
Rara terpaku menatap punggung lebar di hadapannya. Tanpa Rara sadari dia meneguk salivanya dengan susah payah, ketika melihat guratan tato terlukis indah di punggung sebelah kanan pria itu. Rara tidak pernah tau Bara memiliki tato di tubuhnya. Dan itu terlihat sangat... ahh Rara tidak tau lagi mengartikannya.
"Kau tidak mau memijatku?" suara bariton itu menyadarkannya.
"Maksud Kakak... aku..aku...memijatmu?" tanya Rara memastikan apa yang didengarnya tadi bukan halusinasinya.
"Tentu saja. Kenapa? Kau tidak mau?"
"Ti...tidak. Bukan begitu. Maksudku...aku..."
"Oh aku mengerti. Kau tidak mau bukan? Baiklah kalau begitu..."
"Tunggu Kak." menahan Bara yang hendak bangkit. "Aku..aku mau. Aku akan memijatmu. Sebagai tanda terima kasihku, karena Kakak sudah merawatku." ucap gadis itu malu-malu.
"Ternyata kau cukup tau berterima kasih juga. Baiklah, lakukan tugasmu." ujar Bara dengan senyum miringnya.
Rara mengangguk, tetapi saat hendak memulainya, gadis itu kesulitan meraih bahu Bara, sebab tubuhnya yang tidak mencapai seratus enam puluh centi meter, tetap terlihat pendek meski Bara sudah duduk. Rara terpaksa menggunakan lututnya sebagai tumpuan agar dapat menjangkau bahu milik Bara.
__ADS_1
Dengan ragu Rara menyentuh bahu keras dan berotot itu. Tangannya malah gemetaran seolah kehilangan kekuatannya. Baru kali ini Rara menyentuh tubuh lawan jenisnya, membuatnya terkejut dan tidak bisa menguasai diri.
Rara berusaha mengalihkan kegugupannya dan mulai memberikan pijatan yang pernah dia pelajari. Mungkin Rara sudah mengerahkan segala kekuatannya untuk memijat tubuh keras itu, tetapi bagi Bara pijatan Rara tidak lebih dari sebuah elusan.
Harusnya pria itu marah karena bukan pijatan yang Rara berikan, tetapi Bara malah memejamkan matanya dan menikmati elusan itu.
"Hmm..." pria itu bergumam seolah menikmati pijatan Rara. "Pijatanmu lumayan juga, belajar dari mana?" tanya pria itu, padahal sebenarnya tidak merasakan apa-apa.
Rara tersenyum mendengar pujian itu, dan dengan bangganya berkata, "Aku belajar dari Nenek yang ada di Indonesia." ucapnya dengan bangga.
Bara diam sejenak, mendengar negara asal keluarga Pramana membuat Bara teringat akan perbuatan Rara semasa tinggal di rumah itu. Menurut penjelasan dari Ansell, Rara hampir membunuh cucu Kakek Hutama. Tentu masih tanda tanya besar bagi Bara, kenapa Rara yang dia kenal penurut dan penakut sanggup berbuat seperti itu.
Rara termangu mendapat pertanyaan itu. Kilasan peristiwa ketika dirinya tinggal di rumah orang yang telah berbaik hati padanya seketika memenuhi ingatannya. Bahkan ketika dengan teganya tangannya sendiri mendorong Nesya dari atas balkon tak urung memenuhi ingatannya. Ya, Rara juga bingung kenapa dia melakukan itu dahulu?
Rara benar-benar tidak tau.
Merasakan tidak ada pergerakan di belakangnya, Bara berbalik untuk melihatnya.
__ADS_1
"Apa yang kau pikirkan? Kau tidak dengar pertanyaanku?" pria itu menyentak Rara yang mematung.
"Kak..." air mata tiba-tiba jatuh di wajahnya membuat Bara terkejut akan reaksi tiba-tiba gadis itu.
"Aku... aku telah membunuhnya Kak..." lirihnya. Dari kening hingga lehernya dipenuhi oleh keringat yang tiba-tiba membasahi. "Nesya mati karena aku. Aku... aku mendorongnya malam itu Kak...." Wajahnya dipenuhi rasa takut berlebihan disertai kilasan tubuh Nesya melayang dan terhempas di atas tanah.
"Hei! Apa yang kau katakan?!" Bara bingung melihat reaksi Rara.
"Aku telah membunuh Nesya Kak... dengan tanganku sendiri..." menatap kedua tangannya dengan berlinang air mata. "Aku... telah membunuhnya...."
"Rara. Hentikan! Siapa yang membunuh siapa? Tidak ada yang mati. Nesya masih hidup sampai sekarang. Dia tidak mati!" bentak Bara yang akhirnya mengerti ketakutan Rara.
"Tapi kepalanya berdarah Kak.... aku... aku mendorongnya... aku..." Rara menjadi tidak terkendali. Apalagi ketika mengingat tubuh mungil yang berlumuran darah.
Bara langsung menarik Rara ke dalam pelukannya, menenggelamkan wajahnya di dadanya agar Rara tidak bicara lagi. Entah apa yang ada di dalam pikiran gadis ini hingga bisa begitu kacau.
"Aku jahat Kak.... Aku telah membunuh..." meski Bara menenggelamkan wajahnya, tetap saja Rara histeris.
__ADS_1
"Sst... jangan bicara yang tidak-tidak. Nesya masih hidup." mengusap punggung Rara dan tidak lupa menghujani pucuk kepalanya dengan kecupan.
TBC ☘️☘️☘️☘️