
Satu bulan berlalu, Rara menjalani kehidupannya dengan damai. Seperti biasa, Dena tidak lagi mengganggunya, membuatnya bisa bernafas dengan lega setiap hatinya. Tetapi ada sesuatu yang berbeda kali ini. Hari-harinya menjadi lebih berwarna sejak Bara mulai bersikap baik padanya.
Tidak ada lagi Bara yang galak dengan tatapan tajamnya. Dan tidak ada lagi aura intimidasi yang selalu membuatnya ketakutan.
Pria itu begitu manis padanya. Sikap hangatnya tanpa sadar telah menembus pertahanan hati gadis itu. Ya, Rara sadari apa yang telah terjadi pada hatinya, hatinya telah jatuh pada Bara. Meski sekuat apapun, tetap saja dirinya tidak bisa menolak pesona dari suaminya itu. Bahkan Rara menikmati semua perlakuan Bara padanya.
Tetapi, meskipun begitu, dalam hatinya yang paling dalam, masih tersimpan keraguan pada Bara. Rara masih belum yakin akan perubahan Bara terhadapnya.
"Kakak sudah pulang?" senyumnya mengembang begitu melihat lelaki yang baru masuk ke dalam kamarnya. Dengan langkah lebar, Rara menghampiri pria yang telah merentangkan kedua tangannya untuk menyambut dirinya. Dengan senang hati Rara menyambut pelukan itu.
"Bagaimana harimu?" sapa pria itu setelah melabuhkan kecupan hangat di keningnya.
"Cukup menyenangkan." menggantikan Bara membawa tas kerjanya, lalu berjalan seraya menggandeng lengan Bara. Keduanya berjalan dengan mesra menuju ruang ganti.
Seperti biasa, Rara akan melayani Bara, seperti membuka dasinya. Bara menggeser sebuah kursi kecil untuk Rara naiki, agar bisa menyeimbangi tubuh tingginya. Saat Rara fokus membuka ikatan dasi, Bara meletakkan tangannya di pinggang Rara. Rara sudah terbiasa dengan posisi ini, dan tetap melanjutkan kegiatannya.
"Kau terlihat cantik hari ini." puji Bara, dengan usilnya meniup wajah Rara yang mulai merona.
"Dari dulu aku memang cantik." jawab Rara dengan percaya dirinya, untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Heh, percaya diri sekali." mencapit hidung dengan Rara gemas.
"Bukan percaya diri Kak. Tapi memang kenyataan aku ini cantik."
"Sudah selesai. Kakak mandi dulu." ucapnya setelah menyelesaikan tugasnya.
"Tunggu dulu." Bara memegang liontin yang melekat indah di leher gadis itu. "Akhir-akhir ini, kau selalu memakai liontin ini?" ucapnya penuh tanya.
Rara menunduk, mengikuti pandangan Bara. "Ini... liontin ini pemberian Ayah Kak." jawabnya sedikit gugup.
__ADS_1
Bara mengangkat salah satu alisnya, "Ayah?"
"I..iya Kak. Ayah memberikannya sebagai kado ulang tahunku. Kakak tau sendiri, ini pertama kalinya aku merayakan ulang tahun dan mendapat kado ulang tahun. Jadi aku akan sangat menyukai apapun yang Ayah berikan." jelas Rara dengan segala kebohongannya.
"Benarkah?" Bara masih menampakkan wajah tidak percaya, dan Rara menyadari hal itu.
"Benar Kak." Rara meyakinkan dengan mengangguk cepat.
"Kalau begitu, boleh aku melihat isinya?"
Bara hendak membuka liontin itu, tetapi Rara langsung menghindar.
"Tidak boleh!" pekik Rara secara refleks.
"Ada apa?"
"Maaf Kak. Bukannya aku tidak mau, tapi Ayah mengatakan aku tidak boleh membukanya. Bahkan aku saja tidak tau apa isi liontin ini." jelas Rara dengan wajah memelas, sedangkan tangannya menggenggam erat kalung liontin itu.
"Maafkan aku Kak..." Rara merasa bersalah.
Bara tersenyum, meletakkan lengannya di leher Rara. "Tidak apa-apa. Itu adalah hakmu untuk memberitahuku atau tidak."
"Kakak tidak marah?"
"Untuk apa aku marah? Sudah, sekarang ayo temani aku mandi." menarik Rara dalam kungkunganya.
"Tidak mau!" Rara langsung melepaskan diri yang mana membuat Bara terkekeh. "Kakak menyebalkan!" mendengus kesal.
***
__ADS_1
Setelah menyiapkan piyama sang suami, Rara duduk berselonjor di atas ranjang. Sebuah buku pelajaran di tangannya dan satu toples camilan di atas pangkuannya. Gadis itu tengah bersantai sambil membaca bukunya, sembari menunggu Bara selesai mandi.
"Serius sekali." sapa Bara yang ternyata sudah berdiri di sebelahnya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Kakak sudah selesai?" Rara menyingkirkan buku dan toples camilannya, membiarkan Bara duduk di atas ranjang. Kemudian menggantikan Bara mengeringkan rambutnya.
Seperti biasa, setelah itu Rara memijat bahu Bara. Pijatan itu memang tidak berpengaruh sama sekali bagi Bara, tapi entah kenapa dirinya sangat suka Rara melakukannya.
"Apa yang kau lakukan setelah pulang sekolah?" tanya Bara sambil memejamkan matanya menikmati pijatan yang lebih mirip elusan di pundaknya.
"Tidak ada. Hanya belajar, menonton TV dan memetik bunga di taman belakang saja." jelasnya.
"Kau cukup sibuk."
"Begitulah Kak."
"Kau tidak kesepian?"
"Kenapa kesepian? Di rumah ini ada banyak pelayan bukan? Mereka selalu menemaniku Kak."
Bara menghentikan jemari Rara yang bergerak-gerak di bahunya. Pria itu dengan mudah mendudukkan Rara di sampingnya. Maniknya menatap manik gadis itu dengan dalam.
"Bukan itu maksudku."
"Lalu?"
Bara menyentuh dagu mungil itu, "Rara... kau tidak ingin mengubah suasana kehidupanmu?"
Sedangkan Rara malah bingung dengan pertanyaan itu. Rara membalas pria itu dengan penuh pertanyaan.
__ADS_1
"Apa maksud Kakak sebenarnya? Aku tidak perlu mengubah apapun Kak. Kehidupanku yang sekarang sudah lebih baik bagiku. Bahkan kehidupan ini sudah sangat sempurna bagiku. Aku tidak perlu mengubah apapun."
"Rara...." mengusap wajah gadis itu lembut. "Kau tidak ingin memiliki anak?"