Gadis Lugu Milik Bara

Gadis Lugu Milik Bara
Kejutan


__ADS_3

Mata batin Dena benar-benar sudah tertutup oleh kebencian yang teramat dalam. Dia benci melihat anak yang pernah datang ke rumahnya tiga belas tahun lalu. Apalagi saat melihatnya tersenyum bahagia saat berbicara dengan orang-orang yang dia sayangi, membuatnya begitu murka.


"Apa yang Kakak lakukan?!" sentak Dena dengan kemarahan yang sudah di ubun-ubun melihat bunga kesayangannya hancur di atas lantai marmer itu.


"Berani sekali kau bicara dengan anak haram itu Fira!" geram gadis itu.


Safira diam berpikir sejenak, tetapi sesaat kemudian langsung menenangkan dirinya.


"Memangnya kenapa Kak. Apa ada yang salah jika aku bicara dengan Rara?" jawabnya santai dan itu membuat Dena tercengang. Bagaimana mungkin adik kesayangannya ini berkata seperti itu? Sangat sulit dipercaya.


"Safira?"


"Jangan bicara denganku Kak. Kau sudah menghancurkan bunga kesayanganku!" ucapnya ketus lalu meninggalkan Dena begitu saja.


Dena mematung melihat kepergian Safira yang sebelumnya tidak pernah seperti ini padanya. Apa yang telah terjadi?


"Hah, apa yang sudah kulewatkan?" geram gadis.


Dari jauh wanita itu melihat gadis yang amat sangat dia benci, sedang tersenyum bahagia dengan kesibukannya. Ingin sekali rasanya menghampirinya dan membuat perhitungan pada gadis itu. Tetapi dia tidak bisa sebab Bara sudah mengancam dirinya untuk tidak mendekati Rara. Hatinya begitu panas, bahkan lebih panas dari api neraka.


"Jika Kak Bara tidak mau meninggalkanmu, maka kau yang akan meninggalkan rumah ini!"


***


Bara memasuki kediaman keluarga Pramana dengan langkah lebar diiringi dengan senyum tipisnya. Pria itu begitu bersemangat, karena sebentar lagi akan bertemu dengan gadis yang selalu memenuhi pikirannya seharian ini.


Saat akan sampai di kamarnya, tanpa sengaja dia bertemu dengan Davina.


"Ibu..." sapanya kemudian mencium kedua pipi wanita yang telah merawatnya hampir sepuluh tahun lamanya.


"Sepertinya suasana hatimu sedang bagus?" ucap Davina yang keheranan melihat Bara tersenyum sepanjang jalan tadi.


"Begitulah." jawabnya singkat.


"Apa itu?" melihat paper bag yang ada di tangan Bara.


"Ini hadiah untuk istriku." jawab Bara jujur.

__ADS_1


Davina sejenak terdiam, ternyata tebakannya selama ini benar. Putra angkatnya ini sudah benar-benar jatuh cinta pada Rara. Harusnya dia marah akan hal itu, tetapi hatinya justru terasa bahagia. Membayangkan Rara mendapatkan cinta dari seseorang, membuatnya lega.


"Aku masuk dulu Ibu." pamitnya.


Davina mengangguk. "Semoga kalian selalu berbahagia." lirihnya melihat punggung lebar Bara menghilang di balik pintu.


Bara masuk ke dalam kamar, dan gadis manis nan cantik telah menyambutnya di sana.


"Sayang..." panggilnya pada Rara yang tengah duduk di meja belajarnya. Rara duduk membelakangi dirinya, tetapi Rara sepertinya tidak mendengar panggilannya.


Bara akhirnya mendekat, "Rara..."


Rara terkejut, gadis itu tergesa-gesa langsung menutup ponsel yang sedari tadi menjadi titik fokusnya.


"Kak... kau sudah pulang?" sapanya dengan wajah tegang.


"Kau sedang apa?" Bara tidak terlalu menampakkan wajah curiganya.


"Aku sedang memeriksa tugas yang Jessie kirim baru saja Kak." Rara berusaha terlihat santai.


"Kakak sudah makan?" Rara mendekat dan melakukan tugasnya seperti biasa.


"Apa itu Kak?"


"Buka saja."


Rara menurut dan melihat isi paper bag yang ternyata sebuah gaun yang indah.


"Gaun?" melebarkan gaun berwarna peach itu di udara.


"Hmm.. kau menyukainya?"


Rara langsung tersenyum, "Tentu saja Kak. Ini sangat cantik." maniknya berbinar penuh kebahagiaan dan itu membuat Bara senang.


"Pakailah."


"Sekarang?"

__ADS_1


"Aku ingin melihatmu memakainya." ujar Bara.


Rara mengangguk, kemudian pergi menuju ruang ganti. Tidak butuh waktu lama, gaun rancangan dari desainer ternama negara Prancis tersebut, melekat indah dan begitu sempurna di tubuh mungil itu.


"Cantik sekali." Rara berdecak kagum sambil berputar-putar di depan cermin. Setelah puas mematut dirinya, gadis itu keluar mencari Bara.


"Kak..." Bara sudah tidak ada di kamar.


Rara menelusuri kamar, tetapi Bara tidak ada di sana. Hingga pandangannya menangkap pintu balkon yang terbuka. Dia yakin Bara ada di sana.


Namun, sebuah pemandangan mengejutkan dirinya. Balkon sudah dihias secantik mungkin dan juga sebuah meja dengan menu set dinner di atasnya. Tidak lupa, ada banyak lilin yang menyala yang semakin menambah keindahan tempat itu.


"Kau menyukainya?" tiba-tiba sebuah hembusan nafas menerpa kulit lehernya. Diiringi dengan sepasang tangan melingkari perutnya.


"Kak..." tubuhnya menegang.


Bara membalik tubuhnya perlahan. Salah satu tangan Bara memegang sisi wajahnya lembut.


"Kau sangat cantik malam ini." pria itu menggodanya dengan senyum tipisnya. Dan tentu saja Rara menjadi malu.


"Lihat wajah ini, wajah ini selalu merona..."


"Kak..." Rara sungguh tidak tahan dengan godaan pria ini.


"Tapi aku sangat menyukainya." Bara mengambil kesempatan dengan mencuri kecupan di pipi yang tengah merona itu.


Seolah tidak puas, Bara menyentuh bibir ranum itu dengan bibirnya. Memberikan lum*tan yang perlahan menggoda gadis itu. Jika dulu Rara tidak pernah membalas ciumannya, kali ini di luar dugaannya. Rara secara perlahan membalas ciumannya.


Bara tau gadis dalam dekapannya ini tidak memiliki pengalaman dalam hal intim ini. Oleh karena itu, dia mengajarinya dengan perlahan. Dan tidak ingin tergesa-gesa.


Keduanya melepas tautan bibir mereka, manik mereka saling memandang penuh arti. Entah terhipnotis apa, bibir mereka saling menyambar lagi. Menyatu dengan cecapan yang tak terperi nikmatnya.


Bara mengusap sekujur punggung mungil itu, dan menikmati setiap belaian yang Rara berikan di tengkuk lehernya.


Gadis ini sudah menjadi nakal sekarang.


Keduanya melepaskan ciuman panas itu saat oksigen mulai habis, dan meraup pasokan udara sebanyak-banyaknya.

__ADS_1


"Kau sudah semakin pandai." Bara tersenyum menggoda yang membuat Rara semakin malu.


TBC


__ADS_2