
'Begitu Rara turun dari mobil, gadis itu berjalan cepat memasuki rumah. Di kamar dia melempar tasnya sembarangan di atas tempat tidurnya. Lalu berjalan menuju lemari pakaian dan membukanya. Gadis itu sibuk mengacak-acak dan mengeluarkan hampir setengah isi dari lemari itu.
Setelah menemukan apa yang dia cari, Rara berjalan menuju ranjang dengan sebuah kotak di tangannya.
Rara membuka kotak itu, mengeluarkan sebuah kotak bekal yang sudah terlihat usang. Kemudian beralih mengambil kotak bekal yang dia temukan hari ini di laci mejanya.
Manik gadis itu berkaca-kaca ketika tau bahwa kotak bekal itu berasal dari orang yang sama.
"Dave...." lirih gadis itu.
"Kau tidak meninggalkanku...." menatap penuh kerinduan kotak bekal berwarna biru muda itu.
Dave, pria misterius yang selama ini menemani dan mengobati kesedihan si gadis malang bernama Rara. Setiap Rara mendapatkan makian dan penindasan dari teman-teman sekolahnya, hanya Dave-lah yang bisa menyemangatinya.
Sebuah kotak bekal berwarna biru muda itu akan selalu ada di laci mejanya di sekolah, juga dengan catatan memo di atasnya.
Mungkin kehadiran pria misterius itu fana dan tidak bisa Rara jangkau. Tetapi sedikit banyak pria itu memiliki pengaruh besar baginya. Semangatnya yang down akibat penindasan, seketika akan bangkit ketika membaca surat dari pria itu.
Empat tahun lamanya pria misterius yang Rara beri nama Dave, menjadi sahabat curhatnya. Belum pernah sekalipun Rara bertemu dengannya. Berbagai cara telah Rara lakukan agar bisa bertemu dengannya. Tapi nihil, Dave seperti tau pergerakan Rara.
Rara tersenyum bahagia, "Kau ingin menjagaku lagi ya." gadis itu bermonolog.
Mengingat pria misterius yang sudah dianggapnya sebagai sahabat. Rara memeluk hangat kotak bekal itu, berharap bisa bertemu dengan Dave.
***
Setiap hari Rara menjalani aktivitasnya dengan damai. Hanya saja kehadiran Mic membuatnya sedikit berbeda. Benar saja, selama di sekolah tidak ada satu orang siswa yang berani mengusik dirinya. Bahkan mereka terlihat sangat menakuti Rara. Ternyata memang benar Mic sangat ditakuti di sekolah ini.
Mungkin sebuah keuntungan bagi Rara. Berteman dengan Mic, setidaknya dia tidak perlu cemas akan menjadi korban buli lagi. Akhirnya dia mulai membiasakan diri menerima semua sikap Mic yang terkadang menyebalkan.
"Ayo naik." perintah Mic, agar Rara naik ke atas sepeda motor keluaran terbaru itu.
Rara menurut. Pun dengan ini, dia sudah terbiasa, karena seminggu mereka berteman, Mic memaksa untuk mengantarnya pulang, pun berangkat sekolah.
"Kau anak dari keluarga yang berada bukan?" tanya Mic, memelankan laju sepeda motornya.
"Iya." jawab Rara singkat, berusaha menahan tubuh agar tidak terlalu menempel pada punggung Mic.
"Tapi kenapa aku tidak mengenalmu? Siapa nama orang tuamu? Siapa tau aku mengenalnya."
__ADS_1
Tentu Mic heran. Rara tinggal di rumah mewah milik keluarga Derri Pramana. Tetapi kenapa Mic tidak tau, kalau mereka memiliki putri yang lain. Sudah menjadi hal biasa, para keluarga konglomerat di kota ini berkumpul dan saling bersila pada waktu yang sudah ditentukan. Dan Mic yang sering mengikuti perkumpulan itu, tidak pernah melihat Rara di sana.
"Apakah kau keponakan dari Paman Derri?"
"A...aku.. i..iya. Aku keponakan keluarga Pramana."
"Pantas saja. Lalu dimana orangtuamu tinggal?"
