Gadis Lugu Milik Bara

Gadis Lugu Milik Bara
Menyebalkan


__ADS_3

Sepertinya tahun ini akan sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Menyendiri, jauh dari keramaian pesta perayaan ulang tahun putri sulung keluarga Pramana.


Malam ini, pesta itu akan digelar dengan begitu meriah. Rumah besar dan megah itu, kini telah disulap menjadi istana sesuai dengan tema dekorasi yang Dena inginkan.


Selama persiapan pesta, Rara mengurung diri di dalam kamar. Tidak ingin berlama-lama melihat kegiatan mereka yang selalu membuatnya sedih.


Huh, Rara juga sedang berulang tahun hari ini, tapi kenapa tidak satu orang pun yang mengucapkan selamat padanya. Rara tidak perlu kado ulang tahun, hanya ucapan selamat saja sudah membuatnya senang.


Tersisa satu jam lagi, pesta akan segera dimulai. Dena, Safira dan Vina sudah terlihat cantik dengan gaun mewah dan perhiasan-perhiasan yang melekat di tubuh mereka. Begitu glamor dan elegan.


Juga dengan tamu undangan yang sudah datang satu persatu, pun dengan tampilan mewah. Jangan lupakan, kado yang mereka bawa untuk putri sulung keluarga Pramana, tentu bukan dengan harga yang main-main.


Untuk kesekian kalinya, Rara menghela nafas resah, saat mengintip para tamu yang mulai berdatangan, dari celah jendela kamarnya.


"Mereka sangat cantik." lirihnya dengan mata memandangi Dena yang sedang menyambut teman-temannya yang juga tidak kalah cantik. Membandingkan dengan tampilannya yang tidak ada apa-apanya dengan mereka.


Rara tidak berani keluar dari kamar, sebab sebelumnya Dena sudah menegaskan padanya untuk tidak keluar dari kamar barang sebentar pun. Jangan sampai dirinya terlihat oleh orang-orang.


Setelah puas mengangumi orang-orang itu, Rara menutup jendela kamarnya. Tetapi begitu berbalik, hampir saja memekik sebab Bara tiba-tiba ada di hadapannya.


"Kau sedang apa?" pria itu menyipitkan matanya.


"Aku... aku sedang menutup jendela Kak." ucapnya asal. "Kakak... akan turun?" mematut Bara yang sudah terlihat tampan dengan setelan tuxedo berwarna hitam legam. Rara tidak menyangkal, dia terkesima melihat tampilan pria ini.


Bara tidak menjawab, malah melemparkan paper bag ke atas meja sofa. "Ambil itu. Dan bersiap-siaplah."


"Itu apa Kak? Memangnya aku mau kemana?"


"Sudah jangan banyak tanya! Waktuku tidak banyak." Huh, pria ini sangat pemarah.


Mau tidak mau, Rara mengambil paper bag yang cukup besar itu yang ternyata berisi gaun.


Gaun? Rara akan memakai gaun ini malam ini? Tapi untuk apa? Jangan bilang kalau Bara akan membawanya ke pesta ulang tahun Dena. Jangan sampai itu terjadi, karena jika tidak peristiwa yang sama akan terjadi untuk yang kedua kalinya.


Sekali lagi Rara memandangi gaun berwarna biru gelap itu. Pikirannya melayang jauh memikirkan entah apa yang akan Bara lakukan.


"Cepat! Kenapa lama sekali!" suara berat Bara dari luar kamar mandi mengejutkannya.


Akhirnya Rara membuka seluruh pakaiannya, lalu mengenakan gaun itu. Tanpa mematut diri di cermin, Rara langsung keluar dari kamar mandi.


Bara sudah menyambutnya dengan wajah sangar. "Maaf Kak, aku kesulitan menarik pengaitnya." Rara berdalih agar Bara tidak marah.


"Cepatlah merias diri, setidaknya jangan tunjukkan wajah murungmu itu di depan umum!"


