
Matahari pagi perlahan memancarkan sinarnya, mengganggu setiap insan di bumi yang tengah terlelap setelah semalam penuh. Tetapi tidak bagi gadis yang tengah terlelap dalam dekapan seorang lelaki tampan bak dewa yunani.
Gadis itu sama sekali tidak terganggu dengan terangnya matahari. Dia begitu lelap, nyaman menikmati dekapan hangat itu. Begitu lelap sampai tidak menyadari sang pendekap tengah memandangnya sejak setengah jam yang lalu.
Ialah Bara, lelaki misterius yang selalu memutar balikkan hidup gadis malang dalam dekapannya. Begitu banyak rahasia dalam pria itu yang tidak diketahui oleh banyak orang.
Senyumnya merekah memandangi gadis cantik itu. Teringat akan makan malam romantis mereka kemarin malam, untuk yang pertama kalinya dalam pernikahan mereka. Senyum gadis itu begitu cantik, ketika keduanya saling mengucap janji untuk tidak pernah meninggalkan satu sama lain. Saling melengkapi dan tidak ada lagi kecanggungan dalam rumah tangga ini.
Memang belum ada kata cinta terucap. Namun tanpa mereka sadari cinta itu sudah terpatri dalam binar manik kedua insan itu.
Dan salah satu inti dari dinner romantis itu adalah, Bara tidak akan menyentuhnya melebihi batas wajar sebelum Rara lulus dan siap untuk menerima semuanya. Bara setuju, karena bukan tubuh gadis itu yang dia inginkan.
Pandangannya turun ke dada yang terpampang jelas di hadapannya, karena Rara masih mengenakan gaun yang dihadiahkannya. Maniknya berubah menjadi sendu melihat kulit yang masih mengeriput dengan warna kehitaman yang kentara. Baginya memang tidak masalah memiliki istri dengan bekas luka jelek seperti itu, karena baginya Rara selalu cantik dalam kondisi apapun. Tetapi yang dia khawatirkan adalah Rara. Bagaimana pun, seseorang pasti merasa buruk dengan bekas luka seperti ini.
Bara menunduk, kemudian memberikan kecupan hangat di bekas luka itu.
"Bangun gadis kecil." Bara mengganggu tidur Rara. Tetapi sepertinya Rara tidak terganggu. Bara tau Rara masih mengantuk, karena mereka tidur cukup larut.
Bara mengecup bibirnya, memberikan gigitan kecil di sana. Dan benar saja, Rara akhirnya terbangun dari tidurnya.
"Eunghh... Kak..." gadis itu melenguh, matanya memicing, dan masih enggan terbuka sepenuhnya.
"Bangun. Kau tidak sekolah? Ini sudah pukul delapan."
Rara seketika panik dan melihat jam yang benar-benar pukul delapan lewat. Gadis itu buru-buru menyingkap selimutnya dan bangkit dari tempat tidur. Rara berlari seperti dikejar hantu menuju kamar mandi, dan karena tidak melihat jalannya, kakinya tersandung kaki meja yang ada di tengah ruangan.
Gadis terjatuh diiringi dengan pekikan kesakitan. Bara yang awalnya tersenyum di atas ranjang terkejut dan langsung mendekati Rara.
"Kau tidak apa-apa? Seharusnya kau hati-hati." kata Bara melihat induk jari kaki Rara yang mengeluarkan darah. Pria itu mengangkat Rara kembali ke atas ranjang.
Bara mencari kotak P3K, kemudian mulai mengobati kaki Rara.
"Kenapa kau selalu ceroboh." decak Bara sambil membersihkan darah yang menggumpal.
"Maaf Kak. Aku terburu-buru. Aku sudah terlambat ke sekolah." ujarnya, sesekali meringis merasa ngilu di kakinya.
Bara diam, dia merasa bersalah telah mengerjai gadis itu. Sebenarnya hari ini adalah hari Minggu, dan tidak ada kegiatan apapun hari ini. Dia tidak menyangka akan seperti ini jadinya.
"Hari ini hari Minggu. Apakah kau lupa?" ujar pria itu pelan.
__ADS_1
Rara melebarkan matanya saat sadar telah ditipu olehnya. "Tapi Kakak bilang..." bibirnya mengerucut kesal.
"Maaf..."
"Kakak jahat!" memberikan pukulan kecil di bahu pria itu dengan kesal.
"Maaf..." Bara pasrah menerima pukulan yang tidak terasa apa-apa baginya.
"Kakak sangat menyebalkan." melipat kedua tangannya sambil mendengus kesal.
"Iya aku memang menyebalkan." mencium pipi Rara sekilas setelah selesai membungkus induk jari gadis itu, "Tunggu sebentar, aku akan mandi." pamitnya.
