Gadis Lugu Milik Bara

Gadis Lugu Milik Bara
Tidak Pantas


__ADS_3

Rara benar-benar ketakutan akan tatapan orang-orang itu. Kepalanya menunduk, sedangkan tangannya memeluk erat lengan Bara dengan gemetaran. Bara jelas merasakan kegugupannya, membuatnya hanya bisa mengusap tangannya untuk menenangkannya.


Bara menggeleng samar terhadap orang-orang itu, sebagai isyarat untuk mengakhiri tatapan mengintimidasi mereka.


"Siapa namamu?" tanya wanita tertua di ruangan itu.


Rara yang hanya menundukkan kepalanya mendongak, lalu melihat ke arah Bara. Bara mengangguk.


"Namaku Rara Nyonya..." jawab Rara dengan gugup.


"Nama yang bagus." entah itu pujian atau apa.


"Baiklah, kalau begitu mari kita mulai makan malam ini." ujar wanita itu. Nampaknya wanita itu enggan untuk memperkenalkan dirinya.


Baru Rara sadari, gadis muda yang tadi menggelayut pada sang suami, ternyata adalah wanita yang sama dengan wanita yang pernah dia temui di kantor Bara dan juga wanita dalam foto yang pernah Dena kirimkan padanya.


Siapa sebenarnya orang-orang ini? Rara sungguh penasaran.


Makan malam dimulai. Rara duduk di antara Bara dan seorang pria muda yang tidak dia kenal. Makan malam berjalan dengan hening. Sepertinya keluarga ini memiliki etika yang tinggi dalam makan.


Tidak lupa tatapan mereka masih saja mengintimidasi dirinya, membuat Rara tidak begitu menikmati makan malam ini.


***


"Sayang, wanita itu benar-benar istrimu?" cecar wanita paruh baya yang Bara panggil Mommy.


Ya, Beatrice, wanita yang ternyata adalah ibu kandung dari Bara. Seorang wanita yang kehilangan putra sulungnya dua puluh lima tahun lalu. Dialah Bara, bayi berumur satu tahun yang hilang entah kemana saat Beatrice dan sang suami sedang berada di supermarket. Hanya hitungan detik saja mereka mengalihkan pandangan dari bayi mereka, saat itu juga bayi itu raib entah kemana.


Selama dua puluh lima tahun mereka mencari Bara, hingga akhirnya bertemu beberapa bulan yang lalu. Entah bagaimana caranya mereka menemukannya, tapi ini adalah takdir.


Ternyata Bara memiliki adik perempuan yang satu tahun lebih tua dari Rara. Gadis yang pernah Rara temui beberapa waktu lalu.

__ADS_1


"Benar Mommy. Dia adalah istriku." jawab Bara tegas.


"Tapi dia masih muda. Mommy tidak yakin dia bisa menjadi istri yang baik untukmu sayang. Mommy sangat khawatir." cemas Beatrice.


"Mommy..." Bara tidak tau kenapa Beatrice berpikir seperti itu.


"Benar kata Mommy Kak..." Catherine, adik perempuan yang juga berada di dalam ruangan itu. "Dia bahkan lebih muda dari Cathy. Bagaimana mungkin bisa melayani Kakak dengan baik. Di umur seperti itu, Cathy yakin, dia masih sering bermain-main dengan teman-temannya." sanggah Catherine.


"Mommy... Cathy... Rara bukan gadis seperti itu." sanggah Bara.


"Nak...."


"Sudahlah Beatrice... Gadis itu sudah menjadi pilihan putra kita, apalagi yang kau permasalahkan." sebuah suara berat nan lemah menyahut percakapan ketiga orang itu.


Pria paruh baya yang tengah terbaring lemah di atas tempat tidur di ruangan itu.


"Tapi sayang..." Beatrice masih belum menerima nasihat sang suami.


"Sayang... kau tidak mengerti apa yang aku rasakan. Aku telah kehilangan putraku puluhan tahun lamanya. Aku tidak tau seperti apa kehidupannya selama ini. Dan setelah aku menemukannya, bagaimana mungkin aku mempercayakan anak kecil itu untuk mendampinginya." ucap Beatrice penuh kesedihan. Ternyata hal ini yang membuat wanita itu menjadi sinis terhadap Rara.


"Mommy..." Bara meraih tangan sang ibunda. "Cobalah untuk mengenal istriku lebih dalam lagi. Maka Mommy akan tau seperti apa dirinya. Dia adalah wanita paling sempurna bagiku Mom. Dan aku bahagia bersamanya. Bukankah Mommy akan bahagia jika aku juga bahagia?" jelas Bara meyakinkan sang ibunda.


"Bara benar sayang. Kenali dulu lebih dalam menantu kita. Lagipula, bukankah gadis itu juga anak bungsu Derry? Ingat sayang, Derry telah merawat Bara sejak orang tua angkatnya meninggal. Bukankah harusnya kita berhutang budi pada mereka?" jelas pria bernama Bernard itu.


Beatrice diam, tidak mampu menjawab ucapan sang suami dan Bara. Karena ucapan mereka benar adanya. Dirinya terlalu cepat menilai menantunya itu.


"Nak... tolong panggil istrimu kemari. Daddy ingin menemuinya." pinta Bernard pada Bara.


Bernard memang belum bertemu dengan Rara. Penyakit yang menggerogoti tubuhnya sejak satu tahun belakangan membuatnya kesulitan untuk berjalan. Hingga akhirnya dirinya hanya bisa beraktifitas di dalam kamar saja.


"Baik Daddy."

__ADS_1


***


Bara berjalan menyusuri rumah besar nan mewah itu. Mencari keberadaan sang istri yang dia tinggalkan bersama sepupu laki-lakinya. Tetapi Bara tidak menemukannya di sana, bahkan sepupunya itu juga tidak ada di sana.


Bara menelusuri seluruh ruangan di lantai dua tersebut. Bara takut terjadi sesuatu pada sang istri.


Hingga akhirnya Bara melihat siluet bayangan yang amat dikenalnya di balkon. Bara seketika panik dan berlari sekencang-kencangnya menggapai gadis itu.


"Rara..." teriak Bara, memeluk tubuh mungil itu dari belakang. "Apa yang kau lakukan? Jangan bertindak bodoh!" cecar Bara diiringi dengan deru nafas penuh kecemasan.


"Kakak..." terdengar suara Rara bergetar, gadis itu menangis.


Bara memutar tubuhnya menghadapnya. Melihat air mata Rara kembali menggenang, Bara mengurungkan niatnya untuk memarahinya.


Bara langsung menarik Rara ke dalam dekapannya. "Jangan bertindak sebodoh ini lagi Rara. Aku mengerti perasaanmu, tapi jangan bertindak bodoh dengan membahayakan nyawamu." bisiknya. Menghirup aroma tubuh Rara yang sangat memabukkan baginya.


"Apa yang Kakak katakan?" Rara mendorong Bara, "Kakak pikir aku mencoba bunuh diri?"


"Bukankah memang benar begitu?"


Rara memukul bahu Bara kesal. "Aku tidak sebodoh itu."


"Jadi kau tidak...?"


"Tentu saja tidak! Aku hanya menikmati pemandangan di sini." kesal Bara.


"Tapi kau menangis?" mengusap pipi yang masih basah oleh air mata.


"Aku... aku...."


Menarik kembali tubuh mungil itu dalam pelukannya "Maaf... Keluargaku tidak bermaksud apa-apa padamu..."

__ADS_1


TBC ☘️☘️☘️


__ADS_2