Tanpa bicara lagi, Rara mengangguk lalu menuju meja riasnya. Gadis itu tidak sadar, setengah punggung indahnya terpampang jelas depan Bara.


Bara memandang tubuh Rara dari belakang dengan penuh ironi. Tubuh mungil yang dulunya sangat kurus dan ringkih kini terlihat lebih berisi.


"Kak... Kakak..." Bara tersentak kaget ketika Rara tiba-tiba berdiri di hadapannya. Pria itu tidak sadar sebab terlalu larut dalam pikirannya.

__ADS_1


Rara menahan senyumnya melihat wajah kaget Bara, sebuah ekspresi yang belum pernah dia lihat dari pria itu.


Bara ingin marah sebab istri kecilnya baru saja menertawainya. Namun ditahannya sebab waktu tidak mendukung. Lagi-lagi Bara menatap tajam tampilan Rara saat ini.


Gadis itu terlihat cantik dengan sapuan make-up tipis di wajahnya. Namun Bara tidak suka melihat leher punggung hingga dada gadis itu terbuka lebar, sebab Rara menggulung tinggi-tinggi rambut panjangnya.


"Kau ingin menggoda siapa?!" entah kenapa dia begitu marah.


"Maksud Kakak?"


"Lihat ini!" menusuk pundak bergantian dengan dada atas gadis itu. "Kau ingin menggodanya siapa dengan memamerkan tubuhmu ini?"


"Sakit Kak." memegangi bekas tusukan Bara. "Kakak sendiri yang memberikan gaun ini padaku. Aku tidak tau..."


Ucapan Rara terhenti, kala Bara menjulurkan tangannya di kepalanya, lalu mengacak-acak tatanan rambutnya yang sudah dia gulung dengan rapi.


"Kak... Apa yang Kakak lakukan?"


Bara tidak menjawab, tangannya sibuk menggeraikan rambut Rara hingga benar-benar menutupi punggung hingga dada Rara yang terekspos.


Bara membalikkan tubuh Rara menghadap cermin, kemudian menggenggam rambut Rara dengan erat.


"Jangan sampai aku melihatmu dengan tampilan seperti tadi!"


Rara pun turut memandang bayangan mereka di cermin. Bara berdiri tepat di belakangnya dengan wajah mereka yang berdekatan. Sampai-sampai aroma nafas Bara terasa memenuhi hidungnya.


"I..iya Kak... aku mengerti..." jawab Rara dengan gugup.


"Bagus. Sekarang cepat pakaikan ini!" memberikan dasi kupu-kupu pada Rara.


"Ini?"


"Cepat pakaikan!"


"Baiklah." membalikkan tubuhnya perlahan hingga menghadap Bara.


Tinggi badan mereka yang berbeda jauh, membuat Rara harus mendongak dan menjinjitkan kakinya untuk menggapai leher pria itu. Dengan tangan sedikit gemetar, Rara memasangkan untaian benang itu, sebab Bara menatapnya dengan tatapan penuh arti.


Sudah hampir selesai, gerakannya terhenti ketika merasakan sebuah tangan besar bertengger di pinggangnya. Rara melebarkan matanya pada Bara, tetapi Bara berwajah datar. Rara cepat-cepat menyelesaikan kegiatannya agar segera terlepas dari pria itu.


Setelah selesai Rara menjauhi Bara. Bara tanpa mengatakan apapun melangkah pergi dari tempatnya. Melihat Bara pergi, Rara dengan langkah tergopoh-gopoh mengikutinya, sebab gaunnya yang cukup panjang dan sepatu hills membuatnya kesulitan berjalan.


Akhirnya Rara berhasil mengejar Bara yang berdiri di atas tangga pertama, dan berdiri di sampingnya.


Tanpa melihatnya, Bara menarik tangan Rara dan disampirkan di lengannya.


"Kak...?"


"Diam! Aku harap kau bisa menjaga sikapmu di depan tamu." ujar Bara dengan sarkas.