Rara memutar bola matanya, masih mendengus kesal karena Bara mengacak-acak rambutnya.
Setelah Bara masuk ke dalam kamar mandi, Rara tersenyum melihat hasil kerja suaminya. Pria itu begitu perhatian padanya bahkan pada hal sekecil ini.
"Haruskah aku membuka hatiku untukmu Kak?" lirihnya.
Rara menguap karena ternyata dia masih mengantuk. "Harusnya aku tidur tidak terlalu larut kemarin." sambil merangkak merebahkan tubuhnya.
Tetapi belum sempat karena dering ponsel Bara di nakas menghentikannya. Rara melihat layar ponsel yang menampilkan panggilan dari seseorang.
Nama pemanggil itu sungguh membuat Rara ingin lenyap dari bumi.
Jantungnya berdetak kencang bercampur rasa sakit yang tak terperi dalam hatinya. Maniknya berkaca-kaca, sedangkan pikirannya dipenuhi hal-hal negatif.
Rara ingin mengangkat panggilan itu, tetapi dia takut. Hingga panggilan yang kedua, Rara belum juga mengangkatnya. Namun pada panggilan ketiga, setelah mengumpulkan keberaniannya, dia akhirnya mengangkat panggilan itu.
"Halo sayang... Bagaimana kabarmu?" terdengar suara wanita yang tidak dikenalnya di sebrang sana.
"Halo... sayang? Kenapa tidak menjawab? Bara...? Kau jadi datang siang ini? Halo..."
Panggilan itu terputus oleh Rara. Dia buru-buru meletakkan kembali ponsel itu. Tanpa sadar air matanya mengalir.
"Kenapa aku sangat bodoh?" gadis itu merutuki dirinya. "Kenapa aku percaya dengannya? Dia benar-benar tidak tulus padaku. Semuanya hanya bualan." mengusap kasar air matanya.
Belum genap lima menit dirinya mempercayakan hatinya untuk Bara. Dan sekarang telah terbukti bahwa Bara benar-benar hanya mempermainkannya.
***
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Bara keluar dari kamar mandi hanya dengan sehelai handuk melilit pinggangnya. Dia melihat Rara berjalan ke arahnya dengan tatapan tidak biasa.
"Kau akan mandi?" sapa pria itu yang hanya diangguki oleh Rara sebagai jawaban, kemudian melewatinya begitu saja.
Bara bingung melihatnya. Ada apa dengan gadis itu, pikirnya. Tetapi Bara tidak ambil pusing, lalu masuk ke dalam ruang ganti.
Bara menelusuri ruang ganti, mencari baju yang telah disiapkan oleh sang istri. Tetapi tidak ada apa-apa di sana selain lemari-lemari yang tertutup rapat. Aneh, biasanya Rara sudah menyiapkan semua perlengkapannya.
Jika dulu Bara akan marah ketika Rara melupakan tugasnya, tetapi kali ini tidak. Mungkin gadis itu lupa, pikirnya. Bara akhirnya mengambil bajunya sendiri.
Sedangkan di kamar mandi, Rara masih menahan tangisnya agar tidak pecah.
"Kenapa air mata ini selalu keluar?"
Dia tidak boleh lemah. Dia harus kuat.
Sekali lagi pandangannya tertuju pada perban yang membungkus induk jarinya. Gadis itu menarik dengan kasar, lalu membuang bekas perban itu ke dalam tempat sampah.
Hari menjelang siang, Rara sedang duduk di meja belajarnya. Sedari tadi, dia berusaha menghindari Bara yang selalu mendekatinya.
"Sedang apa?" tanpa Rara duga, Bara sudah ada di belakangnya memegang kedua bahunya.
Rara terkejut. "A...aku sedang mengerjakan tugas-tugasku." jawabnya seadanya.
"Tugasmu sangat banyak?"
"Iya."
"Aku akan membantumu mengerjakannya nanti. Aku akan keluar sebentar."
"Kakak akan pergi? Bukankah ini hari Minggu?" menghentikan aktivitasnya.
"Iya. Aku ada urusan sebentar. Kau tidak apa-apa di rumah kan?"
"Hmm... pergilah Kak. Hati-hati di jalan."
"Baiklah. Aku pergi dulu." mencium kening Rara singkat, kemudian menjulurkan tangan kanannya pada Rara.
Rara awalnya bingung, namun dengan cepat dia mencium punggung tangan pria itu.
__ADS_1
Bara akhirnya keluar dari kamar, meninggalkan luka yang dia torehkan pada gadis itu.
"Kenapa harus berbohong Kak?"