Gadis Lugu Milik Bara

Gadis Lugu Milik Bara
Hanya sandiwara


__ADS_3

Melihat bagaimana Bara memperlakukan Rara, Dena sudah terbakar api amarah. Hampir saja dia menarik Rara pergi dari tempat ini, jika tidak Safira yang menahannya.


"Jangan bertindak sembrono Kak. Nama baikmu akan tercoreng jika tidak bisa mengendalikan diri!" nasihat Dena pada sang Kakak.


Dena mendengus kesal, tangannya terasa panas ingin menyakiti adik tirinya itu.


"Baiklah, aku biarkan dia bersenang-senang, tapi awas saja nanti!" desis Dena penuh emosi.


Baru kali ini Rara merasakan dianggap keberadaannya. Teman-teman kolega Derri dan Bara menyapa dirinya dan bertutur kata padanya. Rara tau, semua itu tidak akan terjadi jika bukan karena statusnya sebagai istri dari Bara. Seandainya mereka tau bahwa dirinya hanyalah anak haram, Rara yakin orang-orang ini akan menjauhinya, atau yang lebih parah menghina dan merendahkannya.


Malam itu tidak ada yang mempertanyakan latar belakang Rara, karena tadi saat seorang kolega yang mempertanyakan hal itu, Bara menatapnya dengan tajam, menandakan bahwa Bara tidak menyukai pertanyaan itu.


Sudah cukup lama, tetapi pesta itu belum berakhir. Rara sedikit kelelahan setelah menyapa satu persatu para tamu undangan bersama sang suami.


Rara menutup mulutnya karena menguap, rasa kantuknya sudah menyerang. Pantas saja, sudah hampir pukul dua belas malam, padahal Rara tidak terbiasa tidur selarut itu. Rara tidak berani untuk kembali ke kamar, karena Bara pasti akan marah. Dia tetap menyunggingkan senyumnya pada para tamu undangan.


"Ayo!" ajak Bara, membawa Rara pergi dari kerumunan.

__ADS_1


Rara mempercepat langkahnya untuk mengimbangi langkah panjang suaminya.


"Kenapa kita pergi Kak? Pestanya belum selesai." ucap Rara yang kebingungan melihat Bara yang membawanya naik ke kamar.


Bara tidak berkata apa-apa, dan terus melanjutkan langkahnya hingga mereka sampai di kamar. Bara menghempaskan tubuhnya di atas sofa, kemudian memejamkan matanya.


"Kenapa kita meninggalkan pestanya Kak?"


"Aku lelah, aku ingin istirahat!" ucap pria itu tanpa membuka matanya.


Belum juga tangannya menyentuh kerah baju pria itu, Bara tiba-tiba membuka matanya.


"Apa yang kau lakukan?"


"Aku ingin membuka dasimu Kak. Bukankah kakak akan istirahat?"


"Ck. Menjauh dariku! Jangan ganggu aku!" ucap Bara ketus seraya mengibaskan tangannya agar Rara menjauh.

__ADS_1


Rara mencoba bersabar akan sikap Bara yang kembali seperti semula. Sekarang Rara sadar, bahwa apa yang Bara lakukan di pesta hanyalah pencitraan semata. Pria itu tidak benar-benar tulus.


Rara menghela nafas berat, lebih baik dia ganti baju saja dari pada terus memikirkan sakit hatinya.


Dengan wajah lelahnya Rara pergi ke ruang ganti, lalu mengganti gaun yang cukup berat itu dengan piyama kebesaran miliknya.


Sebelum itu, Rara mendudukkan bokongnya di atas kursi, kemudian membuka high heels yang menopang berat tubuhnya selama berjam-jam. Kakinya terasa pegal dan sedikit kram akibat terlalu lama memakai heels itu, apalagi Rara tidak terbiasa memakainya.


Setelah selesai, Rara kembali ke kamar. Di sana Bara masih duduk di sofa sambil memejamkan matanya.


Rara menatap lekat wajah yang terlihat dingin bahkan ketika tidur pun. Semua sikap pria itu padanya beberapa menit lalu, hampir membuat pertahanan hatinya runtuh. Tetapi setelah ini, Rara sadar diri, pria itu hanya berpura-pura baik padanya.


Dan Rara tau, Bara memiliki maksud terselubung padanya, meski tidak tau apa niat pria itu.


Setelah puas memandangi wajah sangar itu, Rara segera menaiki ranjang yang tidak jauh dari sofa.


Huh, empuknya busa ranjang, membuat tubuhnya lebih baik dari sebelumnya. Tidak butuh waktu lama, matanya mulai meredup. Tidur gadis itu semakin nyenyak, kala merasakan sentuhan lembut di pergelangan kakinya yang terasa sakit.

__ADS_1


__ADS_2