
Sore itu, sepulang sekolah, Rara segera bersiap-siap. Tadi pagi sebelum berangkat sekolah, Bara menyuruhnya untuk bersiap-siap, tetapi tidak tau entah kemana Bara akan membawanya.
Setelah mendapat panggilan dari pelayan, Rara segera turun dari kamarnya. Di ruang keluarga ada Vina dan kedua saudari tirinya. Tatapan Vina dan Safira akhir-akhir ini tidak setajam dulu ketika mereka melihatnya, dan Rara tidak merasakan aura kebencian dari tatapan itu.
Rara hampir berpikir bahwa kedua wanita itu tidak lagi membencinya, tetapi segera menepis pemikiran itu. Dia tidak ingin berharap lebih. Sedangkan Dena, wajah wanita itu selalu emosi setiap bertemu dengannya. Dena hampir saja menghampiri Rara, tetapi ditahan oleh Safira dan membisikkan sesuatu padanya.
Rara tidak ingin berurusan dengan mereka, atau urusannya akan semakin panjang. Rara segera berlari kecil keluar dari rumah itu. Di depan rumah, sudah ada mobil Bara yang menjemputnya, Rara dipersilahkan masuk ke dalam mobil.
Perjalanan memakan waktu hampir dua puluh menit. Mereka sampai di sebuah gedung rumah sakit Internasional, yang dia ketahui adalah milik keluarga Pramana. Rara bingung kenapa Bara membawanya ke tempat ini.
Begitu mereka sampai, seorang pengawal Bara menyambut dan mengarahkannya ke tempat dimana Bara berada. Hingga mereka sampai di sebuah ruangan.
Di sana sudah ada Bara yang sedang duduk di depan seorang dokter wanita yang baru saja menjelaskan sesuatu pada Bara.
Bara melihat Rara, lalu menyambutnya dengan uluran tangannya. Pria itu mendekap bahunya membawanya duduk di depan dokter yang sepertinya berusia tiga puluh tahunan itu.
"Nona Rara?" sapa dokter itu ramah. Rara mengangguk membalas senyumannya, "Perkenalkan saya Dokter Anna, saya yang akan membantu menghilangkan bekas luka Anda." jelas wanita itu dengan sopan.
Mendengar hal itu, tentu membuat Rara cukup kaget, dan langsung melihat Bara.
"Kak?" meminta penjelasan. Tetapi Bara hanya tersenyum simpul dan menganggukkan kepalanya.
"Ehm.. Tuan Bara sudah menjelaskan mengenai luka Anda Nona. Dan sekarang saya tinggal memeriksa saja." potong dokter Anna. "Silahkan Nona, berbaring di sana. Saya akan memeriksa Nona."
Dengan ragu Rara mengangguk, dan tertegun ketika lagi-lagi Bara memegang tangannya dan membantunya menuju brankar.
__ADS_1
"Tolong lepaskan bajunya Nona." pinta dokter Anna.
Rara mengangguk, dan tidak terlalu malu lagi dengan kehadiran Bara di sini, karena pria itu sudah lebih dulu melihat tubuhnya.
Untung saja dress yang dia gunakan memiliki model kemeja sebagai atasannya, membuatnya lebih mudah melepasnya. Begitu bajunya dibuka, dokter Anna memindai luka itu, dan sesekali menyentuhnya.
Dokter Anna mulai melakukan tugasnya, beberapa alat pemindai ditempelkan di bagian luka itu, hingga hasil rekaman anatomi kulit Rara terpampang di sebuah layar.
Setelah melalui proses yang cukup singkat, dokter Anna mulai menjelaskan.
"Nona Rara tidak perlu khawatir. Bekas ini tidak terlalu parah, karena tidak merusak sel jaringan kulit terdalamnya. Untuk proses memperbaiki sel kulit yang rusak, kita memiliki dua cara penyembuhan, yaitu operasi jika Nona ingin cepat, atau pengobatan rutin tetapi memakan waktu yang cukup lama. Anda bisa memilih proses mana yang anda mau." terang dokter.
"Aku... aku tidak mau operasi... Aku memilih perawatan rutin saja." ucap Rara.
"Baiklah kalau begitu. Saya akan menjadwalkan pertemuan kita untuk hari selanjutnya. Secepatnya saya akan mengabarinya Tuan." terang Dokter Anna.
Tetapi ada satu hal yang cukup mengejutkan Rara, yaitu ketika Bara meraih kemudian menggenggam tangannya. Rara mendongak, melihat pria yang menjulang tinggi di sampingnya, untuk mempertanyakan tindakan pria itu.
Tetapi apa yang didapat? Sebuah senyuman tipis dan genggaman di tangannya semakin mengerat. Rara mempercepat langkahnya, mengimbangi langkah panjang sang suami, tetapi maniknya tetap berpaku pada pria yang menatap lurus ke depan.
Lagi-lagi Rara baru menyadari sesuatu yang berbeda dari Bara. Penampilan yang biasanya memakai setelan kerja, kini terlihat lebih santai dengan celana jeans hitam berpadu dengan kaos tipis berwarna hitam, yang mencetak otot dadanya dengan jelas. Rara tidak menampik, Bara lebih tampan hari ini.
Keduanya berjalan bergandengan tangan di sepanjang koridor rumah sakit. Banyak orang mengira mereka adalah pasangan muda yang baru menikah, karena memang begitu kenyataannya.
Keluar dari gedung rumah sakit, Bara membawa Rara masuk ke dalam mobil sport kesukaannya yang jarang dia gunakan. Dan Rara adalah orang pertama yang pernah dia biarkan masuk ke dalam mobil kesukaannya ini.
__ADS_1
"Terima kasih Kak." ucap Rara saat mobil sudah melaju di bawah kendali Bara.
"Untuk?" tanya Bara tanpa menoleh.
"Emm itu, karena kakak sudah mau mencarikan dokter untukku."
Rara pikir Bara akan menjawab hanya dengan gumaman saja. Tapi kali ini berbeda.
"Bukankah sudah menjadi tugasku menjadi seorang suami merawat istrinya? Tidak mungkin aku membiarkanmu memiliki bekas luka jelek seperti itu." jawab Bara.
Rara termangu, sejak mengenal Bara baru kali ini dia mendengar Bara bicara panjang lebar.
"Hei, kenapa diam?" Bara menjentikkan tangannya hingga membuyarkan lamunannya.
"Tidak, tidak apa-apa." tersenyum canggung.
"Kak kita akan kemana?" tanya Rara yang melihat arah jalan bukan ke rumah mereka.
"Kau akan tau sendiri nanti." jawab Bara sambil tersenyum tipis.
Rara bingung dengan sifat Bara hari ini. Hari ini Bara lebih murah senyum, dibandingkan sebelumnya yang selalu menekuk wajahnya datar. Entah apa yang terjadi pada pria itu.
Dua puluh menit kemudian, mobil Bara parkir di lobi VIP sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Bara turun lebih dulu, lalu membukakan mobil untuk Rara.
"Kakak ingin belanja?" tanya Rara begitu keluar dari mobil.
__ADS_1
Namun Bara menggelengkan kepalanya, senyuman manis terbit di wajah sangarnya.
"Ingin berkencan denganku?" mengulurkan tangannya di hadapan Rara.