Gadis Lugu Milik Bara

Gadis Lugu Milik Bara
Kencan (Part 2)


__ADS_3

Rara tidak bisa berkata-kata, sejak kalimat itu keluar dari mulut Bara. Ada apa gerangan? Apakah dunia sedang tidak baik-baik saja? Sehingga manusia paling dingin yang pernah dia kenal, mengajukan permintaan yang sangat jauh dari jangkauan pikirannya.


Rara berjalan di sebelah Bara, tangannya berada dalam genggaman tangan kokoh sang suami. Sedangkan maniknya terus memperhatikan Bara yang memimpin jalan. Rara tidak tau apa yang terjadi pada Bara, hingga dia menjadi sosok yang berbeda hari ini. Sejak dimana Rara menyambut uluran tangan Bara, sejak saat itu suaranya tercekat oleh rasa terkejut dan tidak percaya.


"Mau ice cream?" Bara berhenti, dan bertanya pada gadis yang belum sadar itu.


Rara menganggukkan kepalanya, "Emm..." jawabnya, sebab suaranya masih tercekat.


"Kalau begitu tunggu di sini sebentar." ucapnya lalu mendekati stan penjual ice cream di pusat perbelanjaan itu.


Rara masih berpikir ini adalah mimpi. Sore ini, dia melihat kulkas tiga pintu, rela mengantri untuk membeli ice cream untuknya. Sungguh pemandangan yang langka.


Tidak butuh waktu lama, Bara kembali dengan dua cup ice cream di tangannya. Bara memberikan ice cream rasa vanila dan stroberi untuknya.


Kening Rara berkerut, melihat ice cream kesukaannya di tangannya. Dari mana Bara tau dia suka rasa ini? Padahal hanya ibunya yang tau rasa ice cream favoritnya ini.


"Bagaimana Kakak tau aku suka ice cream vanila dan stroberi?" tanya Rara akhirnya.

__ADS_1


"Ini favoritmu?" Rara mengangguk, "Aku tidak tau itu. Aku hanya asal memilihnya."


Rara mengangguk paham, "Terima kasih Kak."


Bara mengambil tempat duduk di sebelah Rara. Kebetulan di dekat mereka adalah timezone dan banyak anak-anak bermain di sana. Keduanya memperhatikan keramaian sambil menikmati ice cream mereka.


Sedari tadi, Rara tersenyum melihat tingkah lucu anak-anak itu. Dan semua itu tidak luput dari pandangan Bara.


"Mau bergabung dengan mereka?" tawarnya.


"Sepertinya kau begitu senang melihat mereka?"


Rara tersenyum, "Tentu saja. Mereka sangat menggemaskan. Apalagi saat mereka merengek pada orang tua mereka." ucap Rara dengan tulus.


Karena dari dulu Rara memang sangat menyukai anak kecil. Bagi Rara, anak-anak itu masih polos dan lugu. Belum mengerti betapa kejamnya dunia ini. Selain itu, hanya anak kecil itulah yang mau menerima Rara apa adanya, tanpa memandang latar belakangnya.


"Kalau saja di rumah aku punya teman seperti mereka. Pasti akan sangat menyenangkan."

__ADS_1


Rara terbawa suasana, dia bahkan tidak sadar sedang bicara dengan siapa sekarang. Tetapi itu tidak menjadi masalah, karena sepertinya Bara juga tertarik dengan ceritanya.


"Kalau aku membawa salah satu dari mereka pulang ke rumah, apa yang akan kau lakukan?" tanya Bara penasaran.


"Aku akan mengajaknya bermain. Memasakkannya banyak makanan, dan banyak lagi hal-hal menyenangkan yang ingin aku lakukan bersama. Aku akan menjadi Kakak yang baik untuknya." ungkap hatinya. Sungguh indah ternyata impian gadis itu, tapi sayang mimpi itu tidak akan pernah terkabulkan.


"Kalau kau mau kau bisa memiliki anak kecil itu sendiri." ucap Bara.


"Hmm? Bagaimana caranya?"


Senyum tipis muncul di wajah pria itu, "Kau memiliki suami bukan? Kau bisa memiliki anak darinya." ucap Bara dengan gamblang.


Rahang mungil gadis itu terbuka. Otaknya butuh waktu untuk mencerna kalimat absurd pria itu. Begitu akal sehatnya menemukan maksud pria itu, wajahnya memerah.


Apa maksud Bara berkata seperti itu? Sungguh pria ini benar-benar membuatnya gila.


TBC

__ADS_1


__ADS_2