Gadis Lugu Milik Bara

Gadis Lugu Milik Bara
Pelukan Hangat


__ADS_3

Kening Bara berkerut heran akan ucapan gadis di hadapannya ini. Apa maksudnya dengan berhenti? Gadis ini sungguh membuatnya bingung. Selama seminggu ini Rara menghindarinya tanpa alasan yang jelas. Dan di saat dirinya mengambil waktu untuk berbicara dari hati ke hati, gadis ini malah mengatakan sesuatu yang tidak dia mengerti.


"Apa maksudmu Rara? Bicaralah dengan jelas." ujar Bara.


"Aku ingin menghentikan semua ini Kak." lirih Rara dengan berhambur air mata.


"Rara.... aku sama sekali tidak mengerti. Menghentikan apa maksudmu?" genggaman tangannya pada tangan Rara semakin erat.


Menghapus air matanya dengan kasar, "Jangan bersikap manis lagi padaku Kak. Kembalilah bersikap seperti dulu. Berhenti memperlakukanku dengan semua sifat palsumu." menghindari tatapan mata Bara, karena tatapan pria itu sangat melemahkannya.


"Rara.... jadi... kau menganggap semua sikapku selama ini palsu?" kini manik Bara sudah dipenuhi amarah. Tangannya yang menggenggam kedua tangan Rara, mengepal dengan sangat erat, membuat Rara kesakitan.


"Bukankah memang begitu kebenarannya? Kakak tidak pernah tulus padaku. Semua perhatian Kakak selama ini hanyalah sandiwara..." tuding gadis itu.


Bara tersenyum sinis, gadis ini benar-benar di luar dugaannya dan terlalu menguras emosinya. Entah apa yang membuat Rara tiba-tiba menjadi seperti ini.


"Apakah tidak ada sedikitpun kepercayaanmu padaku?" kata Bara dengan dingin. Sorot mata tajamnya kini kembali seperti dulu.


Rara membalas tatapan itu sejenak, tetapi langsung menghindar untuk menutupi kegugupannya. Kepalanya menggeleng samar sebagai tanda jawabannya.


Untuk yang kesekian kalinya Bara menghela nafas kasar, kemudian menghempas tangan Rara begitu saja. Pria itu paling anti dicurigai.


"Baiklah kalau itu keinginanmu." berdiri dari hadapan Rara.


"Kau memang benar-benar perempuan yang tidak tau terima kasih Rara! Sia-sia aku menurunkan egoku untuk bersikap baik padamu. Tetapi apa balasanmu? Kau menuduhku atas sesuatu yang tidak berdasar!" ucap Bara dengan sarkas.


"Bersiaplah menerima segala penderitaanmu!"


Kekejamannya kembali seperti dulu. Begitu sangar dan penuh aura intimidasi. Tentu saja Rara merasa ketakutan, ada setitik penyesalan karena dirinya telah membangunkan singa yang tengah tertidur. Namun hal ini lebih baik, daripada harus berpura-pura bahagia atas sandiwara pria itu.


Manik Bara dipenuhi amarah yang berapi-api, diiringi dengan deru nafasnya yang memburu. Sedangkan Rara hanya bisa menundukkan kepalanya sambil menangis tersedu-sedu.


Bara memilih pergi dari hadapan Rara, sebelum emosinya yang tidak terkontrol meledak, dan malah menyakiti gadis lemah itu.

__ADS_1


Tangis Rara semakin pecah begitu suara pintu kamar ditutup dengan kasar menggelegar di telinganya.


"Aku tidak gila..." teriaknya. Kedua tangannya menarik rambutnya yang terurai. Bahkan tidak peduli ketika rambut panjangnya telah rontok.


"Aku tidak gila..."


Rara terlihat begitu menyedihkan. Bagai hilang arah gadis itu memukuli kepalanya tanpa merasa sakit sedikit pun. Maniknya memancarkan luka yang menganga dengan begitu lebar. Tidak terobati luka sembiluh yang ditorehkan oleh orang-orang terdekatnya.


Mereka sangat kejam. Mereka tega memberikan penderitaan pada gadis malang tak bersalah itu. Lihatlah kondisi gadis itu saat ini. Sangat memprihatinkan.


"Aku ingin Ibu... Ibu... Bawa Rara pergi dari sini Ibu...." Rara masih histeris. Kuku tajamnya menggores habis kulit lehernya hingga menimbulkan bekas merah.


"Ibu..." Rara terpaku, ketika lagi-lagi bayangan Ibunya tertangkap oleh maniknya.


"Ibu..." berjalan tertatih menuju sosok yang sebenarnya telah lama berpulang pada sang Pencipta.


Rara hampir menggapai tangan yang sangat dia rindukan itu, namun sangat disayangkan, bayangan itu perlahan menghilang entah kemana.


"Ibu...." Rara kembali histeris. Langkahnya mengejar bayangan itu sampai balkon. Jika saja kakinya tidak tersandung kaki meja yang ada di sana, mungkin saja tubuh gadis ini sudah mendarat di atas tanah dengan mengenaskan.


