
Rara sedikit tenang ketika merasakan hembusan nafas Bara, meski rasa panas itu belum sepenuhnya menghilang. Pun dengan Bara yang sedikit lega melihat Rara sudah tidak kesakitan lagi.
Meski Rara sudah tidak kesakitan lagi, Bara tetao tidak berhenti menghembuskan nafasnya, dia tetap setia menunduk di atas dada gadis itu, sampai akhirnya Rara tertidur.
Bara menghentikan kegiatannya, tanpa menjauhkan wajahnya, pria itu memandangi wajah yang cantik yang terlihat pucat itu.
"Kenapa kau tidak mau mengatakan yang sebenarnya hmm? Sebesar itukah rasa takutmu pada mereka?" bisik Bara kemudian mendapatkan kecupan hangat di kening Rara.
Pria itu bangkit, lalu membuka jasnya dan melemparkannya ke sembarang arah. Terdengar ketukan dari luar kamar, yang ternyata adalah dokter keluarga Pramana.
Tidak butuh waktu dokter itu telah selesai memeriksa keadaan Rara. Dokter itu memasang infus karena keadaan Rara cukup lemah.
Kening dokter wanita itu berkerut melihat bekas pemasangan infus di pergelangan tangan Rara.
"Tuan, sepertinya Nona Rara sudah dirawat baru saja? Ada bekas pemasangan infus di pergelangan tangan Nona, Tuan." lapor wanita itu.
Meski Bara sedikit terkejut, dia tetap berekspresi sedatar mungkin.
"Berikan saja obat untuk lukanya." ucap Bara menghiraukan ucapan sang dokter.
Dokter itu menurut, kemudian mempercepat pekerjaannya, sebab berada di sekitar Bara, hawa terasa panas. Pria itu begitu mengintimidasi.
__ADS_1
Setelah selesai, dan menjelaskan apa yang harus dilakukan untuk menangani Rara, dokter pun pergi. Kini tinggallah Bara yang tengah sibuk mengompres kening Rara yang terasa panas. Ya, dari hasil pemeriksaan, ternyata Rara sedang demam. Tubuh gadis itu sangat panas ketika Bara menempelkan telapak tangannya di keningnya.
Pekerjaan Bara belum selesai, setelah selesai mengompres kening gadis itu, kini beralih mengolesi krim pereda rasa sakit akibat luka bakar, di dada mungil itu, dengan penuh hati-hati.
Begitulah malam ini dilalui oleh pria dingin itu. Melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukannya sebelumnya. Bara tetap terjaga, memperhatikan Rara. Jika Rara terusik akibat sakit di dadanya, Bara akan meniupnya sampai Rara tenang. Pria itu tidak membiarkan Rara menderita, bahkan Bara belum mandi dan masih mengenakan kemejanya.
Hingga pagi menjelang pun, Bara tetap terjaga. Pria itu tidur berbaring di samping Rara dengan tangan kanannya menopang kepalanya.
Pria itu tetap berekspresi datar ketika melihat manik gadis cantik di depannya mulai bergerak-gerak, akibat cahaya matahari yang masuk lewat celah gorden kamar. Rara membuka matanya, terdiam sejenak menatap langit-langit kamar.
"Kak Bara?" maniknya langsung menangkap wajah tampan di sampingnya. Gadis itu hendak bangkit, tetapi tertahan akibat rasa sakit di kepalanya. Rara kembali merasakan sakit di pergelangan tangannya yang ditempeli selang infus, yang tidak sengaja tertarik.
"Kenapa aku diinfus Kak?" tanya Rara yang berusaha menyembunyikan kegugupannya.
Namun Bara tidak menjawab, dan tetap seperti posisi sebelumnya, menatap Rara tanpa ekspresi.
Rara mengalihkan pandangannya, dia sudah terbiasa diabaikan seperti ini. Matanya membola melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh lewat. Dia sudah sangat terlambat pergi sekolah.
"Aku sudah terlambat." hampir saja Rara membuka paksa selang infus itu dengan paksa, tetapi langsung ditahan oleh Bara.
"Kau sudah bodoh?!" pria itu meninggikan suaranya.
__ADS_1
"A..aku harus siap-siap Kak, aku sudah terlambat."
"Kau akan pergi dengan kondisi seperti ini?!" kini Bara menatapnya dengan tajam.
Gadis itu tertegun, tak urung menyadari kondisinya yang begitu memprihatinkan. Ya, bagaimana dirinya pergi sekolah dengan keadaan seperti ini? Sampai sekarang pun, rasa panas di dadanya masih terasa.
Rara melemaskan badannya, dan menurut ketika Bara kembali membaringkannya di atas ranjang.
Bara turun dari tempat tidur setelah mendengar ketukan pintu kamar. Ternyata seorang pelayan yang telah diperintahkan untuk mengantar bubur untuk Rara.
Bara tidak membiarkan pelayan itu masuk, dan mengambil nampan bubur itu, membuat pelayan itu tercengang melihat Tuannya yang mau repot-repot melakukan hal itu.
Ada apa dengan Tuannya ini?
Bara segera mengunci pintu kamar, kemudian mendekati ranjang dengan sebuah nampan di tangannya.
Setelah meletakkan di atas nakas, pria itu beralih pada Rara yang masih terbaring. Entah apa yang ada dipikiran lelaki itu, hingga dengan lancangnya membuka bathrobe yang membungkus tubuh mungil Rara hingga ke pinggangnya.
"Kak..." Rara memekik kaget, dengan terburu-buru menutupi tubuh bagian atasnya yang sudah benar-benar polos.
Bara tidak menghiraukannya, dan tetap melakukan apa yang ingin dia lakukan. Pria itu langsung meraup tubuh Rara, dengan mudahnya membawa tubuh setengah telanjang itu menuju kamar mandi.
__ADS_1