
Malam semakin larut, Bara dan Rara sudah berbaring di atas ranjang. Kali ini suasana cukup berbeda, sebab mereka menginap di rumah orang tua kandung Bara. Semua itu karena permintaan keluarga itu.
Rara masih terjaga dalam pelukan Bara. Apa yang baru saja dia lalui baru saja, membuatnya tidak nyaman. Dirinya sangat terkejut ketika mengetahui Bara telah menemukan keluarga kandungnya. Tentu Rara senang akan hal itu, karena akhirnya pria yang sudah menempati hatinya akhirnya menemukan keluarganya. Rara bisa merasakan betapa Bara bahagia akan hal itu.
Namun terlepas dari itu, Rara juga merasa gundah akan sikap dingin ibu mertua dan adik iparnya terhadapnya. Tatapan mereka jelas menunjukkan tidak menginginkan dirinya, meski mereka tidak mengatakan apapun.
"Apa yang kau pikirkan?" tiba-tiba suara bariton menyadarkan lamunannya.
"Tidak ada. Kakak belum tidur?" kata Rara yang terkejut.
"Bagaimana aku bisa tidur, jika ada sepasang mata yang terus menatapku?" kata Bara menaikkan sudut bibirnya. Ternyata pria itu menyadari tatapan gadis itu. "Katakan." maniknya penuh intimidasi.
"Aku tidak memikirkan apa-apa Kak." gadis itu berusaha menyembunyikan perasaannya. Agar tidak dicecar lagi, Rara menelusupkan kepalanya ke dalam pelukan Bara.
Bara pun turut membalas pelukan itu, "Jangan pikirkan sikap Mommy dan Cathy. Mereka hanya belum mengenalmu lebih dalam. Percayalah, sebenarnya mereka orang yang ramah. Mereka hanya khawatir kau tidak bisa mengurusku dengan baik." ucap Bara seolah tau apa yang sedang mengganggu pikiran sang istri.
Rara langsung mengurai jarak, tetapi masih dalam pelukan Bara. "A..apakah aku sudah mengurus Kakak dengan baik?"
"Menurutmu?"
"A..aku tidak tau Kak." jelas Rara merasa masih belum mengurus Bara dengan baik. Bahkan dia yang lebih sering menyusahkannya.
Bara berdecak ketika sadar Rara telah berpikir yang tidak-tidak. "Ck. Kau sudah mengurusku dengan baik Rara. Jangan memikirkan hal-hal yang tidak berguna. Jadilah dirimu sendiri dan lakukan semuanya sesuai kemauanmu."
Rara menelisik wajahnya, nampaknya pria itu bicara sungguh-sungguh. Hingga akhirnya Rara mengangguk, "Baik Kak."
***
__ADS_1
Setelah satu malam mengistirahatkan tubuh, seluruh keluarga Charles sudah berkumpul di meja makan, kecuali Bernard yang memilih menghabiskan sarapannya di meja makan.
Seperti malam sebelumnya, pagi ini, Rara merasa gugup akan tatapan dingin Beatrice dan Catherine. Beruntung ada Bara yang selalu menenangkannya.
Setelah selesai menghabiskan sarapan masing-masing, Beatrice menahan pasangan suami istri itu untuk pulang.
"Mommy ingin bicara!" perintah wanita dengan tatapan tajam, nampaknya manik elang milik Bara, merupakan turunan dari sang ibunda.
Bara tetap santai, tetapi tidak dengan Rara yang sangat mudah terintimidasi.
"Silahkan Mommy. Kami memiliki banyak waktu hari ini." jawab Bara.
"Sudah berapa lama kalian menikah?" tanya wanita itu tiba-tiba. Pertanyaan itu memang untuk Bara dan Rara, tetapi manik tajamnya mengarah pada Rara.
"Kurang lebih tiga bulan Mom." jawab Bara jujur.
Rara menggeleng samar, tubuhnya gemetar hebat sebab aura wanita ini sangat menakutkan. Beatrice memejamkan matanya resah, lalu menatap Bara yang tidak menyukai pertanyaannya.
"Sudah mengikuti program kehamilan?" tanya Beatrice, mengabaikan isyarat Bara.
"Belum." gadis menggeleng lagi.
"Lihat jika seseorang sedang bicara!" sentak Beatrice, kali ini dia tidak menjaga perasaan Rara lagi.
Rara langsung mengangkat pandangannya, jantungnya sudah berdetak kencang.
"Mommy... kau menakuti istriku." potong Bara, namun Beatrice tidak peduli.
__ADS_1
"Apa kau sudah memeriksa dirimu? Kau subur atau tidak?"
"Cukup Mommy!" sentak Bara. Pertanyaan itu sudah sangat keterlaluan dan pastinya menyakiti hati setiap wanita.
"Aku dan istriku belum memikirkan anak untuk saat ini. Kami telah membuat kesepakatan sebelumnya. Jadi jangan memberikan pertanyaan semacam itu. Aku tidak suka!" tegas Bara.
"Tapi Nak..."
"Tolong Mom... Hargai keputusan kami." ucap Bara penuh penekanan. Pria itu tidak ingin mendengar apapun lagi darinya, jika tidak emosinya akan meledak saat ini juga. Bara tidak suka seorang pun menyinggung perasaan istri kecilnya, bahkan jika ibu kandungnya sekalipun.
"Mom... aku tidak memaksamu untuk menerima istriku di keluarga ini. Tetapi jangan pernah sekalipun menyinggung dan menyakitinya. Karena istriku lebih berharga dari apapun di dunia ini!" tegas Bara sebelum akhirnya membawa Rara pergi dari tempat itu.
Beatrice terdiam, juga terkejut akan kata-kata tegas Bara. Dia tidak sakit hati akan bentakan sang putra, justru malah rasa bersalah menghinggapi hatinya.
"Mommy..." Catherine yang sedari tadi menyaksikan perdebatan kedua orang yang dia sayangi itu menyentuh pundaknya.
"Apakah Mommy terlalu keras pada Kakak iparmu?" tanya Beatrice dengan suara lemah.
"Tidak Mom. Wajar jika Mommy bersikap seperti itu, karena cemas dengan Kakak. Tapi lain kali, sebaiknya Mommy bersikap lebih lembut lagi pada Kakak ipar." ucap Cathy menenangkan.
"Mommy ingat? Kakak ipar hampir menangis tadi."
"Yah Mommy salah. Wanita itu begitu lembut dan tulus, sebenarnya Mommy tidak tega bersikap kasar padanya." ujar Beatrice dengan rasa bersalahnya.
"Mungkin itu yang membuat Kak Bara jatuh hati padanya."
TBC ☘️☘️☘️
__ADS_1