
Dena menarik nafasnya dalam-dalam. Dia tidak boleh emosi dalam situasi ini. Dia tidak boleh menghancurkan imagenya di depan Bara. Tetapi setelah ini, dia akan melakukan sesuatu yang membuat pasangan ini berpisah.
Senyumnya tertarik di garis wajahnya, dia tetap memancarkan senyumnya meski hatinya bergemuruh hebat.
"Kakak, kau akan berangkat?" tanya Dena.
Bara hanya menganggukkan kepalanya dan menatapnya dengan dingin, seperti biasanya.
Bara duduk dan menarik Rara duduk di sampingnya.
"Ini Kak, aku sudah menyiapkan sarapanmu." tawar Dena sembari mengulurkan sebuah piring dengan menu set breakfast di atasnya.
Bara melirik sekilas, "Untukmu saja, tidak usah repot-repot. Biarkan Rara yang menyiapkannya untukku." tolak Bara terang-terangan, dan sengaja menekankan nama sang istri agar membuat seluruh orang di meja makan itu mengerti.
Dan penolakan itu menjadi sebuah tamparan besar bagi Dena. Dirinya kalah dari si anak haram itu? Yang benar saja, apa yang telah terjadi tanpa sepengetahuannya?
Dena menarik kembali sarapan itu, menatap getir pada Bara.
"Mana sarapanku?" pinta Bara dengan lembut dan manis pada sang istri.
Rara yang awalnya terkejut, melakukan kemauan sang suami. Tangannya yang gemetar akibat tatapan Dena, berusaha mengkondisikan hatinya.
"Ini Kak." memberikan sarapan sang suami.
__ADS_1
"Terima kasih." lagi-lagi semua orang yang mendengar itu ternganga. Bara barusan mengucapkan terima kasih? Rasanya seperti mimpi mendengar hal itu.
Akhirnya mereka memulai sarapan mereka yang dimulai dengan pemandangan tak terduga. Tetapi yang jelas, hati mereka sangat senang dengan hal itu.
Setelah selesai menghabiskan sarapannya, Rara menghampiri Derri, "Aku berangkat Ayah." mencium tangan Derri.
"Hati-hati sayang. Belajar yang rajin."
"Hmm..." memejamkan matanya saat Derri mendaratkan kecupan hangat di keningnya. Dia begitu menikmati kasih sayang Derri yang belum pernah dirasakan. Ya, Derri tidak lagi menahan untuk menyalurkan cinta dan kasihnya pada sang putri bungsu di hadapan anak dan istrinya.
"Ayo." ajak Bara yang langsung menarik tangannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hanya senyum tipis dilayangkan pada Derri dan Davina sebagai sikap sopannya.

"Tunggu!" Bara menghentikannya.
"Ada apa Kak?"
Bara mengulurkan tangan kanannya pada Rara. "Ada apa Kak?" Rara masih bingung.
"Itu... kau melakukannya pada Ayah, kenapa aku tidak? Kudengar di Indonesia orang yang lebih muda akan melakukannya pada orang yang lebih tua. Bukankah aku lebih tua darimu?" jelas Bara, berusaha menyembunyikan rasa malunya.
"Maksud Kakak cium tangan?"
__ADS_1
"Hmm..."
"Kakak mau?" tetapi Bara hanya diam, dan menatap Rara datar.
Rara tersenyum malu, kemudian dengan senang hati menerima uluran tangan Bara, dan melakukan hal yang lazim di negara dengan budaya kesopanan tinggi tersebut.
Setelahnya, Rara melepas tangan Bara. "Hal semacam ini tidak hanya dilakukan anak yang muda, tetapi juga seorang istri pada suaminya." jelas Rara.
"Sudah ya. Aku berangkat dulu."
Rara hendak masuk ke dalam mobil, tetapi lagi-lagi gagal oleh Bara.
Bara langsung mendaratkan kecupan hangat di kening Rara.
"Hal semacam ini biasa dilakukan orang tua pada anaknya," sedetik kemudian menyesap kuat bibir Rara sesaat, "Dan hal semacam ini dilakukan seorang suami pada istrinya."
Dengan Bara berucap, hampir tergelak melihat wajah terkejut Rara.
"Masuklah kau sudah terlambat." mendorong pelan agar Rara masuk ke dalam mobil.
Rara yang masih belum sadar menurut saja, dan baru tersadar setelah mobil sudah melaju.
TBC
__ADS_1