.
"Kau tidak melihatnya? Ibuku ada di tengah danau itu. Dia memanggilku...."
"Sst..." Mic menempelkan telunjuknya di bibir Rara. "Jangan diteruskan lagi. Kau harus istirahat." berusaha mendorong agar Rara kembali berbaring.
"Tidak Mic. Aku harus pulang." Rara menolak.
"Rara, kau masih sangat lemah. Lihat lukamu, akan infeksi jika tidak dirawat dengan baik."
"Tidak usah Mic. Aku bisa mengobatinya di rumah." Rara bersikukuh tidak mau dirawat lebih lama lagi.
Mic menghela nafas berat, dia melirik dua orang perawat yang ada di sana sedari tadi, lalu memberikan isyarat pada mereka.
Kedua perawat itu mendekatkan Rara, lalu menahan tubuh Rara, dan kemudian salah satu perawat itu menancapkan jarum suntik di lengan gadis itu.
Tidak butuh waktu lama, kesadaran Rara berangsur-angsur menghilang, hingga akhirnya terkulai lemah di atas ranjang.
__ADS_1
Setelah memastikan Rara sudah tenang di atas brankar, Mic mengusap kepala Rara dengan penuh iba. Dia begitu penasaran dengan hidup gadis ini.
"Bawa aku bertemu dengan dokter psikiater terbaik di rumah sakit ini!" perintahnya pada kedua perawat itu.