
Rara berusaha menguasai dirinya ketika dengan jelas telinganya mendengar pengakuan sang suami akan dirinya. Rara tidak menyangka Bara akan memperkenalkannya di hadapan publik, mengingat bagaimana dulu pria itu mengancam dirinya untuk menutupi status mereka.
"Istri?" Tuan Max beserta istrinya tentu terkejut, pun dengan orang-orang yang ada di dekat mereka yang mendengar pengakuan itu seketika menatap Bara dan Rara bergantian.
Terlebih pada Rara, tatapan itu, tatapan tajam yang seolah menilai tampilan gadis itu dan membandingkannya dengan Bara. Walaupun tampilan Rara begitu memukau malam ini, tetapi mereka juga ingin tau latar belakang gadis itu. Apakah Rara terlahir dari keluarga terpandang dan sepadan bersanding dengan Bara?
Rara mempererat tangannya di lengan Bara, pun dengan tubuh yang menegang dapat dirasakan oleh Bara pada gadis di sampingnya. Tatapan mereka sangat mengintimidasi.
Bara mengusap punggung tangan Rara seperti tadi untuk menenangkannya.
"Benar Tuan Max, namanya Rara Pramana, kami menikah beberapa minggu yang lalu." jawab Bara dengan senyum manisnya seolah dia bangga memperkenalkan Rara sebagai istrinya.
Orang-orang itu masih belum sadar dari keterkejutannya akan sebuah fakta yang baru terungkap. Mereka belum percaya, Bara seorang pria yang tidak tersentuh sama sekali ternyata sudah menikah. Mengingat bagaimana dulu Bara selalu menolak mentah-mentah para wanita yang disodorkan dan menyodorkan diri padanya.
Bara mengabaikan reaksi mereka, kemudian membawa Rara ke panggung mini yang disediakan di ruangan itu, yang ternyata Dena juga ada di atas sana.
"Selamat malam semuanya..." tanpa disangka suara Bara menyadarkan para tamu dengan suara beratnya menggunakan mikrofon. Semua pandangan tertuju pada Bara yang masih setia memeluk pinggang Rara.
"Terima kasih sudah bersedia hadir dalam pesta perayaan adik saya Dena."
Lelaki yang sangat jarang berbicara di depan khalayak itu, tentu membuat orang-orang itu terkejut sekaligus terkesima melihat kharisma pria itu saat berbicara.
"Tetapi, sebelum memulai acara ini, saya ingin mengumumkan sesuatu." Bara tersenyum pada Rara dan semakin mempererat pelukannya di pinggang Rara.
__ADS_1
"Perkenalkan, wanita yang berdiri di sampingku, Rara Pramana. Dia adalah istriku yang baru kunikahi beberapa waktu yang lalu." ucap Bara dengan tegas.
Sontak pengakuan itu membuat ruangan itu menjadi riuh akan bisikan para tamu.
Bara mengabaikan keterkejutan mereka dan kembali berkata, "Sebenarnya pesta ini diadakan sekaligus untuk merayakan ulang tahun dari istriku yang juga sedang berulang tahun hari ini."
Kali ini Bara benar-benar tidak main-main memancing emosi seorang gadis yang ada di sampingnya. Dena, gadis itu sudah kalang kabut ingin menghancurkan Rara. Tetapi semua itu hanyalah angan-angan, sebab dia tidak bisa melakukan apa-apa saat ini.
Ulang tahunnya kali ini benar-benar kacau. Rara telah menghancurkan semuanya. Dulu semua orang bernyanyi selamat ulang hanya untuk dirinya, tetapi kali ini Rara yang dia anggap perebut kebahagiaannya juga ikut dinyanyikan oleh mereka.
Semua orang kini mengelilingi Rara dan Dena, dengan sebuah kue ulang tahun raksasa di depan mereka. Mereka menyanyikan berbagai lagi selamat ulang tahun untuk keduanya.
Rara, gadis malang yang belum pernah merayakan hari ulang tahunnya, tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya malam itu.
Air mata gadis itu tidak terbendung lagi ketika dia dan Dena berhasil memadamkan lilin-lilin di atas kue itu. Begitu lega rasanya, ketika akhirnya dia bisa merasakan hal yang sangat dia inginkan dari dulu.
"Ibu... lihat Rara, Rara merayakan ulang tahun Rara...." batin gadis itu penuh haru.
Acara selanjutnya adalah pemotongan kue untuk keduanya. Rara dan Dena kini sudah memegang pisau kecil untuk memotong kue. Setelah itu, mereka diberi kesempatan untuk memberikan potongan pertama pada orang yang mereka inginkan.
Rara menatap Derri, dia adalah orang yang paling dia sayangi diantara mereka semua. Sudah lama dia mendambakan momen seperti ini.
Dena yang melihat arah pandangan Rara, langsung mendekati Derri. Lalu menyuapkan potongan pertamanya pada pria tua itu.
__ADS_1
"Terima kasih Nak." ucap Derri. "Semoga kau selalu panjang umur dan diberi kesehatan."
"Terima kasih Ayah."
Dena sengaja mengulur waktu, agar tidak Rara tidak mendapat kesempatan, dan Rara tau itu. Gadis itu menatap sedih pada potongan kue yang akan diberikan entah pada siapa.
Pada Vina dan Safira, tidak mungkin. Bara? Rara tidak yakin pria itu mau menerima kue darinya.
Tetapi Rara salah besar. Sebuah tubuh besar nan kekar tiba-tiba berdiri di depannya. Menatapnya dengan senyum tipis di wajahnya.
"Sayang... apakah kau tidak ingin memberikanku satu potong saja?" ucap pria itu dengan mesra.
Tentu Rara terkesiap. Bibirnya menganga, tidak percaya akan ucapan pria di depannya ini.
"Sayang...." panggilan Bara menyadarkannya.
Rara mengangguk pelan, dan dengan tangan sedikit bergetar mengangkat satu potongan kecil kue hingga mendarat sempurna di mulut Bara.
Bara memakannya dengan senyum terus mengembang.
"Terima kasih sayang." tanpa disangka lagi sebuah ciuman mendarat sempurna di pipinya.
Wadah kaca di tangan Rara hampir saja terjatuh akibat ulah Bara. Pria itu melakukannya bahkan di depan banyak orang. Dan lagi, tepuk tangan dari para tamu undangan memenuhi ruangan akibat ulah Bara.
__ADS_1
Mereka berdecak kagum melihat bagaimana Bara memperlakukan Rara.