"Mereka ada di Indonesia. Kau tau Indonesia bukan? Sebelumnya aku tinggal di sana. Sampai akhirnya Paman Derri memintaku untuk bersekolah di sini saja, untuk menemani bibiku. Kau tau kedua putri Paman Derri sudah dewasa dan sering bepergian dari rumah, membuat bibiku kesepian di sana."
Rara terpaksa berbohong. Meski hatinya sakit, tapi jika dirinya jujur akan siapa jati dirinya yang sebenarnya, Rara takut itu akan menjadi masalah baginya kelak.
Memang sungguh miris. Dilahirkan dalam keluarga yang berada, tapi tidak seorangpun tau bahwa dia ada. Diabaikan, dikucilkan dan statusnya pun tidak jelas.
"Aku mengerti." Mic mengangguk paham.
Setelah sampai, Rara turun dari kuda besi itu. "Masuklah. Jangan berkeliaran."
Rara terkejut karena Mic tiba-tiba membuka helm dari kepalanya. Dan lagi, anak muda itu merapikan rambut Rara yang berantakan.
Usapan kecil di ubun-ubun gadis itu membuat Rara terpaku. "Sudah rapi. Masuklah. Aku pergi dulu."
"Tunggu."
"Ada apa?" Rara berbalik lagi.
"Sabtu malam, apakah kau punya acara?"
Entahlah, Rara tidak tau. Sikap Mic berubah hari ini. Dia lebih lembut dari sebelumnya.
Rara berpikir sejenak, "Sebenarnya tidak ada."
"Kita boleh bertemu malam itu?"
"Aku... aku tidak tau. Karena aku harus minta izin pada Pamanku."
"Baiklah. Aku mengerti. Tapi jika Pamanmu mengizinkan, kabari aku."
Rara hanya bisa mengangguk mengiyakannya.
__ADS_1
"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu." pria itu akhirnya pergi.
Setelah Mic pergi, Rara melanjutkan langkahnya memasuki pekarangan rumah mewah itu. Membawa pertanyaan akan ajakan Mic baru saja. Rara tidak tau, apakah Derri akan mengizinkannya atau tidak.
Baru satu langkah kakinya menginjak rumah, sebuah tubuh besar sudah menghadang langkahnya. Rara terpaksa berhenti, lalu mendongak melihat sosok itu.
"Kak Bara..." menatap pria itu, tapi sepertinya tidak ada lagi ketakutan di mata itu.
"Kau dari mana saja!" suara dingin yang itu menyentak gendang telinganya.
"Rara dari sekolah."
Mendengar itu, Bara menyipitkan matanya sambil memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya.
"Sekolah katamu?" pria itu menyeringai. "Kau sekolah atau apa? Beraninya membawa laki-laki asing ke rumah ini!"
"Laki-laki lain? Maksud Kakak yang mengantar Rara tadi?"
Bara hanya diam, terus saja menatap tajam manik sendu itu. Menyadari Bara yang salah paham padanya, Rara akhirnya mulai menjelaskan.
"Dia teman satu sekolahku Kak. Dia hanya mengantarku."
Semakin tajam saja tatapan Bara. "Mengantar? Bukankah di rumah ini disediakan supir untukmu?!"
"I..itu..."
Sudahlah, percuma saja membela diri. Karena apapun itu, Rara selalu salah di mata keluarga ini.
"Cukup! Jangan mengatakan apa-apa lagi. Kau memang selalu membuat ulah di rumah ini! Pergi dari hadapanku!" mendorong Rara dengan kasar dari hadapannya, membuat Rara hampir terjatuh.
Rara menggigit bibirnya dengan perasaan getir. Entah sampai kapan dia merasakan perlakukan seperti ini? Meredam semua perih di hatinya, Rara akhirnya melangkah pergi.
"Jangan sampai hal seperti tadi terulang kembali. Atau kau akan merasakan akibatnya!" sebuah ancaman yang sempat membuat langkahnya terhenti. Rara mencoba berlapang dada menerima semua ini dan tidak ingin menanggapinya lagi.
Setelah memastikan Rara sudah tidak ada lagi di sana, Bara membalikkan tubuhnya, masih sempat menangkap punggung Rara yang menghilang di balik pintu.
Pria itu menghela nafas berat, seraya mengambil ponsel dari kantong celananya.
"Awasi dia!" perintah pria itu pada seseorang di seberang sana.
__ADS_1