
Setelah selesai memandikan Rara, Bara melanjutkan tugasnya menyuapi Rara. Wajahnya selalu datar melakukannya, berbeda dengan Rara yang sedari tadi menyembunyikan wajahnya. Gadis itu masih begitu malu mengingat kejadian di kamar mandi tadi.
Bara memandikan dirinya, menyentuh tubuhnya dengan lancang tanpa ada rasa malu sedikit pun. Memang Bara adalah suaminya, tetapi mereka tidak sedekat itu. Pertama kali mereka bertemu, Bara selalu berbuat jahil terhadapnya, melakukan apapun yang selalu membuat Rara kecil menangis. Hingga beranjak dewasa pun, Bara tidak lagi menjahilinya, melainkan bersikap dingin dan tidak mau bertegur sapa dengannya. Oleh karena itulah, Rara merasa canggung dan sangat malu.
"Kakak tidak pergi bekerja?" akhirnya satu kata terucap dari bibirnya. Rara duduk di tempat tidur dan tetap tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh bagian atasnya. Sedangkan Bara duduk si sebuah kursi menghadap Rara sambil memegang wadah keramik dengan bubur hangat di atasnya.
"Makanlah! Jangan banyak bertanya." ucap Bara dingin membuat Rara bungkam, namun tetap membuka mulutnya ketika Bara menyuapinya.
"Kak.. biarkan aku memakai pakaianku." pinta Rara yang tidak nyaman dengan tubuh tanpa sehelai benang pun menutupi. Tapi apa, yang dia dapat adalah tatapan tajam dari Bara, membuatnya tidak berkutik.
Akhirnya Rara menggunakan kedua tangannya untuk menutupi dada mungilnya. Huh memalukan sekali.
__ADS_1
Terlepas dari itu, Rara merasa sedih akan luka di dadanya. Lihat saja, luka itu menyebar sampai di belahan dadanya. Setelah luka ini mengering dan sembuh, pasti akan meninggalkan bekas yang kentara. Malang sekali dirinya, memiliki bekas luka sejelek ini.
Hingga bubur hangat itu tandas pun, keduanya tetap diam. Bara meletakkan wadah bekas bubur di nakas, kemudian mengambil krim obat untuk luka Rara.
Pria itu mendorong Rara agar berbaring, sedangkan Rara hanya menurut saja, karena melawan pun percuma. Bara mulai mengolesi luka itu penuh hati-hati. Tetapi sepelan apapun Rara melakukannya, tetap saja Rara merasa kesakitan, karena luka ini masih belum mengering dan sensitif terhadap sentuhan.
Rara memejamkan matanya, kala merasakan hembusan nafas Bara di dadanya. Perih, panas dan dingin membuat rasanya tidak karuan.
"Kak..." panggil Rara memastikan. Bara hanya melihatnya datar tanpa bersuara sedikitpun. "Ti...tidak ada." ucapnya canggung.
Tidak mungkin Bara melakukannya, pikirnya. Rara pikir dirinya sedang berhalusinasi.
__ADS_1
Bara hanya acuh, kemudian berbalik menuju kamar mandi. Tubuhnya terasa lengket, karena dari kemarin pria itu belum mandi sama sekali. Senyumnya mengembang ketika mendengar Rara berbicara sendiri di belakangnya.
"Kalau bukan Kak Bara, lalu siapa yang menciumku?" Rara bermonolog sendiri. "Apakah aku mengalami halusinasi? Tapi ciuman itu begitu nyata." Rara menerka-nerka sambil memegangi bibirnya. Begitulah gadis itu menerka-nerka tetapi tidak kunjung tau siapa yang menciumnya secara kilat baru saja.
Sedangkan di luar kamar, Dena sedang menggerutu sambil berjalan-jalan di depan pintu kamar pengantin baru itu.
"Lama sekali mereka di dalam, sudah dua jam mereka belum keluar juga?" geram gadis itu membayangkan apa yang terjadi di dalam.
"Sepertinya Tuan Bara sangat ketagihan dengan Nona Rara." bisik dua orang pelayan yang ada di belakang Dena.
"Tentu saja. Nona Rara masih muda, lelaki mana yang bisa tahan untuk tidak menyentuhnya." jawab pelayan itu jenaka.
__ADS_1
"Kalian!" kedua pelayan itu tersentak karena bentakan Dena yang ternyata mendengar percakapan keduanya.