__ADS_1


"Tapi Kak... Kak Dena tidak mengizinkanku..."


"Diam! Sekarang aku suamimu. Aku yang berhak mengaturmu, bukan Dena!"


Bara melangkahkan kakinya, membuat Rara mau tidak mau mengikutinya.


Bara bisa merasakan tubuh gadis di sampingnya gemetar hebat. Dia tau Rara sedang ketakutan. Tetapi dia tidak peduli dan tetap membawa Rara ke pesta.


Dan benar saja, di pertengahan anak tangga, pandangan semua orang yang berada di lantai bawah yang telah dihias semegah mungkin, tertuju pada dua anak manusia yang terlihat tampan dan cantik.


Seketika itu juga, berbagai pertanyaan muncul dalam benak mereka ketika melihat gadis yang bersanding dengan Bara, putra kebanggaan keluarga Pramana.


Tubuh Rara semakin bergetar melihat orang-orang yang tengah menatapnya itu. Ternyata ketika dulu menjadi korban buli, telah meninggalkan trauma mendalam bagi Rara. Setiap melihat keramaian gadis itu menjadi ketakutan. Rara takut kejadian yang sama terjadi lagi.


Sedangkan Bara yang merasakan getaran tubuh Rara dibuat heran. Setakut inikah gadis ini? Bara tidak tau Rara mengalami trauma akibat penindasan di masa lampau.


Rara masih gemetaran, hingga sebuah tangan menggenggam erat tangan mungilnya dan memberikan usapan lembut yang secara perlahan menenangkan dirinya.


Rara menoleh pada Bara yang kini menatapnya penuh arti.


"Kak.... aku takut..."


"Tenanglah. Selama ada aku disini tidak akan ada yang berani menyakitimu."


Memang terdengar ketus tetapi sanggup menenangkan Rara.


Setelah memastikan Rara sudah mulai tenang Rara melanjutkan langkahnya, dengan tangan tetap mengusap punggung tangan Rara.


Ini dia, apa yang paling Rara takuti. Dena, putri yang tengah berulang tahun malam ini melayangkan tatapan tajam penuh amarah padanya.


Rara mengalihkan pandangannya agar ketakutannya tidak muncul lagi. Hingga tanpa sengaja maniknya bertatapan dengan Derri yang juga terlihat tampan meski di usia yang tidak muda lagi.


Lelaki itu tersenyum, Rara sempat menangkap mulut Derri mengatakan cantik padanya. Tentu saja Derri begitu senang. Sebab sudah bertahun-tahun dia menunggu momen ini. Melihat Rara muncul di antara kolega-koleganya. Meski tidak mengenalkannya sebagai putri, Derri sudah cukup senang, setidaknya Rara tidak selalu bersembunyi.


Tatapan Ayah dan anak itu terputus karena Bara melangkahkan kakinya lagi. Membawa Rara melewati para tamu yang tidak lepas menatap dirinya.


Tatapan kagum dan penuh tanya menggelayut dalam hati mereka. Siapakah gerangan gadis cantik ini?


"Selamat malam Tuan Bara." seorang pria dengan seorang wanita di sampingnya, yang Rara tebak adalah kolega bisnis keluarganya, menyapa Bara.


"Selamat malam Tuan Max." jawab Bara dengan sopan meski wajah dinginnya tidak berubah.


"Anda terlihat memukau malam ini, apalagi saat bersanding dengan gadis cantik ini. Siapakah gerangan gadis cantik ini?"


Benar saja, pasti banyak pertanyaan yang muncul. Dan pertanyaan semacam ini yang selalu Rara takuti. Rara menatap Bara, penasaran akan jawaban pria itu. Apakah Bara akan mengenalkannya sebagai istri? Atau...


Namun tanpa Rara duga, Bara menyunggingkan senyumannya. Terlihat tulus, tidak seperti senyuman penuh kepalsuan seperti yang sudah-sudah.


"Perkenalkan, gadis ini adalah istriku...."

__ADS_1


__ADS_2