Rara lelah. Raga dan jiwanya sudah lelah, begitupun dengan hatinya. Rasanya lebih baik mati saja daripada harus menahan derita yang tiada berkesudahan ini.


Ketika malam menyambut, Rara sudah berada di atas tempat tidur. Seragam sekolahnya sudah berganti dengan sepasang piyama longgar. Entah siapa yang menggantinya. Gadis itu tertidur begitu lelap di atas ranjang raksasa itu.


Bekas merah di lehernya, akibat cakaran kuku tajamnya menggores dengan bringas begitu kontras dengan kulit putihnya. Sungguh malang sekali, belum juga bekas di dadanya menghilang, kini bekas lain bertambah di tubuhnya.


Di ruangan yang sama, tepatnya di sisi kanan gadis yang tengah terlelap itu, Bara duduk sembari memegang tangannya. Maniknya begitu sendu, juga wajahnya menunjukkan kecemasan yang teramat terhadap gadis itu.


Penyesalan menggelayuti hatinya karena telah meninggalkan Rara setelah pertengkaran mereka. Harusnya dirinya tidak meninggalkan Rara sendirian di kamar ini. Harusnya dirinya tidak meninggalkan Rara yang tengah memiliki masalah dengan jiwanya. Beruntung gadis itu tidak sempat melompat besi pembatas balkon. Jika sampai hal itu terjadi, pria itu tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.


Saat itu juga, tangan kokohnya meremas beberapa kertas yang menjadi sumber kegundahannya. Berupa catatan medis tentang kesehatan kejiwaan sang istri yang sudah terlampau parah. Dan hal inilah yang membuat Bara tiba-tiba merubah sikapnya terhadap Rara.


Beberapa waktu setelah ulang tahun Rara, Bara mendapatkan fakta mengejutkan tentang Rara yang dia selidiki secara diam-diam. Bahwasanya Rara tengah menderita semacam penyakit mental, yang seringkali membuatnya histeris dan mengalami delusi. Terkadang melakukan sesuatu tanpa sadar, kemudian melupakannya begitu saja.

__ADS_1


Sebuah kebenaran yang mengejutkan. Bara hanya menuruti permintaan dokter psikiater yang pernah memeriksa Rara. Agar tidak lagi memberikan tekanan pada gadis itu. Karena jika semakin membuat Rara terpuruk, maka gadis itu bisa-bisa kehilangan kewarasannya.


Bara menyimpan dokumen hasil rekaman medis sang istri, kemudian menaiki ranjang, dan ikut bergabung di samping Rara. Menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapannya, lalu memberikan kecupan bertubi-tubi di wajah cantiknya.


"Tidurlah dengan damai sayang. Semoga besok kau baik-baik saja." bisik pria itu lirih.


Tanpa Bara sadari, ternyata gadis dalam dekapannya sudah terjaga sejak lama. Rara sadar ketika Bara menggenggam tangannya begitu lama dan juga ketika pria itu menciumi wajahnya.


Hatinya kembali sedih ketika mengingat pertengkaran mereka siang tadi. Dan juga mengingat seperti apa sebenarnya perasaan Bara terhadapnya. Semua itu membuatnya merasa sesak, hingga air matanya kembali mengalir.


Berat sekali beban yang dia pikul selama ini, membuat tangisnya pecah saat itu juga. Tidak ada tempatnya untuk bersandar dan sekedar berbagi keluh kesah, membuatnya linglung.


Punggungnya bergetar dalam pelukan Bara, yang tanpa sadar telah membangunkan Bara yang hampir jatuh dalam mimpinya. Pelukan itu semakin mengerat juga usapan di punggung mungilnya terasa nyaman.


Rara tersentak ketika menyadari Bara yang ternyata belum tidur. Awalnya Rara mengira Bara sudah tidur, membuatnya begitu lancang menangis di dalam pelukannya.


Rara hendak menarik tubuhnya, tetapi tertahan oleh lengan kokoh itu.


"Sst... menangislah jika memang itu bisa membuatmu merasa tenang." bisik Bara dengan suara baritonnya.


"Bersandarlah padaku setiap kau merasa gundah. Jangan memendam semuanya sendiri Rara." ucap pria itu lagi.


Entah Bara sungguh-sungguh atau tidak, tetapi satu yang pasti dia benar-benar membutuhkan sandaran saat ini. Tangisnya kembali pecah saat itu juga. Tangan mungilnya mencengkeram erat kerah piyama sang suami.


"Jangan tinggalkan aku Kak...." ucap gadis itu disela tangisnya.


"Tidak akan. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu." balas pria itu.


Beberapa saat Rara menangis, hingga lama kelamaan malah jatuh ke dalam tidurnya. Bara melonggarkan dekapannya, tetapi tidak mengurai jarak di antara mereka.


"Aku akan tetap bersamamu sayang. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu." bisik Bara tepat di telinga gadis itu.


Jemarinya tiada henti membelai rambut panjang Rara. Memberikan kenyamanan yang hanya bisa dirasakan oleh Rara seorang.

__ADS_1


TBC


__ADS_2